Tiga Menteri Panen Padi di Gresik

Gresik (Indoagribiz). Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, panen padi di Desa Tambakreja, Kecamatan Duduksampean, Gresik, Jawa Timur (Jatim), Jumat (12/3). Panen kali ini membuktikan bahwa pada Maret 2021 telah memasuki musim panen, sehingga tersedia stok beras dalam negeri.

Mentan Syahrul Yasin Limpo mengatakan, untuk antisipasi panen raya,  kepada provinsi dan kabupaten/kota melakukan gerakan di lapangan, dengan menggerakkan Kostraling di kecamatan sebagai ujung tombaknya. Komitmen yang kuat semua pihak yang terlibat di masing-masing tingkatan akan menjadi indikator keberhasilan pencapaian sasaran tanam padi, jagung dan kedelai.

“Pertanian itu harus dimulai dari hulu dan hilir, budidaya dan pascapanen, cara- cara terampil untuk menghilangkan kerugian serta mekanisasi pengolahan lahan,” kata Syahrul, dalam siaran persnya, di Gresik, Senin (15/3).

Mentan juga mengatakan,  salah satu bentuk kepedulian pemerintah pusat untuk mendukung swasembada pangan dengan memberi bantuan benih, bantuan alat mesin pertanian serta sarana dan prasarana lainnya (pupuk, jaringan irigasi). Pada tahun 2021 Kabupaten Gresik menerima bantuan benih padi  seluas 2.500 ha dan jagung 1.000 ha.  Bantunan ini untuk mendukung distribusi dan stabilitas harga pangan pada tahun 2021.

Menurut Syahrul, sinergi antara Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Kementerian BUMN harus terus dilakukan karena memiliki tugas dan fungsi yang berbeda. Saat dikolaborasikan dapat menciptakan kebijakan yang tepat guna dan tepat sasaran.Terkait dengan harga itu nanti ada di Kementerian Perdagangan.

“ Sehingga harus distrategikan. Sedangkan Kementerian BUMN akan menyerap hasil panen. Kita harus sama-sama pikirkan negara ini tidak boleh satu orang saja. Jangan cuma cari salahnya tapi kita lihat apa yang bisa kita lakukan bersama,” papar Mentan.

Syahrul menekankan pentingnya akselerasi sektor pertanian agar terus dilakukan dari hulu hingga hilir. Mulai dari budidaya benih dilanjutkan petik pada pasca panennya kemudian pengolahan hasil, packaging hingga penentuan marketplace yang tepat guna memasarkan produk sektor pertanian.

“Keseluruhan ini harus di koorporasikan dengan baik maka akselerasinya makin tinggi. Pertanian itu tidak pernah mengingkari janjinya sepanjang dilakukan dengan kerja keras pasti menghasilkan,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut,  Syahrul juga mendorong pihak perbankan untuk terus menggulirkan dana kredit usaha rakyat (KUR) kepada para petani guna menopang sektor permodalan. Kedepan diharapkan Kabupaten Gresik menjadi daerah yang mampu menjadi lokomotif hadirnya ketahanan pangan yang lebih baik.

“Menggulirkan dana di sektor pertanian adalah jaminan yang penting tidak salah management seperti tanam jagung sehatusnya di tanah tapi ditanam di aspal. Pasti tidak bisa tumbuhkan,” kata Syahrul.

Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah mengapresiasi atas kunjungan 3 pejabat negara ke wilayahnya.  Dikatakan,  pada tahun 2021 ini telah diprogramkan sasaran produksi padi sebesar 412.549 ton, jagung sebesar 166.322 ton dan kedelai 105 ton. Varietas Ciherang, Inpari 42 dan Inpari 32 yang paling umum digunakan petani saat ini.

Menurut Aminatun, provitasnya  padi yang ditanam petani cukup tinggi sekitar 6,4 ton/ha. Menghadapi panen raya ini, Pemda Gresik telah menyiapkan kostraling yang siap mengamankan harga gabah petani.

“  Ada RMU lokal punyanya Pak Latif dengan kapasitas 10 ton per hektar, juga tersedia dryer dan gudang. Kami harap bisa berperan untuk mengamankan harga padi di saat puncak panen raya ini,” ujarnya.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi mengatakan,  dalam operasionalnya, kostraling ini sudah mampu mengakses KUR. Sudah tiga tahap yang diambil. Tahap pertama Rp 500 juta sudah lunas. Kemudian,  tahap kedua Rp 350 juta sudah lunas juga dan tahap tiga dapat Rp 150 juta tinggal sisa pengembalian Rp 10 juta.

“Ini menunjukkan bahwa penggilingan-penggilingan ini bisa jalan dengan baik, mampu mekases KUR berkali-kali dan bisa meningkatkan kapasitasnya. Selanjutnya yang diperlukan adalah hilirisasinya. Perlunya menambah combine harvester, dryer, RMU, serta packaging beras,” pungkasnya. (ind)