Terdampak Banjir, Pembudidaya Terima Klaim Asuransi Rp 425 Juta

Jakarta (Indoagribiz). Asuransi Perikanan bagi Pembudidaya Ikan Kecil ( APPIK) yang digulirkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sangat bermanfaat bagi pembudidaya ikan yang terdampak banjir. Belum lama ini, sebanyak 55 orang pembudidaya peserta APPIK yang terdampak banjir di Indramayu menerima klaim asuransi sebesar  Rp 425.500.000.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, KKP, Slamet Soebjakto mengatakan, APPIK bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada pembudidaya ikan kecil terdampak bencana. Klaim asuransi ini diharapkan akan mempercepat pemulihan usaha budidaya paska bencana banjir, khususnya  di Kabupaten Indramayu.

Dikatakan, asuransi sebagai social security seperti diamanatkan dalam  Undang-Undang Nomor 7 tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam. Asuransi juga menjadi bagian tanggungjawab pemerintah yang selalu hadir di tengah-tengah pembudidaya ikan yang mengalami kerugian ekonomi akibat dampak bencana alam.

“ Salah satu yang disalurkan yakni klaim asuransi pembudidaya kecil di Kabupaten Indramayu dan secepatnya mereka kembali dapat berusaha lagi,”  ujar Slamet dalam siaran persnya, di Jakarta, Rabu (17/3).

Menurut Slamet, APPIK memberikan jaminan atas hilang atau rusaknya sarana pembudidayaan ikan antara lain benih/benur, pakan, pupuk, obat ikan, dan kolam/tambak yang menyebabkan kerugian atau kegagalan pada usaha pembudidayaan ikan. Kerugian atau kegagalan usaha yang ditanggung dapat disebabkan oleh beberapa faktor.  Diantaranya, bencana alam, yaitu kejadian tidak terduga yang disebabkan oleh perubahan kondisi alam antara lain banjir, tanah longsor, erupsi, gempa bumi, tsunami, dan angin topan.

Kemudian,  wabah penyakit ikan yaitu kejadian serangan penyakit ikan yang menyerang pada proses usaha budidaya. “Bantuan pembayaran premi APPIK termasuk salah satu kegiatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) akibat dampak Covid-19,” ujarnya.

Data KKP menyebutkan, hingga akhir tahun 2020 bantuan premi APPIK telah terealisasi untuk 29.388 orang pembudidaya ikan kecil di 30 provinsi. Sedangkan total luas lahan yang dilindungi asuransi sebanyak 37.989,56 ha.  Nah, untuk Kabupaten Indramayu pada tahun 2020 penerima bantuan pembayaran premi APPIK tercatat sebanyak 237 orang dengan total luas yang dilindungi asuransi seluas 377,7 ha. Lahan budidaya yang disuransikan itu diantaranya untuk pembesaran udang, bandeng, nila, dan lele, dengan masa pertanggungan sejak Desember 2020 sampai dengan Desember 2021.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono saat menemui pembudidaya di area tambak Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu (14/3/) mengatakan, kendatipun musibah banjir adalah bagian risiko yang tidak terduga, namun ia meminta masyarakat mesti tetap semangat. Menteri Trenggono memastikan KKP akan selalu memberikan jalan keluar yang terbaik melalui program-program social security seperti perlindungan usaha melalui asuransi.

Tasirin, salah satu petambak Losaran yang terkena dampak banjir mengatakan, kalau tambak yang dimilikinya gagal panen. Padahal, sebelum terkena banjir, tambaknya akan panen ikan size 5-6 dan udang dengan size 30-40. Hasilnya  kira-kira 8 kuintal untuk bandeng dan 2 kuintal untuk udang.

“ Namun, usaha budidaya ini gagal panen karena terkena banjir. Kurang lebih kerugian mencapai Rp 25 juta untuk ikan dan udang,” katanya.

Lantaran sudah menjadi peserta APPIK, Tasirin akhirnya dapat klaim asuransi. “Alhamdulillah dan terima kasih sekali kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan yang telah membantu petani tambak untuk klaim asuransi sehingga dapat memberikan keringanan bagi kami petambak kecil dan kami dapat membeli kembali benih ikan dan kami semangat kembali budidaya ikan dan udang,” pungkasnya. (ind)