Terancam Punah, KKP Selamatkan Populasi Ikan Terubuk di Selat Bengkalis

Jakarta (Indoagribiz)— Guna melindungi dan melestarikan Ikan Terubuk yang terancam punah, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menghimpun masukan dari berbagai pakar melalui diskusi  Pengembangan Konsep Penataan Kawasan Strategis Nasional Tertentu (KSNT). Diskusi tersebut digelar dalam rangka Pengelolaan Ikan Terubuk di Selat Bengkalis, Riau. 

Plt. Dirjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL), Hendra Yusran Siry mengatakan,  upaya melestarikan Ikan Terubuk tidak cukup dengan menetapkan status perlindungannya. Perlindungan ikan terubuk perlu mengintegrasikan dengan peraturan pemanfaatan ruang untuk perlindungan habitat dan wilayah sekitarnya.

“Melalui Peraturan Gubernur Riau Nomor 78 Tahun 2012, habitat Ikan Terubuk di Selat Bengkalis telah dijadikan suaka perikanan Terubuk dan Ditjen PRL telah menyusun Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Ikan Terubuk 2017-2021. Mengingat Selat Bengkalis merupakan jalur pelayaran yang sibuk, kebijakan penataan ruangnya perlu dikemas dalam bentuk Rencana Zonasi KSNT Selat Bengkalis,” kata Hendra, dalam siaran persnya, di Jakarta, Rabu (21/7).

Seperti diketahui, Ikan Terubuk atau Tenualosa macrura merupakan ikan primadona dan kebanggaan masyarakat Riau. Ikan tersebut terancam punah dan statusnya dilindungi secara terbatas sesuai Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 59 Tahun 2011 tentang Penetapan Status Perlindungan Terbatas Jenis Ikan Terubuk (Tenualosa macrura).

Sesuai  mandat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, Kawasan Strategis Nasional Tertentu (KSNT) merupakan kawasan yang terkait dengan kedaulatan negara, pengendalian lingkungan hidup dan/atau situs warisan dunia, yang pengembangannya diprioritaskan bagi kepentingan nasional. KSNT yang terkait dengan kepentingan situs warisan dunia dapat berupa cagar budaya nasional yang diusulkan sebagai warisan dunia atau warisan dunia yang alami.

Sementara itu, Direktur Perencanaan Ruang Laut, Suharyanto  mengatakan, dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2019 tentang Rencana Tata Ruang Laut, terdapat daftar lokasi yang perlu ditetapkan rencana tata ruang lautnya. Salah satunya adalah Selat Bengkalis yang merupakan lokasi perlindungan biota langka Ikan Terubuk.

“Ancaman kepunahan yang terjadi pada Ikan Terubuk di antaranya adalah tingginya aktivitas penangkapan yang berlebihan. Bukan hanya penangkapan Ikan Terubuk nya, tetapi juga masifnya pemanfaatan telur Ikan Terubuk,” kata Suharyanto.

Suharyanto mengungkapkan selain penangkapan yang berlebih, tingginya degradasi lingkungan yang terjadi pada habitat Ikan Terubuk juga menjadi ancaman lainnya bagi keberlanjutan biota tersebut.

Pakar perikanan Universitas Riau, Deni Efizon mengatakan, dari lima spesies Ikan Terubuk yang ada di dunia, tiga di antaranya ada di Indonesia yaitu Tenualosa macrura di perairan Bengkalis, Riau, Tenualosa ilisha di perairan Sungai Barumun, Sumatera Utara, dan Tenualosa toli di perairan Pemangkat, Kalimantan Barat. Hal tersebut sudah sepatutnya membuat keberadaan Ikan Terubuk menjadi warisan dunia alami yang harus dilindungi dari ancaman kepunahan.

Deni mengatakan,  perkembangan populasi Ikan Terubuk yang mengalami penurunan luar biasa pada tahun 2012 yang mengakibatkan nelayan semakin sulit mendapatkannya sebagai hasil tangkapan. Pada tahun 2020 terjadi peningkatan jumlah meskipun belum maksimal.

“Harus ada komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah, nelayan,  masyarakat serta pihak lain yang terkait untuk serius dan mendukung penyelamatan Ikan Terubuk,” pungkas Deni. (ind)

Sumber Foto. Dok : Humas Ditjen PRL