Tepung Ikan Lokal Siap Disertifikasi

Jakarta (Indoagribiz).  Tepung ikan berbahan baku lokal menjadi bagian penting dalam pengembangan produksi pakan ikan mandiri. Keberadaan tepung ikan ini akan mengurangi ketergantungan impor tepung ikan dan menjamin ketersediaan pakan ikan mandiri dalam usaha budidaya.

Guna mendorong dan menjamin penggunaan tepung ikan berbahan baku lokal, Ditjen Perikanan Budidaya segera menyiapkan sertifikasinya. Mengingat, pengembangan bahan baku pakan termasuk tepung ikan telah masuk dalam arah kebijakan dan strategi pakan tahun 2020 – 2024 melalui kebijakan penyediaan bahan baku di antaranya penyusunan rancangan standar nasional Indonesia untuk bahan baku pakan ikan.

” Kemudian penyiapan sertifikasi produsen bahan baku pakan ikan khususnya tepung ikan,” kata Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, dalam sebuah webinar, di Jakarta, Selasa (19/1).

Menurut Slamet, target produksi perikanan budidaya pada 2021  sebesar 19,47 juta ton. Dari jumlah tersebut sebanyak 7,92 juta ton adalah produksi ikan dan udang. Nah,  dari hitungan tersebut, ketersediaan pakan ikan diperkirakan mencapai 9,6 juta ton,  yang terdiri dari 1,8 juta ton pakan udang dan 7,8 ton pakan ikan.

” Apabila diasumsikan penggunaan tepung ikan sekitar 20% dari komposisi formulasi pakan udang dan 10% untuk komposisi formulasi pakan ikan, maka akan diperlukan sekitar 1,14 juta ton tepung ikan di pada 2021,” kata Slamet.

Menurut Slamet, untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus ada peningkatan produksi tepung ikan dalam negeri, baik secara kualitas maupun kuantitas.
Karena itu,  menggunakan tepung ikan lokal bersertifikat akan menjamin kualitas pakan yang dihasilkan. Penggunaan tepung ikan bersertifikasi dapat mendukung usaha perikanan budidaya ke depannya.

” Untuk itu, akan disiapkan sistem sertifikasi tepung ikan yang meliputi sertifikasi proses penangkapan ikan untuk bahan baku tepung ikan dan sertifikasi bahan baku tepung ikan,” kata Slamet.

Menurut Slamet,  jangan sampai karena ingin memproduksi tepung ikan lokal, ada eksploitasi sumber daya ikan dalam negeri seperti ikan rucah.  Sehingga, akan diatur bagaimana penangkapan ikan menggunakan alat-alat yang ramah lingkungan. Serta cara-cara penangkapan ikan yang diperbolehkan.

Dalam mendukung industri tepung ikan lokal untuk pakan ikan mandiri, lanjut Slamet, diharapkan stakeholder dapat bersama-sama bersinergi dan berkolaborasi dalam upaya penyediaan tepung ikan lokal untuk mendongrak produksi pakan ikan mandiri di Indonesia.

“ Stakeholder seperti perusahaan, asosiasi dapat memberikan masukan-masukan dalam bentuk butir-butir apa saja di dalam sertifikasi tepung ikan ini yang penting. Karena memang sudah cukup lama kami merencanakan sertifikasi khususnya tepung ikan untuk menjamin kualitas pakan mandiri,” papa Slamet.

Optimalisasi Produksi

Sementara itu,  Direktur Pakan dan Obat Ikan, Mimid Abdul Hamid mengatakan,  langkah ke depan yang segera dilakukan adalah pengembangan sistem sertifikasi tepung ikan nasional bisa berjalan dalam rangka mendukung optimalisasi peningkatan produksi tepung ikan nasional. Sehingga,  harus selalu bersama-sama dalam menyusun strategi penyediaan bahan baku pakan ikan nasional dan strategi penyediaan tepung ikan nasional, pendataan, dan pemetaan produsen tepung ikan nasional baik skala industri maupun rumah tangga serta dengan mengoptimalkan kapasitas produksi perusahaan tepung ikan nasional.

Menurut Mimid, pengembangan produksi tepung ikan nasional dalam rangka mendukung penyediaan tepung ikan nasional baik secara kualitas maupun kuantitas, akan mengurangi ketergantungan impor tepung ikan. Produksi tepung ikan berbahan baku lokal nantinya dapat menyerap tenaga kerja.

Dalam kesempatan yang sama Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Deny Mulyono juga mengatakan hal senada. Menurutnya,  komposisi tepung ikan yakni sebesar 8% untuk formulasi pakan buatan untuk ikan dan 17% untuk udang.

“ Pemenuhan bahan baku terutama untuk pemenuhan tepung ikan sebagai bahan baku pakan ikan sangat diperlukan,” ujarnya.

Kedepannya, diharapkan ada peluang pasar produk hasil budidaya Indonesia ke Eropa dan negara-negara lain telah melakukan sertifikasi terhadap produk-produk hasil budidaya yang masuk ke negaranya. Misalnya untuk udang, maka pakan yang diberikan pada udang itu harus tersertifikasi termasuk bahan baku yang digunakan

Sementara David Martin dari Sustainable Fisheries Partnership (SFP) mengatakan,  perikanan di Asia Tenggara menyediakan bahan baku pakan yang berasal dari laut dalam volume yang signifikan. Namun,  informasi mengenai datanya yang tersedia memang masih terbatas.

“Ke depannya sangat penting data informasi yang akurat tentang terkait reduction fisheries atau jenis komoditas perikanan yang dikhususkan untuk produksi tepung ikan agar peningkatan produksi tepung ikan nasional yang ditargetkan akan tercapai dan tetap berkelanjutan,” kata David.

David juga mengatakan, Indonesia memiliki potensi dalam produksi perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Sehingga ada peluang besar untuk mengeksplorasi sertifikasi by product dari perikanan tangkap dan budidaya yang digunakan untuk tepung ikan.

” Yang khusus dapat dijadikan sebagai bahan dasar untuk produksi tepung ikan seperti halnya ikan lemuru – Bali Sardinella,” pungkasnya. (ind)