Tembakau Virginia Lombok  Tetap Eksis Ditengah Pandemi

Lombok (Indoagribiz)—- Tembakau merupakan salah satu komoditas perkebunan yang  memilki nilai strategis. Selain memiliki daya saing tinggi,  tembakau berkontribusi terhadap perekonomian nasional secara signifikan,  menyerap tenaga kerja,  menjadi  pemasok pendapatan negara melalui cukai, serta menjadi sandaran hidup petani. Bahkan, ditengah pandemi covid 19 ini, petani Lombok  tetap bergairah tanam tembakau karena menjadi kebanggaan mereka.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), H. Ahmad Ripai mengatakan, di tengah pandemi ini, khususnya di Lombok, petani tembakau tidak puas apabila tidak tanam tembakau.

“ Kendati belum tentu ada pasar,  petani tetap komitmen dan rutin menanam tembakau karena merupakan kebanggaan petani. Kalau tidak tanam tidak gairah,” kata Ripai, di Lombok, Selasa (2/11).

Menurutnya, harga tembakau bervariasi berkisar Rp 26.000 –  Rp 41.000. Harga  tembakau sangat dipengaruhi atau tergantung pada warna dan posisi daun tembakau baik daun bawah, daun tengah maupun daun atas. Data Badan Pusat Statistik (BPS)  menyebutkan, ekspor komoditi  pertanian, khususnya sub sektor perkebunan berdasarkan kode HS periode Januari hingga Juli 2021, volume tembakau sebanyak 14,91 ribu ton . Nilai ekspor tembakau tesebut sebesar 111,34 juta US$.

Lantaran menjadi komoditas strategis, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkebunan  beserta pemerintah daerah berupaya membina pelaku usaha perkebunan, khususnya perusahaan perkebunan dan pekebun. Pembinaan ini diharapkan  mampu mendorong meningkatkan komoditas tembakau, yang bermutu baik dan semakin kuat berdaya saing di pasar global.

Menurut Ripai , sesuai Perda No. 4 Tahun 2006 tentang Usaha Budidaya dan Kemitraan Perkebunan Tembakau Virginia di NTB, salah satunya yang menyatakan perusahaan harus bermitra dan musyawarah harga dengan petani tembakau. Kemitraan ini  untuk membantu pelaku/kelompok usaha termasuk petani tembakau dengan berlandaskan azas keseimbangan dan kesinambungan yang menguntungkan. Kemitraan juga dimaksudkan untuk melestarikan tanaman tembakau komoditas unggulan di daerah yang mampu berkompetisi di tingkat nasional dan internasional.

Di NTB, tembakau virginia sebagai salah satu komoditas agribisnis perkebunan sumber perekonomian masyarakat yang sangat penting dan strategis. Agar usaha petani tembakau virginia ini berkesinambungan  diperlukan keselarasan tindakan bisnis antara pelaku usaha tembakau.

“ Dalam pengelolaan agribisnis tembakau perlu perlindungan hukum yang mampu menjamin kedudukan para pelaku usaha  sesuai dengan tuntutan dan perkembangan masyarakat,” ujar Ripai.

Tembakau dalam pengembangannya, tak dapat dipungkiri dihadapkan dengan berbagai tantangan. Salah satunya, masih adanya petani yang belum bermitra. Bagi petani yang belum bermitra kerap ditemui kendala atau permasalahan.  Saat panen tembakau, mereka kesulitan menjualnya. Apabila mau dijual ke perusahaan  juga tidak bisa, karena bukan binaannya. AKhirnya, mereka mencari pengumpul. Sayangnya, posisi tawarnya rendah dan harganya bisa dibawah harga pasar.

Menurut Ripai, selain sejumlah kendala yang menjadi tantangan, untuk keberlanjutan usaha ini adalah  penguatan SDM petani tembakau, khususnya penerus petani tembakau. Memang, untuk budidaya sudah bagus, petani tembakau sudah menggunakan benih unggul dan pupuk.

“ Sekarang, perlu kita fokuskan terkait regenerasinya, perlu kita berikan pemahaman budidaya tembakau kepada penerus petani tembakau atau SDM petani tembakau milenial, perlu didorong semangatnya,” katanya.

Komoditas Unggulan

Tim Ditjen Perkebunan Kementan didampingi Kepala Bidang Perkebunan dan Kepala Seksi Produksi pada bidang perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi  NTB mengunjungi lokasi tembakau. Kunjungan  bertepatan panen tembakau, di Kabupaten Lombok ini cukup menggembirakan.

Sebelum ke kebun tembakau, tim berkeliling ke dalam area gudang tembakau milik PT. Djarum. Ada beberapa aktivitas yang sedang dilakukan di gudang tembakau. Beruntung tim datang saat musim panen tembakau tiba, sehingga dapat melihat proses aktivitas pengolahan hingga pengiriman bahan baku tembakau.

Kepala Seksi Produksi pada Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Barat, Suherman, S P mengemukakan,  di Lombok ini memiliki komoditas tembakau unggulan berupa tembakau Virginia yang dikembangkan di 3 daerah, yakni Lombok Utara, Tengah dan Selatan. Tembakau ini diolah melalui proses oven dan dirajang.

“ Kurun dua tahun ini tembakau virginia ada juga yang dirajang. Kalau yang dipasok ke PT Djarum  hanya  tembakau yang diproses melalui proses oven. Harga tembakau yang dirajang maupun dioven bervariasi,  beda-beda harganya, tergantung gradenya,” ujar Suherman, SP, saat meninjau gudang milik Perusahaan PT Djarum.

Deputy Purchasing Manager Tobacco Lombok, Perusahaan PT Djarum, Agung Sofani, dalam kesempatan tersebut menyampaikan  tahapan atau proses pengiriman bahan baku tembakau, termasuk aktivitas transaksi buying point dengan petani, prosedur reklasifikasi, dan lainnya, sambil mengelilingi gudang tembakau milik PT Djarum.

Lantaran sudah bermitra dengan petani tembakau, PT Djarum memberi jaminan untuk membeli tembakau petani dengan harga yang telah dimusyawarahkan.   Bahkan, PT Djarum memperbolehkan negosiasi dalam transaksi jual beli. Apabila petani tidak setuju dengan harga, petani boleh menurunkan barangnya.

“  Karena buyer membeli sesuai dengan kaidah grading. PT Djarum komitmen mengusahakan agar setiap proses transaksi itu transparan. Karena kita kan kemitraan fokusnya, selain saling menguntungkan, kita juga transparan dalam bertransaksi,” kata Agung.

Agung mengatakan, untuk kontrak kerjasama per total kiriman, kontrak kuota targetnya 1 ha sebanyak  2 ton kering. Biasanya, tembakau tersebut dikirim  mulai  Agustus pertengahan sampai November  dalam satu  proses pembelian.

“  Kalau dilihat dari kalender kita, diperkirakan tanaman habis di bulan Oktober 4. Berarti, pengiriman di bulan November 1 maksimal, sekitar 7 sd 10 hari,”ujarnya.

Setelah aktivitas transaksi buying point dengan petani selesai, kemudian lanjut masuk ke proses reklasifikasi, berupa proses penyeragaman, baik penyeragaman dari posisi, karakter warna, pengecekan kelembaban, pengeluaran bahan campuran, maupun kualitasnya.  Hal itu dikarenakan, pada saat pembelian ada kalanya belum seragam penuh.

“ Pada tahap reclass ini diseragamkan, sehingga dalam satu bal yang terbentuk di reclass grade nya sudah sama, untuk menjaga kualitas dan seragam yang akan dikirim ke kudus,” ujar Sudiyatmono, Deputy Purchasing Manager – Reclass.

Lebih lanjut, Agung mengatakan, di tingkat petani, biasanya sudah mencantumkan stiker identitas bal-balnya, dari mulai kode petani sama jumlah bal. Setelah itu pembelian akan mendapatkan stiker grid barcode. Selanjutnya, baru masuk ke reclass akan di reklasifikasi, apakah gradenya sudah sesuai atau belum.

“ Final check, yang akan dibaca di pabrik kudus adalah hasil dari grade reklasifikasi ini,” ujar Agung.

Di tahap reclass ini dipastikan barang yang dokirim ke perusahaan sesuai dengan gradenya, final checking sebelum di kirim ke kudus. Apakah pembelian sudah sesuai dengan gradenya akan menjadi penilaian buyer, apakah sudah tepat 90% atau 80%.

“ Karena kita inginnya kontinue, menjalin kerjasama yang baik dengan petani. Untuk anggota binaan mitra PT. Djarum tahun ini ada sebanyak 725 petani, terbagi atas 3 kategori yaitu ada status petani kredit, petani teknis dan petani pasar,” katanya.

Menurut Agung, untuk petani kredit, perusahaan biasanya memberi fasilitas berupa saprodi, mulai dari benih pembibitan, pupuk, sampai bahan bakar untuk proses pengovenan dengan kemiri.  “Mereka juga mendapatkan pembinaan teknis. Jadi setiap petani punya pendamping lapang dari PT Djarum,” ujar Agung.

Kemudian, untuk petani teknis, hanya mendapatkan pendampingan teknis dari perusahaan. Selain informasi tentang kualitas yang PT Djarum inginkan, petani juga mendapatkan bimbingan teknis seperti layanan konsultasi kesehatan tanaman atau informasi penanganan penyakit tanaman.

Sedangkan untuk status ketiga, petani pasar, hanya mendapatkan informasi kualitas yang PT Djarum inginkan. “ Pasar pun ada dua,  yaitu pasar yang penanam dan pasar yang mencari barang sesuai dengan  Djarum inginkan,” katanya.

Menurut Agung, total lahan dari ketiga status petani tersebut sekitar 2.000 ha, dengan volume tembakau  sebanyak 4.000 ton. “Pastinya, PT Djarum sangat concern terhadap kualitas produknya, karena kita perhatikan konsumen kita,” ujar Agung.

Hendra selaku petani tembakau Kelompok Tani Ketidak DIRIK,   Desa Padamara, Kec. Sukamulia Kab. Lombok Timur, mengatakan, telah bermitra dengan  PT Djarum sejak tahun 2017. Karena sudah melakukan kemitraan, tembakau yang dipanen di masa pandemic covid 19 tak terlalu banyak terdampak. Produksi tembakau masih berjalan. Bahkan, produksi tembakau Virginia yang ditanamnya sebanyak 2 – 2, 5 ton/ha (kering), dengan harga  rata-rata Rp 30.000 per kg.

“ Kalau harga memang  berbeda-beda sesuai karakter tembakaunya. Kami bermitra dengan PT Djarum dikasih pupuk, obat-obatan, cangkang kemiri dan lainnya. Selama saya bermitra dengan PT Djarum saya merasa puas. Harapan kami semoga hasil produksi petani diserap semua,” papar Hendra.

Menurut Hendra, karenaa ada kenaikan cukai rokok tahun ini, perusahaan harus menyesuaikan. Diharapkan, harga pasar tembakau akan lebih baik lagi. Kedepannya,  petani tidak merasa tertekan dengan harga akibat kenaikan cukai rokok ,  karena hal tersebut akan sangat mempengaruhi kehidupan para petani.

Salah satu tim  Ditjen Perkebunan, Togu Rudianto Saragih, selaku Perancang Peraturan Ahli Muda, Ditjen Perkebunan Kementan mengemukakan,  pemerintah, khususnya Kemantan melalui Ditjen Perkebunan membuat peraturan, norma standar, kriteria dan prosedurnya.

“ Untuk bisa impor tembakau ada Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 23 Tahun 2019 tentang Rekomendasi Teknis Impor Tembakau. Salah satu persyaratannya harus menyerap tembakau petani. Harapan bapak sebenarnya sudah diakomodir pemerintah, semoga pemerintah kedepannya semakin intens membantu petani,” ujar Togu Rudianto Saragih.

Togu juga mengatakan, kedepannya perlu ditingkatkan lagi sinergi dan selaras antara pemerintah pusat, daerah, pelaku usaha perkebunan termasuk petani maupun kementerian/lembaga terkait. Selain itu, perlunya sosialisasi terkait informasi perkebunan termasuk regulasi perkebunan.

“Sehingga, pengembangan komoditas perkebunan dapat semakin meningkat, berkualitas  dan berdaya saing di pasar global. Serta generasi muda dapat tertarik terjun mengembangkan tembakau termasuk komoditas perkebunan lainnya. (dap/Humas Ditjen Perkebunan)

Sumber Foto. Dok: Humas Ditjen Perkebunan