Tekan Pengangguran, Kementan Kembangkan 1.000 Kampung Hortikultura

Jakarta (Indoagribiz).   Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura  Kementerian Pertanian (Kementan) komitmen menggenjot produksi hortikultura. Guna mendorong produksi dan menekan angka pengangguran, Ditjen Hortikultura Kementan akan mengembangkan 1.000 kampung komoditas hortikultura pada 2021.

Dirjen Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto mengatakan, 1.000 kampung hortikultura tersebut termasuk yang sudah dikembangkan sebelumnya (eksisting). Selanjutnya, kebun-kebun atau kampung tersebut akan diregister untuk database pengembangan komoditas hortikultura.

“ Selain menggenjot produksi, langkah ini bertujuan menekan angka pengangguran melalui pembukaan lapangan kerja produktif sekaligus menggerakkan perekonomian desa,” kata Prihasto Setyanto, di Jakarta, Jumat (22/1).

Prihasto Setyanto, mengemukakan,  kebijakan tersebut disusun sesuai mandat Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL), yang berkeinginan sektor agraria terus tumbuh sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekalipun saat pandemi.

“Melalui program 1.000 kampung hortikultura, kami ingin masyarakat tetap produktif sehingga mengurangi keterpurukan ekonomi lebih dalam saat pandemi,” ujar Anton, begitu sapaan akrab Prihasto Setyanto.

Menurutnya, kegiatan ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi hortikultura domestik serta tersedianya bahan baku industri terkait dan produk keperluan ekspor. Nah, untuk merealisasikannya harus   dengan mengonsolidasikan usaha tani pada suatu kampung agar menjadi kawasan ala korporasi dan dikerjakan dengan gotong- royong.

“  Kalau ini terwujud, tentu bakal mendorong lahirnya UMKM hortikultura yang membutuhkan tenaga kerja ekstra dan akan menggerakkan perekonomian kampung itu sendiri,” katanya.

Selain UMKM, menurut Anton, program 1.000 kampung hortikultura akan mendorong munculnya agroeduwisata baru, berupa tren pariwisata yang tengah “naik daun”.Artinya, 1.000 kampung hortikultura  ini  kedepannya sangat prospektif mendorong perkembangan hortikultura di daerah.

Agar program tersebut berjalan dengan baik, Ditjen Hortikultura Kementan akan menerapkan  budi daya yang baik (good agricultural practices/GAP), pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) sesuai pengelolaan hama terpadu (PHT) dan dampak perubahan iklim (DPI). Ditjen Hortikultura Kementan pun akan memedomani sanitary and phytosanitary (SPS). Tujuannya, agar produk yang dihasilkan sesuai permintaan pasar dan memenuhi persyaratan ekspor.

“Itu semua bakal kami dorong penerapannya secara holistik, dari on farm hingga off farm,” jelas eks Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah (BPTP Jateng) ini.

Anton juga mengatakan, untuk k meningkatkan minat masyarakat bergerak di sektor agraria, pihaknya akan memberikan berbagai intensif. Diantaranya,  mulai dari aspek budi daya, pengendalian OPT, pasca panen, hingga pengolahan.

“Kami juga akan membantu proses registrasi lahan usaha masyarakat hingga memfasilitasi akses permodalan atau KUR (kredit usaha rakyat), mekanisasi, pengairan, kelembagaan, dan pemasaran,”papar Anton.

Nah, terkait pemasaran, Ditjen Hortikultura Kementan sudah mendirikan e-commerce di hortitraderoom.com. Melalui e-commerce ini publik dapat membeli berbagai produk komoditas hortikultura yang dikembangkan secara baik dengan harga terjangkau karena langsung dari petaninya.  “ Dengan demikian, petani dan pembeli mendapatkan manfaat secara maksimal,” pungkasnya. (ind)