Taman Mangrove Pulo Tabek, Destinasi Wisata di Tanah Singkil

Jakarta (Indoagribiz).   Mangrove tak hanya berfungsi sebagai konservasi kawasan pesisir. Mangrove yang dipelihara dengan bagus akan menjadi destinasi wisata. Salah satunya adalah Taman Mangrove Pulo Tabek di Desa Gosong Telaga Selatan, Kecamatan Singkil Utara kini menjadi daya tarik wisata baru di Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh.

Taman mangrove yang dibangun Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan menjadi Pusat Restorasi dan Pengembangan Ekosistem Pesisir (PRPEP) di Tanah Singkil.

Dirjen PRL TB Haeru Rahayu mengatakan PRPEP merupakan lokasi yang diarahkan sebagai pusat pemulihan dan restorasi ekosistem pesisir sekaligus dikembangkan menjadi sarana edukasi, penelitian, dan laboratorium alam.

“PRPEP adalah tempat pembelajaran bagi masyarakat untuk mengenal fungsi dan manfaat ekosistem pesisir serta upaya restorasinya. Selain itu juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar melalui ekowisata,” kata Tb Haeru, di Jakarta, Jumat (22/1).

Menurut Tb. Haeru, sejak tahun 2015, KKP telah memberikan bantuan pemerintah berupa bangunan sarana dan prasarana di kawasan yang potensial untuk pengembangan PRPEP. Pada  tahun 2020, pembangunan PRPEP disandingkan dengan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Padat Karya Rehabilitasi Kawasan Mangrove dengan merangkul masyarakat dalam pembangunannya.

“Pemberdayaan seluruh elemen masyarakat, baik langsung dan tidak langsung diharapkan mampu mengangkat perekonomian masyarakat di masa pandemi Covid-19 serta pasca pembangunan nantinya,” kata Tb Haeru.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Padang, Mudatstsir mengatakan, pembangunan PRPEP berupa selasar (tracking) mangrove di Aceh Singkil merupakan stimulan awal yang dilengkapi beberapa fasilitas, dengan harapan untuk dikembangkan.

“KKP beri pancingan, nanti dikembangkan semakin besar membantu masyarakat. Saat ini, tracking mangrove Aceh Singkil telah dilengkapi fasilitas 2 gazebo, menara pandang, lampu tenaga surya, loket masuk, toilet serta gapura sebagai landmark wisata di kawasan tersebut,” kata Mudatstsir.

Hal senada juga diungkapkan Chazali dari Dinas Perikanan Kabupaten Aceh Singkil. Menurut Chazali, peran mangrove untuk ekosistem pesisir baik secara ekologis maupun ekonomis. Salah satu pemanfaatan yang dapat dilakukan dengan adanya mangrove di lingkungan kita ialah ekowisata.

Selain bermanfaat sebagai penahan sedimen, mangrove dapat digunakan sebagai sarana wisata berbasis lingkungan yang apabila dikelola dengan baik akan mendatangkan manfaat besar bagi masyarakat di sekitarnya,” kata Chazali pada Sosialisasi Tahap Akhir Pembangungan Tracking Mangrove Aceh Singkil pada akhir tahun lalu.

Sementara itu, Ketua Kelompok Pengelola Tracking Mangrove Aceh Singkil Wandrimenyampaikan terima kasih atas bantuan KKP dan berkomitmen akan mengoptimalkan tracking mangrove di Aceh Singkil.

“Kami berterima kasih atas bantuan yang telah disalurkan KKP. Kami akan jaga dan kelola serta manfaatkan tracking mangrove ini sesuai ketentuan yang telah disampaikan,” kata Wandri.

Selain susur mangrove menggunakan tracking mangrove, kelompok juga berencana hendak menggalakkan penanaman mangrove dan pembibitan mangrove, serta kegiatan konservasi lain khususnya mangrove di Tanah Singkil yang juga disebut Singkel ini. Kegiatan diharapkan bisa melibatkan masyarakat hingga wisatawan untuk melestarikan alam. (ind)