Sugentan, Varietas Kedelai Masa Depan

Jakarta (Indoagribiz).  Awal Januari 2021 masyarakat sempat dikejutkan dengan langkanya tahu dan tempe di pasaran. Pemicu langkanya makanan rakyat ini disebabkan produsen tahu dan tempe untuk sementara tak berproduksi karena tingginya harga kedelai.

Lantaran bahan baku tahu dan tempe masih impor,  produsen makanan rakyat ini kerap kali masih menghadapi kendala ketika terjadi lonjakan harga. Nah, untuk mengatasi kelangkaan kedelai, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) telah menciptakan benih kedelai super genjah yang bisa ditanam petani.

Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan mengatakan, dua varietas kedelai unggul besutan BATAN diberi nama Sugentan 1 dan Sugentan 2. Sugentan kependekan dari Super Genjah BATAN , yang merupakan varietas kedelai hasil perbaikan dari varietas Argomulyo.

Menurut Anhar, varietas kedelai ini diharapkan mampu  menjadi salah satu upaya mengatasi kelangkaan kedelai di tanah air. ” Kurangnya pasokan kedelai akan memicu naiknya harga kedelai di pasaran sehingga berdampak pada produksi makanan berbahan baku kedelai,” ujar Anhar, dalam konferensi pers secara virtual, di Jakarta, Kamis (14/1).

Kedelai merupakan salah satu bahan pangan yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat. Bahkan, kedelai terkait erat dengan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia, yaitu tempe, tahu, dan kecap.

Anhar mengatakan, kelangkaan kedelai ini menjadi hal yang serius dan perlu dicarikan
solusinya sesegera mungkin. Apalagi kenaikan harga kedelai ini dikarenakan naiknya harga kedelai impor.

” Apalagi kebutuhan kedelai nasional saat ini, sebagian besar dipenuhi melalui impor,” ujarnya.

Menurut Anhar,  sebagai lembaga penelitian, BATAN melihat hal ini menjadi momentum untuk kembali menguatkan program swasembada kedelai secara nasional.  Nah, untuk menuju ke swadaya kedelai harus tersedia benih unggul dan lahan. Tentang harga kedelai perlu dicarikan solusi oleh semua kementerian dan lembaga yang terkait.

Menurut Anhar, BATAN telah berkontribusi dalam penyediaan benih unggul  kedelai. Setidaknya  sudah 14 varietas unggul benih kedelai yang dihasilkan BATAN. Dari varietas kedelai tersebut  sebagian besar telah diperkenalkan kepada para petani melalui program pendayagunaan hasil litbang iptek nuklir yang bekerja sama dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi.

“Varietas unggul kedelai BATAN dihasilkan melalui  proses yang memanfaatkan radiasi gamma. Pengembangan produksi varietas unggul baik padi dan kedelai menjadi salah satu program prioritas BATAN,” katanya.

Diharapkan,  varietas benih unggul kedelai hasil mutasi radiasi gamma yang
dihasilkan BATAN dapat dijadikan varietas yang dimanfaatkan secara nasional.

Meski telah disiapkan benih kedelai unggul,  persoalan peningkatan produksi kedelai tidak hanya ditentukan
oleh jenis varietasnya saja. Namun, dipengaruhi oleh faktor lain seperti teknik budidaya, ketersediaan lahan, dan harga kedelai di tingkat petani.

Menurutnya, terkait ketersediaan lahan dan harga kedelai di tingkat petani, bukan merupakan kewenangan BATAN. Diharapkan, ada kebijakan kementerian teknis terkait dan pemerintah daerah yang dapat membantu petani yang bersedia menanam kedelai agar produktivitas kedelai bisa meningkat. (ind)