INDOAGRIBIZ–Pasca menurunnya status Gunung Agung dari status awas menjadi siaga, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita mengadakan pertemuan kembali bersama Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumantri beserta jajaran Muspida Karangasem dan Satgas Peternakan dan Kesehatan Hewan drh. I Ketut Nata Kusuma di Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Gunung Agung. Pertemuan tersebut dilakukan untuk menentukan langkah-langkah penanganan pra, saat, dan pasca jika terjadi bencana erupsi Gunung Agung.

I Ketut Diarmita mengingatkan meskipun telah terjadi penurunan status gunung Agung, monitoring progress yang telah dilakukan Tim Satgas dari Ditjen PKH untuk tetap terus berjalan mengkoordinasikan kegiatan penyelamatan dan penanganan ternak, serta penyaluran bantuan dari pihak lain.

“’Kita jaga peternak dan ternaknya jangan sampai ketika terjadi bencana alam mereka jadi korban, Hal tersebut juga merupakan amanat Bapak Menteri Pertanian agar peternak tidak merugi dan merasa tenang dan nyaman ditempat-tempat penampungan ternak,” ujar Dirjem PKH itu.

Menurut I Ketut Diarmita, pengalaman bencana meletus Gunung Merapi di Jawa Tengah telah mengajarkan banyak hal khususnya dalam mengevakuasi ternak. “Ketika terjadi musibah bencana alam, pemerintah tidak memikirkan masyarakat saja, sekaligus ternak juga harus dievakuasi, sehingga jelas SOP untuk evakuasi sapi yang aman”, tambahnya.

I Ketut Diarmita juga mengapresiasi kinerja Tim Satgas PKH dalam penanganan evakuasi sapi yang lebih baik. Saat ini Pemerintah telah menyiapkan lokasi penampungan ternak yang terdapat pada 43 lokasi di 7 titik sebaran yakni Klungkung, Buleleng, Karangasem, Gianyar, Bangli, Tabanan, dan Gianyar. Dari data update evakuasi di Posko tercatat jumlah ternak yang ada di penampungan sejumlah 6.584 ekor.

Ia juga mengingatkan kepada Tim Satgas, agar pengawasan di tempat penampungan ternak harus tetap memperhatikan ketersediaan pakan, obat-obatan dan pemeriksaan kesehatan. “’Kegiatan ini membutuhkan banyak dana dan kita telah kerjasama dengan banyak pihak, dan kami ucapkan terimakasih kepada pihak yang sudah terlibat,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Dandim 1623 Karangasem Firman Sjafrial Agustu menyampaikan, sebelum ditetapkan status awas Gunung Agung, telah dilakukan koordinasi, sosialisasi dan edukasi ke masyarakat agar mengerti tentang bahaya bencana erupsi Gunung Agung. Program livelihood diharapkan dapat membantu meringankan beban masyarakat pengungsi yang berasal dari daerah rawan bencana.

Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumantri mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu proses evakuasi penduduk dan ternaknya yang berada di daerah rawan bencana. Sekitar 200 ribu masyarakat telah dievakuasi dan turun ke tempat yang aman.

Menurut Bupati Karangasem, hampir 30% penduduk Karangasem bertani dan beternak sapi. I Gusti menilai peternak sapi sangat mencintai ternaknya bahkan peternak telah merasa “satu jiwa” dengan ternaknya. “Jika orangnya selamat, maka sapinya juga harus selamat,” ungkapnya.

Ketua Satgas Peternakan dan Kesehatan Hewan Nata Kusuma menyampaikan, telah menginventaris permasalahan jika terjadi erupsi maka perlu disiapkan seperti Persiapan posko pasca erupsi untuk menangani ternak yang mati, masalah penggantian ternak ketika ada ternak cidera, masalah penggunaan anggaran, SOP untuk evakuasi agar sapi tidak cidera. “Permasalahan ini harus dibahas bersama melalui koordinasi yang intens,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut I Ketut Diarmita menyampaikan perlu ada penggantian ternak yang harus dibahas mekanisme dan strateginya dengan mengedepankan langkah akuntabilitas dan transparansi untuk meminimalisir adanya resiko pidana.

“’Untuk itu perlu disiapkan penggantian bagi ternak yang cedera’’, ungkap I Ketut Diarmita. “Untuk itu perlu koordonasi antar pemerintah pusat dan daerah dalam pelaksanaannya,” pungkasnya. (NSS)