Stabilkan Pasokan dan Harga Pangan, Kementan Gandeng RNI

Jakarta (Indoagribiz). Stabilisasi pasokan dan harga pangan strategis menjadi bagian penting dalam rangka pemenuhan kebutuhan pangan nasional.  Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo  pun menempatkan stabilisasi pasokan dan harga komoditas pangan strategis sebagai perhatian utama. Hal itu, dikarenakan menyangkut pemenuhan kebutuhan pangan bagi seluruh masyarakat Indonesia. 

Dalam rangka stabilisasi pasokan dan harga komoditas pangan, Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian menggandeng PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Kepala BKP Kementan Agung Hendriadi dan Direktur PT RNI Arif Prasetyo Adi menandatangani perjanjian kerja sama sebagai landasan sinergi stabiisasi pasokan dan harga pangan, Senin (15/2) lalu.

Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi yang menyaksikan penandatanganan kerja sama tersebut mengapresiasi korporasi kluster pangan yang akan segera terbentuk untuk lebih cepat mengakselerasi kegiatan-kegiatan ketahanan pangan.

“Adapun permasalahan itu utamanya adalah distribusi dan keberagaman harga, untuk itu kita berharap kestabilan harga segera terbentuk sesuai harapan pemerintah.” Kata Harvick, di Jakarta, Rabu (16/2).

Menurutnya, pandemi menjadi hambatan dalam urusan pangan utamanya terkait persoalan distribusi dan stabilitas harga. Nah, salah satu solusinya dengan menggandeng RNI.

Hal senada diungkapkan oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP), Agung Hendriadi. Menurutnya,  kerja sama dengan RNI sebagai BUMN kluster pangan ini dilakukan dalam rangka memperlancar meningkatkan kekuatan dalam distribusi pangan sebagai usaha untuk menstabilkan harga pangan.

“Apa yang kita lakukan hari ini yang pertama adalah untuk stabilisasi pasokan harga termasuk cadangan pangan, stabilisasi harga itu bukan hanya harga di konsumen saja tetapi juga harga di petani,” papar Agung.

Melalui kerja sama ini, lanjut Agung, apabila ada komoditas pangan yang harganya jatuh di tingkat petani, diperlukan pengolahan dalam hal penyimpanan dan juga mendistribusikan ke seluruh Indonesia secara merata. Terkait hal itu, diperlukan kerja sama dengan BUMN pangan. Mislanya, dengan pengolahan dan penyimpanan untuk memperpanjang usia simpan komoditas pangan serta membantu mendistribusikannya ke seluruh Indonesia.

“Kenapa kita kerja sama dengan BUMN pangan, karena Kementan bukan lembaga komersil. Yang penting transparansi,  berapa marginnya harus jual ke masyarakat, apakah masih dibawah harga acuan pemerintah itu nanti yang kita lakukan,” kata Agung.

Penandantangan kerja sama ini juga disambut baik oleh Direktur Utama PT RNI Arif Prasetyo Hadi. Menurutnya, ini adalah titik luarbiasa untuk ke depan, karena setelah ini BUMN klaster pangan akan menjadi sangat efektif dan efisien mulai dari hulu sampai ke hilir.

“ Yang kita perlukan hari ini adalah hadirnya kita semua dari Kementerian dan korporasinya adalah BUMN pangan yang insya Allah akan terbentuk holding segera, yang pertama ada di Hulu yang satu di hilir keduanya harus stabil harganya. Jadi harga di petani harus baik kemudian harga di masyarakat juga harus baik,” kata Arif.

Lantas, bagaiaman cara menyimpanya? Menurut Arif, harus ada satu produk yang memang sudah diproduksi dengan baik oleh Kementan  kemudian disimpan supaya bisa panjang umurnya, atau self lifenya diperpanjang dengan teknologi  cold room.

Melalui cara tersebut, Arif meyakini akan dapat mengatur inventory dan stok level komoditas pangan agar dapat terdistribusi merata sampai ke seluruh Indonesia. “ Ini juga perintah Menteri BUMN agar kita semua harus hadir di sana dan pangan ke depan ini memang menjadi andalan kita semua untuk menyiapkan pangan nasional,” pungkasnya. (ind)