Kementan Bersama MSI Menjadikan Singkong Pangan Lokal Strategis
Indoagribiz – Ubikayu atau biasa disebut singkong sebagai komoditas
tanaman pangan yang luar biasa perannya. Sebagian industri menggunakan
singkong sebagai bahan baku tapioka. Kebutuhan tapioka di Indonesia
mencapai 9-10 juta ton namun belum mampu dicukupi keseluruhan dari
produksi dalam negeri.
Dalam diskusi webinar Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) yang
diadakan secara live virtual hari Sabtu (13/6) mengundang semua
praktisi, petani dan peneliti yang berkecimpung dalam budidaya
singkong membahas secara bersama upaya pengembangan singkong sebagai
pangan alternatif yang memiliki keunggulan strategis.
Dibuka oleh Achmad Subagio, ia mengatakan MSI mengadakan kegiatan
untuk sharing pengalaman dan merumuskan bersama strategi mengembangkan singkong di Indonesia.“Karena itu disini saya undang dari semua pihak baik praktisi, ilmuwan, dari dosen maupun pemangku kebijakan dalam hal ini Kementerian Pertanian untuk kita duduk bersama membahas apa saja
yang bisa kita lakukan untuk singkong ini,” ujarnya dikutip dari laman resmi Kementerian Pertanian, Senin (15/6).
Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Suwandi yang
diundang sebagai pembicara menyampaikan bahwa dalam masa pandemi ini ada empat hal yang dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan)
mengamankan stok pangan. Pertama dengan mengamankan pasokan komoditas strategis, kedua dengan diversifikasi produksi dan konsumsi, ketiga
menjaga kekuatan di level rumah tangga dengan lumbung pangan dan
penggilingan memasok pasar dan gudang, serta yang keempat lompatan
pertanian modern dengan food estate berbasis korporasi dengan
mekanisasi. Suwandi mengatakan petani harus masuk kelas, bergabung menjadi
korporasi. Masalah turunnya produksi singkong ditengarai karena pasar
kurang menarik dan adanya kompetisi dengan produk lain yang harganya
lebih tinggi ataupun umur lebih pendek seperti contohnya jagung.
“Semua bersama bangun singkong Indonesia jadi pangan lokal yang bisa
didorong dalam bentuk korporasi,” ujar Suwandi.
Menurutnya perlu penanganan model korporasi karena di korporasi
terintegrasi jadi satu inputnya. Dengan korporasi yang memanfaatkan
mekanisasi dan bekerjasama menjadi off taker industri maka petani akan
mendapat kemudahan sumber pendanaan untuk KUR.
Yang menjadi kunci selanjutnya adalah teknologi pengolahan. Ada
sekitar 28 produk turunan yang bisa dimanfaatkan untuk dikembangkan ke
pasar maupun supermarket dengan branding yang bagus.
“Makanan lokal kuncinya ada di hilir market driven, bagaimana mencreate pasar supaya pangan lokal jadi lifestyle. Bangun market drivennya, pasar dibangun, baru produksi mengikuti. Kalau pasar bagus
petani akan mengikuti berproduksi,” tutur Suwandi.
Di tempat sama, Arifin Lembaga Ketua Umum MSI menyambut baik kebijakan
Kementan yang disampaikan oleh Dirjen Tanaman Pangan. Menurutnya
market driven memang harus diutamakan karena produksi tidak akan
berjalan kalau tidak ada market driven.
“Yang bisa dikembangkan adalah promosi dengan database pelaku industri, memfasilitasi kelancaran perdagangan rantai pasokan singkong serta mendorong petani membentuk korporasi dan pengolahan sendiri,”
sebut Arifin.
Terkait korporasi, MSI juga akan membangun kawasan singkong
terintegrasi, contohnya ada di Riau yang akan menjadi pilot project
serta di daerah Ciawi.“Nantinya aka nada percontohan bagaimana
melakukan budidaya yang baik, dengan bibit baik, serta pengolahan yang
baik,” pungkas Arifin
Webinar yang diikuti ratusan pemirsa pemerhati singkong dilanjutkan
dengan sesi diskusi dan sharing pengalaman. Dari hasil pantuan laporan
telah banyak pilot project yang memang banyak berkecimpung budidaya
singkong seperti di Lampung, Aceh, Banjarnegara, Bangka Belitung, NTT
serta Bondowoso.
Ratno, pengusaha singkong dari Lampung menuturkan bahwa di Lampung
singkong sebagai komoditas utama. Ia mengaku terinspirasi dengan
adanya ide korporasi sehingga perlu ada kerjasama yang pasti dengan
pabrik. Menurutnya hal yang penting juga terkait teknologi pemanfaatan
singkong agar bisa menerapkan integrated farming.
Hal yang sama juga disampaikan Zubir Marzuki dari Aceh yang berhasil
memproduksi singkong menjadi tepung tapioka kelas premium. Meskipun di
Aceh notabene bukan sentra produksi singkong, namun ia berhasil.
Harapannya ke depan Aceh bisa diintroduksi menjadi lahan singkong
mengingat masih cukup luas lahan disana.
Hal yang sama diungkapkan Supriyanto dari Babel dan Tommy dari NTT
yang dengan konsisten mengembangkan singkong. “Kami berharap singkong mampu menjadi komoditas strategis yang menjadi concern pemerintah untuk kebijakan yang mendukung petani,” ujarnya.
Sumber foto : laman resmi Kementerian Pertanian