Menteri Amran bepose bersama para Babinsa di Kabupaten Ende, NTT.

INDOAGRIBIZ–Menteri Pertanian tampak terharu saat Komandan Kodim (Dandim) 1602 Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), Letkol Kav. Suteja, melaporkan kegiatannya di beberapa desa untuk menyerap gabah petani.

Letkol, Kav. Suteja menceritakan, upaya Bintara Pembina Desa (Babinsa) beberapa desa membantu menjaga serapan gabah petani. Di Ende, petani setelah selesai panen tidak langsung menjual hasil panennya ke tengkulak atau ke Bulog.

Lanjut Suteja, petani malah menyimpan hasil pertaniannya. Biasanya, petani menjual gabahnya ketika ada kebutuhan. Akan tetapi, kadang Bulog tidak bisa menyerap sehingga Dandim berinisiatif untuk memakai uang iuran bersama. Alhasil terkumpul Rp10 juta yang diperuntukkan untuk membeli gabah petani saat tak bisa diserap Bulog.

“Di Ende, petani enggak langsung jual hasil panennya. Tapi mereka jual kalau sudah ada kebutuhan, jadi kita harus siapkan uangnya,” cerita Dandim tersebut di Secapa Bandung, sebagaimana dikutip laman resmi Kementerian Pertanian, Sabtu (2/12)..

Akan fakta ini, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menilai apa yang dilakukan Pak Dandim Ende bersama para Babinsa sangat berlian. Karena itu, dengan spontan Amran langsung meminta ajudannya menyiapkan dana pengganti. Amran langsung menyerahkan sebagian dari gajinya sebagai menteri senilai Rp50 juta untuk diserahkan kepada Dandim Ende.

“Saya berikan Rp50 juta agar dana tersebut bisa dikelola lagi sebagai dana bergulir untuk penyerapan gabah di sana,” ujar Mentan tersebut. Bahkan, Menteri Amran langsung memanggil Dandim untuk serah terima uang tersebut.

Mendengar itu, Menteri Amran itu juga sempat menceritakan fase kehidupannya yang relatif susah. Sejak kecil, dia terbiasa dididik disiplin karena ayahnya juga seorang prajurit berpangkat Sersan Mayor. “Kenapa saya terharu, karena bapak saya juga seorang Dandim, bahkan untuk makan, kami haru mencari batu gunung dulu untuk dijual ke perusahaan,” kenang Mentan dengan suaranya sedikit parau.

Menteri asal Makassar itu memiliki 12 bersaudara. Dengan upah yang diterima ayahnya sebagai Babinsa, katanya, belum bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Mau tak mau, ia mesti bekerja keras hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Bisa dibayangkan gaji cuma Rp 116.000 tapi ayah kami tetap bersemangat, walau biaya tidak cukup,” ujar dia.

Dalam acara itu, Mentan Amran Sulaiman juga mendapat kejutan. Amran diajak bernyanyi sebuah lagu mars Babinsa yang mengingatkan profesi ayahnya. “Terenyuh sekaligus terharu,” katanya tegas. [moh]

Sumber foto : laman resmi Kementan