Selain Pariwisata, Karimunjawa  Bakal Jadi Sentra Rumput Laut

Jepara (Indoagribiz)—- Dampak pandemi covid 19 membuat sektor parawisata  Bali saat ini terpuruk. Hal tersebut membuat ekonomi masyarakat yang sebagian besar mengandalkan pariwisata tertekan. Padahal parawisata bukanlah satu satunya potensi ekonomi di Pulau Dewata ini. Justru, pada awalnya, Bali dikenal sebagai sentral produksi rumput laut nasional.

Semula, rumput laut banyak dikembangkan di di Nusa Penida dan Nusa Lembongan. Gencarnya promosi wisata Bali, menyebabkan masyarakat pesisir saat ini beralih ke sektor parawisata.

Berkaca dari kondisi yang terjadi di Bali, pakar kebijakan rumput laut nasional yang juga mantan ketua Komisi Rumput Laut Indonesia, M. Widodo Farid Ma’aruf mengatakan,  meski sektor parawisata menjadi unggulan di wilayah pesisir dan pulau pulau kecil, pemerintah tidak bisa menggantungkan ekonomi masyarakat sepenuhnya pada sektor ini.

Farid mengatakan, yang terjadi di Bali patut menjadi pelajaran bagi daerah lainnya.  Sehingga, Karimunjawa bisa kembali dijadikan salah satu sentral budidaya rumput laut di Jawa Tengah (Jateng).

“Saya ingin mengingatkan, bahwa perlu ada alternatif lain di luar sektor parawisata dan rumput laut jadi alternatif lain yang potensial dikembangkan lagi,” ujar  Farid, dalam siaran persnya, di Jepara, Rabu (21/7).

Menurut Farid, pemerintah daerah diharapkan segera menata ulang  Perda tentang “land use”. Artinya, pesisir dikembalikan ke ulayat sebagai basis budidaya rumput laut.

” Singkatnya bagaimana mengulang kejayaan rumput laut Karimunjawa sebagai prime mover perekonomian dalam masa pandemic,” paparnya.

Sementara itu, Sekjend Pusat Kajian dan Pemberdayaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Pusaran KP), Cocon Sidiek, mendukung jika Karimunjawa kembali dijadikan sentral budidaya rumput laut, khususnya di Jawa Tengah. Apalagi rumput laut Karimunjawa sempat menjadi unggulan nasional karena kualitasnya yang baik dibanding daerah lain.

Menurutnya, budidaya rumput laut satu satunya alternatif usaha yang bersentuhan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir. “Kami mendukung sekali jika ada upaya membangkitkan lagi rumput laut Karimunjawa di luar potensi parawisata. Perlu diingat, bahwa sumber daya sektor kelautan dan perikanan ini kompleks ya, tidak hanya fokus pada sektor parawisata. Apalagi sektor ini sangat riskan terhadap isu isu sensitif, dan sulit diprediksi. Intinya, perlu ada multiple bisnis dalam pemanfaan sumber daya kelautan dan perikanan, tidak hanya fokus pada satu sektor unggulan, catatannya yang penting tidak ada tumpang tindih,” kata Cocon

Cocon juga meminta pihak terkait untuk konsisten dalam menerapkam regulasi pemanfaatan zonasi untuk menghindari tumpang tindih. Pengembangan parawisata Karimunjawa harus berbasis konservasi dan murni mengandalkan jasa lingkungan. Aktivitas budidaya rumput laut bisa kompatibel dengan parawisata karena berbasis kearifan lokal.

“Pemda perlu segera susun konsep pengembangannya, peta jalan dan action plannya seperti apa. Saya kira sangat sejalan dengan kebijakan yang saat ini tengah digagas Kementerian Kelautan dan Perikanan, jadi daerah tinggal elaborasi saja programnya,” pungkasnya. (ind)

Sumber Foto. Dok: Pusaran KP