Perikanan Budidaya Penopang Ketahanan Pangan Saat Pandemi
Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono
menyatakan perikanan budi daya merupakan penopang ketahanan pangan
sehingga perlu digerakkan sebagai aspek pembangunan ekonomi daerah
saat pandemi.
“Perikanan budi daya diyakini mampu menghasilkan perputaran ekonomi
yang luar biasa, baik untuk kebutuhan pangan maupun nilai ekonominya
serta menciptakan peluang lapangan kerja,” kata Menteri Kelautan dan
Perikanan (KP) Sakti Wahyu Trenggono dalam siaran pers di Jakarta,
Senin (15/2).
Selain itu, ujar dia, perikanan budi daya adalah untuk kelestarian dan
kesinambungan generasi berikut. Untuk itu, lanjutnya, bila tidak
dibudidayakan maka akan habis sumber daya perikanan sehingga perlu
betul-betul digerakkan baik di laut maupun di darat.
“Perikanan budi daya adalah masa depan sektor perikanan kita. Maka
dari itu harus kita kembangkan. Mulai dari pembenihan hingga
pembesaran, serta pakan. Dan saya berharap pakan ini bisa dikembangkan
antara pemerintah daerah dengan perguruan tinggi untuk mendapatkan
pakan yang lebih baik,” ujar Menteri KP Trenggono.
Menteri Trenggono mengajak seluruh masyarakat khususnya pembudidaya
agar berbudidaya ikan secara mandiri dan berkelanjutan.
Mandiri, lanjutnya, dalam hal pembudidaya mampu memproduksi benih, dan
pakan sendiri, sehingga produktivitas perikanan nasional khususnya
perikanan budi daya terus meningkat meski menghadapi kondisi apa pun
produksi tidak akan pernah terganggu.
“Kita tahu pandemi COVID-19 menerjang di semua sektor. Sementara,
produksi perikanan budi daya sangat dibutuhkan baik untuk ketahanan
pangan maupun untuk pembangunan ekonomi daerah serta nasional,”
katanya.
Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto menyampaikan beberapa
upaya strategis guna menggenjot produktivitas dan nilai tambah ikan
air tawar di Indonesia antara lain pengembangan sistem perbenihan yang
fokus pada produksi varian komoditas unggul yang potensial.
Kemudian pengembangan sistem produksi yang fokus pada penciptaan
efisiensi produksi, pengembangan sistem kesehatan ikan dan lingkungan
yang fokus pada upaya pencegahan dan penanggulangan hama penyakit,
penguatan kapasitas SDM di sentral produksi, serta mendorong
pengembangan sistem bisnis terintegrasi (integrated aquaculture
business) di sentral produksi untuk menjamin efisiensi dan pemasaran.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono
menyatakan bahwa pihaknya akan total mengerahkan segenap upaya untuk
mengembangkan budi daya lobster domestik sambil menjaga
keberlangsungan biota laut tersebut.
“Budidaya akan kita kembangkan terus dan menjadi tanggung jawab Ditjen
Perikanan Budidaya, khususnya untuk lobster saya akan all-out bahwa
ini harus dikembangkan di dalam negeri,” katanya.
Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha Lobster Indonesia (GPLI)
Gunawan menyampaikan, bahwa Indonesia memiliki semua potensi untuk
menjadi negara pengekspor lobster terbesar di dunia.