Seorang petani menyusun tandan buah segar (TBS) kelapa sawit (foto beritasatu.com)

INDOAGRIBIZ–Tandan Buah Segar (TBS) sawit seberat 85,02 kg dari perkebunan milik Sugiarto, petani sawit asal Jambi memperoleh rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk TBS terberat 2017.

“Setelah dilakukan verifikasi dan penimbangan TBS di lapangan, TBS milik Pak Sugiarto dinyatakan sebagai pemenang. TBS tersebut seberat 85,02 kg,” ujar Ketua Panitia Sayembara Pemecahan Rekor TBS Terberat 2017 yang dilaksanakan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Dasrizal Raham melalui keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (8/11).

Penganugerahan piagam Rekor MURI dan uang pemeliharaan kebun senilai Rp10 juta telah dilakukan pada acara “13th Indonesian Palm Oil Conference and 2018 Price Outlook” di Nusa Dua Bali, Kamis (2/11).

Sugiarto yang merupakan petani sawit asal Desa Tidar Kuranji, Kecamatan Maro Sebo Ilir, Kabupaten Batanghari, Jambi itu , menyatakan, dirinya berusaha maksimal dalam memelihara tanaman sawitnya. Anggota petani plasma PT Inti Indo Sawit Subur itu menyatakan, selalu mengikuti bimbingan petugas dari PT Inti Indo Sawit Subur yang merupakan anggota Gapki Cabang Jambi.

“Saya selalu ‘ngopeni’ (merawat) kebun saya sesuai arahan perusahaan. Kalau disuruh dibersihkan, ya saya bersihkan. Kalau disuruh dipupuk ya saya pupuk. Pokoknya saya ngikut saja,” ujar warga transmigran asal Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur itu.

Sugiarto mengatakan, dirinya memiliki dua hektare (ha) kebun sawit, pemberian pemerintah. Kebun tersebut kemudian ditanami sawit pada 1993 menggunakan benih pemberian perusahaan.

Saat ini, dari dua ha kebun sawitnya rata-rata tiap bulan menghasilkan TBS sebanyak 6 ton. Sementara itu harga untuk setiap satu ton TBS pekan lalu Rp1.685.950, sehingga dalam sebulan, dia mengantongi uang Rp10.115.700. “Dalam dua ha tersebut hanya tujuh pohon sawit saja yang menghasilkan TBS jumbo,” ujar dia.

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono mengatakan kompetisi TBS terberat tersebut untuk merangsang petani plasma agar bisa meningkatkan produktivitas kebunnya. “Ini merupakan upaya kami untuk memberikan semangat kepada para petani agar bersemangat memelihara kebunnya,” kata dia.

Sementara itu Ketua Gapki Jambi Tidar Bagaskara mengatakan bibit sawit yang ditanam di kebun milik Sugiarto merupkan bibit unggul bersertifikat. Bibit tersebut berasal dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan. “Pak Sugiarto ini sebagai ketua kelompok tani juga aktif melakukan koordinasi dengan pihak perusahaan. Dia juga sering melakukan pembinaan kepada anggotanya. Beliau punya 2 ha. Satu kelompok tani ada 15 kapling atau 30 ha,” kata dia.

Menurut Tidar, TBS yang dihasilkan oleh kebun milik Sugiarto memang luar biasa besar, sebab rata-rata TBS beratnya berkisar 25-35 kg.”Tidak semua tanaman yang berada di kapling petani itu bisa menghasilkan TBS seberat 85,02 kg. Biasanya dalam satu kapling, hanya ada 4-7 pohon yang memiliki TBS yang beratnya di atas rata-rata,” tambah dia.

Dia menyatakan, Sugiarto sangat taat dengan aturan panen. Rotasi panen dalam sebulan itu tiga kali, jadi per 10 hari sekali melakukan panen. [MOH]