Jakarta(INDOAGRIBIZ). Dampak yang ditimbulkan dari abrasi (pengikisan daerah pantai akibat gelombang laut) di Karawang sudah sangat nyata dan menyebabkan banyak kerugian di masyarakat terutama di Desa Cemara Jaya Kecamatan Cibuaya Karawang, Jawa Barat.

 

Dalam dua tahun terakhir saja sejak 2015 lalu, sudah ada ratusan rumah perkampungan nelayan di Desa Cemara Jaya harus kehilangan tempat tinggal akibat tergerus abrasi.

Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah. Upaya mengatasi abrasi telah dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam hal ini Direktorat Pendayagunaan Pesisir Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut dengan membangun sabuk pantai sepanjang 3,3 km di Desa Cemara Jaya yang melewati empat dusun Cemara 1, Cemara 2, Pisangan, dan Mekar Jaya.

Kepala Subdirektorat Mitigasi Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim Direktorat Pendayagunaan Pesisir, Hendra Yusran Siry menjelaskan, KKP terus berupaya untuk mengurangi dampak abrasi di berbagai lokasi salah satunya di Karawang yang masyarakatnya terdampak cukup besar. “Kami buatkan sabuk pantai dari karung geotekstil memanjang yang dibentangkan sepanjang 3,3 km dibagi menjadi 11 segmen, dengan luasan sekitar 300 meter per segmen atau berisi 15 karung ukuran panjang 20 meter dan tinggi diatas 1,5 meter ,” terang Hendra.

Sabuk Pantai yang dibangun KKP di akhir 2017 ini sudah dirasakan manfaatnya. Hal ini diungkap Wanusuki Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas/Pokkasmas Karawang, “Kami bersyukur adanya sabuk pantai ini dapat mengurangi dampak abrasi dengan memecah arus bawah, dan pasir masuk ke sabuk pantai diharapkan dalam beberapa tahun akan terakresi membentuk tanah timbul yang dapat kita tanami mangrove sekaligus dapat menjadi habitat bagi organisme dan menghasilkan pendapatan bagi masyarakat khususnya nelayan sekitar pantai.”

Bahkan menurut salah satu nelayan setempat, mereka telah merasakan manfaat dari adanya sabuk pantai di sepanjang desa Cemara Jaya, “Sejak ada sabuk pantai, gelombang terpecah di sabuk tidak jauh dari sekitar sabuk kami bisa dapat banyak udang putih, kalau sebelumnya hanya ada satu dua kg saja sekarang di daerah pinggir dekat sabuk kita bisa dapat sampai 12 kg, kalau lagi jarang paling sekitar 4 kg,” ungkap Warna saat ditemui redaksi Indoagribiz di Karawang (16/5) lalu.

Tak hanya KKP saja yang turun tangan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) didampingi Dinas Perikanan Kabupaten Karawang juga terus mengawal dan melakukan upaya serupa. “Sebelumnya juga sudah ada batu dipasangkan untuk mengurangi abrasi dipasang sekitar 800 meter, dari Kementerian PUPR juga rencananya akan merelokasi pemukiman nelayan yang terkena dampak,” ujar Setya Saptana Kasie Kelembagaan Nelayan Dinas Perikanan Kabupaten Karawang.

Lanjut Sapta sapaan akrabnya mengungkap, saat ini Pemda telah menyiapkan lahan untuk masyarakat nelayan yang rumahnya hancur akibat abrasi sejak 2015 lalu, tecatat ada 375 yang akan di relokasi ke dusun cekong, dan nanti lahan yang telah di beli Pemda Karawang akan dibangun oleh Kementerian PUPR. Sapta berharap masyarakat khususnya nelayan akan dapat terbantu dengan adanya program ini. “Kita sama – sama bersinergi baik dengan Kementerian PUPR, KKP, dan Pemda untuk menangani dampak abrasi dan kembali membangun kawasan pesisir termasuk dengan pengembangan budidaya bandeng dan udang yang sudah dijalankan di lokasi dekat pantai,” tandas Sapta. (DS)