MARINDO–Kedelai nasional non Genetically Modified Organism (GMO) yang dibudidaya oleh petani lokal memiliki potensi untuk diolah dan dikembangkan menjadi primadona melalui branding, sehingga akan memberikan keuntungan ekonomi baik kepada petani maupun pelaku usaha agribisnis.

Syaratnya, paradigma lama pola pikir tentang kedelai yang hanya diolah jadi tempe dan dijual di pasar maupun di warung kecil, diubah dengan membranding tempe hingga dijual di cafe dan memiliki gengsi tersendiri, namun dengan proses pengolahan yang higenis dan packaging yang menarik. Sedangkan jika diolah dan langsung dijual hanya memberikan sedikit keuntungan.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Gatot Irianto pada Festival Produk Olahan Kedelai Nasional mengatakan, nilai tambah produk hasil olahan hanya memberikan peningkatan 5% pendapatan. Maka itu, untuk meningkatkan pendekatannya adalah komoditas dibranding. Branding jauh memberikan keuntungan yang lebih besar. Analoginya, jika beli kopi sekilo harga 50.000, jika kita ke cafe secangkir kopi diharga 50 ribu artinya yang kita beli adalah brand.

“Nah yang saya inginkan demikian juga, untuk tempe dari kedelai lokal dinaikan statusnya diolah, packaging dan dibranding, sehingga memiliki nilai jual yang tinggi,” kata Gatot pada acara yang diselenggarakan di Jogya Expo Center tersebut, pada Senin (11/12).

Gatot menambahkan, saatnya mengangkat kedelai lokal dengan menjual branding. Hal ini akan semakin akan dicari orang. Yang harus dilakukan adalah diolah secara higenis, dipackaging yang menarik dan kemudian di branding. “Jadi berbicara peningkatan pendapatan maka kita harus jualan brand. Kedelai lokal ini yang akan kita branding,” katanya.

Sementara itu Asisten Bidang Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Didiek Purwadi mengatakan, kedelai lokal mempunyai peluang besar karena ada perubahan pola makan masyarakat dari hewani ke nabati. “Ini peluang bagi dunia usaha di bidang pangan olahan,” katanya. [moh/nss]