Direktur Kawasan dan Kesehatan Ikan KKP Arik Hari Wibowo.

INDOAGRIBIZ–Program revitalisasi keramba jaring apung (KJA) 1.000 lobang sudah dilakukan pada tahun 2017 dan tinggal menungu masa panen. Namun ada beberapa lokasi yang sudah panen seperti di Pesawaran, Provinsi Lampung, Kepulauan Seribu di DKI Jakarta dan di Lombok, NTB.

Direktur Kawasan dan Kesehatan Ikan, Ditjen Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Arik Hari Wibowo menjelaskan, untuk program KJA 1.000 lobang sudah berjalan dan sudah ada yang dipanen, sementara yang lainnya masa pemeliharaan. Hasil yang dicapai rerata cukup bagus, meski ada juga kendala seperti yang terkena penyakit. Sementara komoditas yang menjadi prioritas adalah ikan bawal bintang, kakap putih, kerapu macan dan kerapu cantang.

“Alhamdulian target dari 1.000 lobang sudah ditanami, tapi sedang proses. Sudah ada beberapa titik seperti di Pesawaran dan di Tanjung Pinang, bahkan di Pulau seribu sudah mulai tanam benih lagi dari hasil panen. Kami melihat pasarnya pun sudah siap,” ujar Arik di ruang kerjanya, Senen (8/1/18).

Program revitalisasi KJA berawal dari bantuan untuk masyarakat dari pemerintah, namun banyak mengalami hambatan, baik di permodalan maupun pakan dan penyakit. Ada lebih dari 5.000 lubang KJA, yang bukan saja dari KKP, tetapi ada bantuan dari berbagai instansi. Nah, dalam perjalanannya, KJA-KJA tersebut mengalami mangkrak akibat hambatan di atas. Misalnya pasokan benih yang harus dikirim dari Pulau Jawa atau tidak adanya pasar dan mahalnya hara pakan. Hambatan-hambatan tersebut berbeda-beda sesuai masing-masing lokasi.

“Nah, kita coba bangunkan lagi. Ada beberapa lokasi seperti di Kepulauan Riau, Lampung, DKI Jakarta dan Lombok. Itu coba kita kawal dengan menugaskan UPT-UPT balai yang ada di daerah. Kami dari pusat hanya mengkoodinir. Balai-balai yang menganggarkan, mulai dari benih sampai pembesaran hinga mencarikan mitra untuk pemasaran,” ungkap Arik.

Embung dan Pitap

Lebih jauh Arik mengatakan, untuk program tahun 2018, Direktorat Kawasan dan Kesehatan Ikan bertugas membuat embung di Pangandaran, Jawa Barat. Pembangunan embung yang lokasinya di tengah pusat Kota Pangandaran itu dilatari karena sering terjadinya banjir di daerah tersebut. Danau kecil buatan ini nantinya akan menampung air sehingga dapat mengurangi banjir. Selain itu, ke depan nantinya sebagai kawasan penghijauan dan akan menjadi percontohan culture base fisheries.

“Kami akan mendorong kelompok masyarakat untuk mengelola embung. Mereka nantinya akan menebar benih ikan tanpa harus memberikan pakan dan nanti dengan kebijakan lokal kelompok, embung itu dipanen pada saat-saat tertentu. Bahkan ke depannya embung ini akan ditata sehingga menjadi tempat rekreasi,” jelas Arik.

Untuk membuat embung kini sudah dilakukan DID (detail enginering desain) dan sedang dikerjakan oleh konsultan lalu disosialisasikan. Anggaran sebesar Rp 10 milyar disiapkan untuk pembangunan embung ini. “Nanti UPT Balai Sukabumi yang akan mengelolanya. Kita harapkan enam bulan ke depan selesai pembangunannya. Ke depan percontohan ini bisa saja dikembangkan di daerah lain,” tambahnya.

Selain embung, program unggulan Direktorat Kawasan dan Kesehatan Ikan tahun 2018 adalah pembangunan PITAP (Pengelolaan Irigasi Tambak Partisipatif). Ialah perbaikan saluran untuk tambak. Sehingga fungsinya nanti bisa menampung dan mengaliri untuk tambak-tambak masyarakat. Terang saja, saat ini masih banyak saluran tersier yang langsung ke pertambakan yang mengalami permasalahan sehingga dapat mengganggu usaha pertambakan baik yang intensif maupun semi intensif.

“Untuk daerah-daerah mana saja yang akan menerima program PITAP belum ditentukan, tapi program dan anggaran sudah ada,” jelas Arik.

Menurut Arik, PITAP sendiri bertujuan, pertama, meningkatkan fungsi dari saluran irigasi tambak yang iddle (mengalami kerusakan atau penurunan fungsi). Kedua, meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan irigasi tambak secara berkelanjutan.

Sementara sasarannya ialah, pertama, saluran irigasi tambak yang mengalami kerusakan atau tidak optimal dalam mendukung fungsinya sebagai penyedia air untuk budidaya. Kedua, kelompok masyarakat petambak yang memiliki lahan dan membutuhkan perbaikan atau rehabilitasi saluran irigasi tetapi tidak mempunyai biaya untuk melakukan rehabilitasi saluran. [nss]