BRG Lakukan Restorasi Gambut Melalui Revitalisasi Ekonomi Warga
Jakarta – Badan Restorasi Gambut (BRG) terus melakukan upaya restorasi
lahan gambut melalui kegiatan revitalisasi ekonomi warga di desa-desa
sekitar sehingga meningkatkan kesejahteraan mereka.
Salah satu upaya restorasi gambut dengan pendekatan kesejahteraan
ekonomi warga yakni pembangunan 22 titik sumur bor serta 2 unit kolam
ikan dengan ukuran panjang 200 meter, lebar sekitar 2,5 meter, dan
kedalaman 2 meter di Desa Palukahan, Kecamatan Danau Panggang, Hulu
Sungai Utara, Kalimantan Selatan, yang mana Badan Restorasi Gambut
(BRG) juga melakukan pendampingan warga.
Kepala Sub Kelompok Kerja Tim Restorasi Gambut Daerah Kalsel,
Parihutan Sagala dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (22/9),
mengatakan sebagai target restorasi, BRG memberikan program
revitalisasi ekonomi pada 2019.
“Program revitalisasi dipilih melalui komunikasi dua arah antara tim
pelaksana dan keinginan warga desa. Jadi inginnya warga desa apa terus
dari Dinas Lingkungan Hidup memverifikasi apakah sesuai kebutuhan,”
katanya.
Dikatakannya, pembuatan kolam ikan mendapat persetujuan karena kolam
tersebut bukan hal asing bagi warga sekitar. Warga sudah mengenal
sistem perangkat ikan alami tersebut sebagai tambahan penghasilan di
luar mata pencarian utama mereka sebagai nelayan.
Menurut dia, Desa Palukahan dipilih karena pada 2016 masuk dalam Peta
Prioritas Indikatif Restorasi (PIR). Kebakaran hutan, kata dia,
terjadi sejak 2015 hingga 2019 yang mana luas daerah yang terbakar
pada tahun 2015 lalu adalah 838,51 hektare.
Tidak ada upaya pemadaman yang dilakukan, baik dari masyarakat maupun
dari pihak yang terkait karena jauhnya jarak antara permukiman
masyarakat dengan wilayah hutan yang terbakar. Selain itu juga
kebakaran terjadi pada saat musim kemarau, di mana air rawa, sungai
dan danau menyusut, mengakibatkan terputusnya jalur transportasi
air.”Oleh karena itu kami bangun sumur bor di area itu,” ujar Sagala.
Kolam beje merupakan perangkap ikan alami, tambahnya, dibuat saat
musim kemarau tiba, karena fungsinya baru terlihat ketika musim
penghujan.
Sagala mengatakan berdasarkan pengalaman warga Desa Palukahan, kolam
beje mampu menghasilkan untung karena satu kali panen bisa mendapat
Rp20 juta hingga Rp50 juta, per tahun.
Ketua Pokmas Maju Bersama, Aliansyah mengatakan, saat ini kolam beje
yang dibuat masih menunggu panen yang diperkirakan satu bulan
mendatang.
Dia membenarkan pembuatan kolam beje bisa berguna untuk memastikan
kemunculan titik api yang mana kebakaran hutan umumnya terjadi pada
bulan Oktober dan November.
Aliansyah berharap program pendampingan dan revitalisasi ekonomi dari
BRG bisa terus berlangsung. Tidak hanya kolam perangkap ikan yang
bersifat musiman, dia juga berharap munculnya kolam pembibitan ikan
yang dulu sempat ada di desanya.