Riset: Resi Gudang Gabah dan Beras Diproyeksikan Tumbuh Semester II
Jakarta – Pemanfaatan Sistem Resi Gudang (SRG) untuk komoditas gabah
dan beras diproyeksikan akan tumbuh pada semester II tahun 2020 karena
adanya musim tanam dan panen.
KBI e-ducentre merupakan lembaga yang diinisiasi oleh PT Kliring
Berjangka Indonesia (Persero) yang dalam kegiatan operasionalnya
menerbitkan hasil riset yang dilakukan terkait Perdagangan Berjangka
Komoditi, Pasar Fisik Komoditas, maupun Sistem Resi Gudang.
“Selain faktor bahwa masyarakat mulai bergerak di normal baru, kami
juga melihat bahwa sosialisasi yang dilakukan pemerintah kepada
masyarakat terkait pemanfaatan SRG ini akan cukup mempengaruhi
pertumbuhan SRG, khususnya gabah dan beras. Masyarakat khususnya
petani dan pemilik komoditas mulai memahami manfaat SRG,” Kepala KBI
e-ducentre Diah Yulinda Wulandari dalam keterangan tertulis yang
diterima di Jakarta, Senin (27/7).
Data dari PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) sebagai Pusat
Registrasi Resi Gudang menyebutkan pada tahun 2019 pemanfaatan SRG
gabah mencapai 289 RG dengan volume 5,21 juta kilogram. Adapun nilai
pembiayaannya mencapai Rp19,18 miliar. Sedangkan tahun 2020 (Januari –
Mei), jumlah resi gudang gabah yang diterbitkan mencapai 53 SRG dengan
volume 1,37 juta kilogram, dan dengan nilai pembiayaan sebesar Rp6,01
miliar.
Sedangkan untuk komoditas beras, pada tahun 2019 tercatat penerbitan
SRG sebanyak 67 dengan volume 5,21 juta kilogram dan nilai pembiayaan
sebesar Rp19,18 miliar. Sedangkan untuk tahun 2020 (Januari – Mei),
jumlah resi gudang beras yang terbit sebanyak 11 RG dengan volume
840.500 kilogram, dengan nilai pembiayaan sebesar Rp5,55 miliar.
Proyeksi yang dilakukan oleh KBI e-ducentre tidak terlepas dari mulai
bergeraknya ekonomi Indonesia di fase normal baru setelah wabah
COVID-19. Sebelumnya, Riset Morgan Stanley menyebutkan bahwa ekonomi
Indonesia akan tumbuh mulai kuartal II tahun 2020, dan akan terus
berlanjut sampai akhir tahun 2020.
Dari sisi produksi gabah dan beras, Pemerintah untuk tahun 2020 juga
telah mentargetkan luas tanam padi seluas 11,66 juta hektare, yang
berpotensi menghasilkan 33,6 juta ton beras. Selain itu, pemerintah
melalui Kementerian Pertanian juga mencanangkan Gerakan Percepatan
Tanam pada April-September 2020.
“Melihat trendserta berbagai faktor yang ada, kami proyeksikan sampai
akhir tahun 2020, pemanfaatan SRG baik untuk gabah maupun beras akan
mengalami pertumbuhan yang positif dibandingkan tahun 2019,” kata
Diah.
Dikatakan pula, melihat proyeksi situasi yang ada di semester II tahun
2020, direkomendasikan kepada para petani untuk memanfaatkan SRG ini.
Hal ini sebagai upaya untuk menjaga stabilitas harga gabah dan beras
yang cenderung turun saat panen.