Realisasi KUR Perkebunan 2021,  Melebihi Target

Jakarta (Indoagribiz)—- Lembaga pembiayaan, seperti perbankan yang menyediakan fasilitas kredit dengan bunga rendah, sangat membantu petani (pekebun) untuk mengembangkan usahanya.  Pelaku usaha perkebunan ataupun pekebun bisa memanfaatkan dan mengakses kredit usaha rakyat (KUR) dengan bunga rendah. KUR yang telah dicanangkan pemerintah sudah dimanfaatkan sejumlah pekebun. Bahkan, realisasi KUR perkebunan per 4 Oktober 2021 sudah melebihi target yang ditentukan.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian (Kementan), Dedi Junaedi mengatakan,  target KUR perkebunan pada 2021 sebesar Rp 20,28 triliun. Hingga 4 Oktober 2021, realisasinya sudah mencapai Rp 22,25  triliun, atau melebihi target .

“ Diperkirakan, realisasi KUR hingga akhir tahun 2021 akan terus bertambah. Paling tidak, sudah ada 17 komoditas perkebunan yang telah memanfaatkan KUR,” kata Dedi Junaedi, dalam sebuah webinar, di Jakarta, Senin (15/11).

Menurut Dedi, ada sebanyak 17 komoditas perkebunan yang telah memanfaatkan KUR. Diantara komoditas tersebut adalah, perkebunan tebu dan tanaman pemanis lainnya, perkebunan tembakau,  perkebuann karet,  perkebunan tanaman bahan baku tekstil, perkebunan tanaman minyak atsiri,  kelapa, kelapa sawit, kopi, teh, kakao, jambu mete, lada, cengkeh, vanili, dan pala.

Data Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Ditjen Perkebunan, Kementan menyebutkan, KUR perkebunan yang paling besar diberikan kepada perkebunan kelapa sawit sebesar Rp 13,731 triliun, dengan  241.167 debitur. Kemudian,  karet Rp 3,048 triliun , dengan 105.308 debitur . Selanjutnya, tebu sebesar Rp 1,518 triliun , dengan  24.192 debitur. Kopi sebesar Rp 1,363 triliun dengan 52.401 debitur.  Cengkeh Rp 515, 821 miliar dengan 18.345 debitur

Selanjutnya, kelapa sebanyak Rp 507,06 miliar dengan 15.555 debitur. Tanaman perkebunan lain Rp 478,917 miliar dengan  9.454 debitur. Kakao Rp 376,882 miliar dengan 14.564 debitur. Tembakau Rp 344,606 miliar dengan 13.255 debitur. Minyak atsiri Rp 129,122 miliar dengan 5.867 debitur. Lada Rp 87,678 miliar dengan 3.242 debitur. Rempah lain Rp 79,057 miliar dengan 1.961 debitur. Pala Rp 52,223 miliar  dengan 2.453 debitur. Jambu mete Rp 12,463 miliar dengan 429 debitur. Teh Rp 6,371 miliar dengan  191 debitur. Tanaman bahan baku tekstil Rp 4,8 miliar  dengan 122 debitur. Vanili Rp 2,137 miliar dengan 429 debitur.

Dedi mengungkapkan,  pekebun bisa memanfaatkan KUR untuk penyediaan sarana produksi dan input pertanian. KUR bisa juga dimanfaatkan untuk produksi dan budidaya, pasca panen pengolahan dan pemasaran hasil. Pekebun bisa menafaatkan KUR untuk membiayai jasa penunjang seperti teknologi dan alat mesin pertanian.

Guna memudahkan akses KUR, pekebun bisa berkelompok. Kementan juga memfasilitasi KUR khusus untuk kluster kopi, sawit dan tebu. Dalam kluster ini petani atau pekebun yang bergabung dalam kelompok tani menjalin kemitraan dengan off taker dan Bumdes. Off taker maupun Bumdes nantinya menjadi penjamin dan bekerjasama dengan bank penyalur KUR.

Agar KUR ini menyasar ke kelompok tani/pekebun, Kementan memberikan sosialisasi pada dinas di daerah terkait program kerjasama. Kemudian melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kerjasama secara menyeluruh. Sementara itu,  bank penyalur KUR memberikan dukungan pembiayaan untuk usaha budidaya petani. Bank penyalur juga memberi dukungan jasa dan layanan perbankan lainnya yang dibutuhkan petani.

Menurut Dedi, pekebun yang mendapatkan KUR juga diberi pendampingan dan pembinaan listerasi keuangan. Pekebun juga wajib melakukan pembayaran kewajiban kredit yang diperoleh debitur sesuai perjanjian kredit. “ Fasilitas KUR perkebunan dengan bunga rendah ini bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh pekebun untuk meningkatkan produktivitas kebunnya dan dalam rangka memperkuat sektor hilirnya,” pungkasnya. (ind/Humas Ditjen Perkebunan)

Sumber Foto. Dok: Indarto