INDOAGRIBIZ–Kementerian Pertanian (Kementan) bersama TNI AD sejak tahun 2015 terus melakukan cetak sawah. Realisasi cetak cetak sawah yang dimulai pada September 2015. Saat itu realisasinya cetak sawah mencapai 20.070 ha atau 87,26 persen dari target. Seluruh hasil cetak sawah sudah dimanfaatkan petani. Sementara pada 2016 saja sudah mencapai 129.076 ha atau sebanyak 97,67 persen dari target.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman usai menerima Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Kepala Staf Angkatan Darat terkait cetak sawah, di Jakarta, pada Senen (6/11) mengatakan, anggaran yang digunakan untuk cetak sawah di sejumlah daerah juga dilakukan secara transparan. Tercatat, realisasi anggaran cetak sawah pada 2015 sebesar Rp 337,9 miliar, atau sebesar 86,42 persen dari target. Sementara itu, realisasi keuangan untuk cetak sawah pada 2016 mencapai Rp 2,059 triliun, atau 96,89 persen dari pagu anggaran.

Menurut Amran, kegiatan cetak sawah dikembangkan dengan pola community development. Artinya, cetak sawah menekankan partisipasi dan empowerment petani agar petani merasa memiliki dan menjaga keberlanjutannya.

“Kegiatan cetak sawah yang tak sanggup dikerjakan petani dilakukan oleh Kementan bersama TNI dengan menggunakan alat-alat berat,” ujarnya.

Lebih jauh Mentan mengungkapkan, kegiatan cetak sawah menggunakan pola swakelola berdasarkan Perpres No.54 tahun 2010 pasal 26 ayat 2 huruf a. Salah satu pelaksana pola swakelola adalah kerjasama instansi pemerintah lainnya.

Pelaksanaan cetak sawah swakelola dilakukan dalam rangka memanfaatkan kemampuan teknis SDM TNI AD. “Swakelola dengan TNI AD bisa berjalan dengan baik sampai saat ini,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Staf Angkatan Darat (AD), Jenderal TNI Mulyono mengatakan, peran TNI AD adalah memberi pendampingan ke Kementan. Bahkan, sesuai dengan regulasinya yakni UU No.34 tahun 2004 tentang TNI, ada 14 tugas operasional militer selain perang. “Salah satunya adalah membantu Pemda dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan melancarkan pembangunan,” kata Mulyono.

Menurut Mulyono, yang ditugaskan untuk melakukan pendampingan adalah satuan komando kewilayahan. Sedangkan Dinas Zeni AD bertugas melakukan cetak sawah. “Ada pandangan kalau TNI AD turun ke sawah profesinya terganggu. Tentu hal itu tidak. Karena anggota yang kita turunkan sesuai dengan tupoksinya. Sehingga, TNI AD tak kawatir kehilangan profesinya,” katanya. (NSS)