Dilengkapi Fasilitas Wisata dan Ekspor, Raiser Cibinong Siap Majukan Ikan Hias Indonesia

Indoagribiz – Sebagai salah satu negara eksportir ikan hias terbesar di dunia, Indonesia menyiapkan sejumlah langkah agar komoditas tersebut semakin menjadi raja di pasar global. Salah satunya ialah menyiapkan Raiser Cibinong, Bogor yang sudah ada sejak tahun 2004 sebagai sentra ikan hias nasional.

Memadukan konsep wisata, Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) akan melengkapi Raiser Ikan Hias Cibinong dengan sejumlah fasilitas seperti display ikan hias Indonesia, sarana pengenalan ikan hias usia dini, mini teater ikan hias, akuarium pandang, kolam koi, kolam arwana, taman/spot selfi ikan hias, dan sarana olahraga jogging track.

Revitalisasi Raiser Ikan Hias Cibinong secara bertahap dan terencana ditargetkan mampu memfasilitasi dan mengayomi sekitar 3.000 pembudidaya, 100 suplier, dan 60 eksportir ikan hias di kawasan Jabodetabek.

“Kita berharap ini jadi galeri ikan hias nasional yang bukan hanya menjadi pusat bisnis ikan hias, tapi juga sarana edukasi untuk membangun kebanggaan terhadap ikan hias yang kita punya,” kata Direktur Jenderal PDSPKP, Artati Widiarti usai meninjau Raiser Cibinong, hari Minggu (20/6/2021) lalu.

Terdiri dari 4 gedung, Artati menyebut gedung 1 dimanfaatkan sebagai pusat pemasaran koi dan koki oleh Nusantara Nishikigoi Goldfish Center (NNGC) dan gedung 2 digunakan untuk pelaku usaha pemasar ikan hias.

Kemudian gedung 3 dimanfaatkan sebagai fasilitas inkubasi bisnis untuk menumbuhkembangkan pelaku usaha ikan hias. Beberapa upaya yang dilakukan Satker BBP3KP Cibinong dalam pembinaan pelaku usaha ikan hias diantaranya penyelenggaraan bimbingan teknis pemasaran dan Cara Karantina Ikan yang Baik (CKIB) Ikan Hias, Bursa Ikan Hias bagi start-up UMKM, dan fasilitasi sarana dan prasarana pemasaran ikan hias.

Selanjutnya gedung 4 akan dimanfaatkan sebagai Pusat Instalasi Karantina Ikan untuk pelaku usaha ekspor/impor, penyediaan jasa pengiriman (kargo) domestik dan luar negeri, pelayanan perawatan kesehatan ikan, dan fasilitas Pusat Logistik Berikat (PLB) ikan hias.

“Sejak didirikan pada tahun 2019, NNGC sebagai pemasar ikan hias telah mengekspor komoditasnya ke Peru, Italia, Kuwait, Ukraina, dan India. Komoditas yang diekspor adalah ikan koi dan ikan koki,” terangnya.

Artati mengungkapkan, saat ini sudah ada 11 UMKM ikan hias binaan KKP dengan komoditas antara lain koi, koki, cupang, neon tetra, guppy, dan aquascape. Tahun lalu, omzet Depo Bursa Ikan Hias yang mereka hasilkan mencapai Rp685.860.500,-.

“Tahun ini, direncanakan akan dibangun sebanyak 25 unit Depo Bursa Ikan Hias semi permanen yang sebelumnya difasilitasi hanya dengan tenda, semoga ini semakin meningkatkan omzet teman-teman tenant,” tuturnya.

Rencana tersebut disambut positif oleh Komisi IV DPR RI. Terlebih potensi Indonesia dari komoditas ikan hias dinilai luar biasa. Sebagai gambaran, nilai ekspor ikan hias periode Januari-Maret 2021 mencapai USD9,2 juta.

“Laut dan perairan Indonesia ini tempat kehidupan, tidak hanya yang kita makan, tapi juga bisa menjadi hobi dan memberikan pendapatan berlebih. Saya juga melihat, ada (ikan hias) yang ditawar Rp75 juta,” kata Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Anggia Emma Rini.

Menurutnya, pengembangan Raiser Ikan Hias Cibinong bisa menjadi bentuk kehadiran negara dalam memberikan penguatan, bimbingan, bekal yang lebih mumpuni untuk masa depan ikan hias nasional. Termasuk rencana layanan one stop service export, bisa membuka peluang UMKM ikan hias untuk masuk ke pasar global. Dia memastikan, akan mendorong peningkatan anggaran KKP yang saat ini baru mencapai 0,23% dari total APBN 2021.

“Jelas saya senang sekali, saya menyuarakan ikan hias, karena secara keseluruhan memang anggaran masih kecil sekali tapi potensinya besar. Saya ingin (anggaran KKP) lebih lagi, karena sekarang cuma 1% di tengah luasnya perairan di Indonesia,” sambungnya.

Senada, Luki Kusuma berharap Raiser Cibinong bisa menjadi wadah bagi UMKM ikan hias untuk merambah pasar ekspor. Karenanya, fasilitas karantina ikan yang baik dan benar menjadi penting agar komoditas yang dikirimkan tetap berkualitas.

“Karena kalau mereka asal ngepak di pinggir jalan, atau dengan fasilitas yang seadanya tanpa tahu teknisnya saat dikirim ikan itu akan jadi masalah bagi ikan hias itu sendiri,” kata pemilik Lucky Indo Aquatic ini.

Dia pun optimis, sosialisasi dan edukasi ikan-ikan endemik Indonesia bisa memotivasi masyakarat untuk menjadikan komoditas ini sebagai peluang di masa pandemi. Terlebih di luar negeri komoditas ikan hias Indonesia menjadi primadona.

“Mudah-mudahan one stop service di Raiser Cibinong bisa berjalan jadi mulai dari edukasi, hingga fasilitasi UMKM supaya bisa ekspor menurut kami ini ide yang brilian,” tutupnya.

Pengembangan Raiser ini juga sesuai dengan arahan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono saat mengunjungi tempat ini beberapa waktu yang lalu. Menteri Trenggono berharap kehadiran raiser ikan hias di Cibinong, selain menjadi pusat pengembangan industri dan pemasaran ikan hias, juga dapat meningkatkan kualitas, menjadi penyangga stok, sarana edukasi dan pusat informasi ikan hias Indonesia bagi dunia.

“Perlu adanya perpaduan, baik itu kontes (ikan hias), training, dan juga pengembangan. Supaya bisa menggerakkan wisata juga,” pesan Menteri Trenggono.