Rembug Jagung Nasional 2017 di Jakarta Desain Center, Jakarta (20/9/17)

INDOAGRIBIZ--Gara-gara jagung, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), banyak dikenal orang di seantero nusantara. Padahal dulu kabupaten ini sangat terbelakang, baik dari sisi pendapatan perkapita masyarakat maupun pendapatan asli daerah (PAD). Namun berkat program kebijkan “menanam jagung” dari Pemerintah Kabupaten Dompu sejak tahun 2010, maka Dompu melesat meninggalkan kabupaten-kabupaten lain di NTB. Kini, pendapatan perkapitanya paling tinggi di NTB dan daya beli masyarakat di sana paling tinggi kedua setelah Kota Bima.

“Sejak saya dilantik tahun 2010 saya langsung perintahkan semua masyarakat menanam jagung. Kini setelah tujuh tahun berjalan kami sudah bisa memanen lebih dari 81.000 ha lahan jagung,” ujar Bupati Dompu Bambang M. Yasin dalam ‘Rembug Jagung Nasional 2017’ di Jakarta, Rabu (20/9/17). Kegiatan ini diprakarsai oleh Pusat Kajian Pangan Strategis (PKPS).

Menurut Bambang, ada bebarapa alasan hingga menjadikan jagung sebagai komoditas utama di Kabupaten Dompu. Selain melibatkan masyarakat dalam jumlah besar, potensi lahan yang sesuai untuk pengembangan jagung pun sangat luas. Di sisi lain, masyarakat cukup familiar dengan tanamam jagung karena telah dilakukan secara turun temurun. Teknologi budidaya yang sederhana dan berbiaya murah serta potensi pasar yang masih terbuka karena Indonesia masih impor jagung menjadi pertimbangan lainnya.

“Tetapi intinya memang masyarakat itu perlu pendampingan dan pembinaan dari pemerintah. Sebelumnya Kabupaten Dompu dipandang sebelah mata, tapi setelah kami ‘menanam jagung’, Dompu dikenal dengan produksi jagungnya. Maka itu jagung telah menjadi pilihan tepat bagi kami di Dompu. Dengan itu pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pun meningkat,” terang Bambang.

Sependapat dengan Bambang, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Herman Khaeron juga mengomentari perlu campur tangan pemerintah dalam upaya mengembangkan perjagungan nasional. Menurutnya, dalam pengembangan komoditas jagung nasional pemerintah berkewajiban menciptakan lingkungan strategis sosial ekonomi yang kondusif bagi pengembangan usaha, guna peningkatan produktivitas, efisiensi, dan usaha berdaya saing.

“Pemerintah perlu mengupayakan peningkatan produksi benih jagung dan percepatan perbanyakan benih jagung untuk peningkatan produksi jagung. Misalnya melalui penggunaan teknologi dan inovasi pendukung serta penguatan sistem perbenihan yang dapat mendukung kemandirian benih,” ujar politisi Partai Demokrat itu.

Herman berjanji akan mendorong pemerintah untuk berkomitmen melalui pemberian dukungan fasilitas dan akselerasi pelaksanaan teknologi yang lebih advanced sehinga produk jagung lebih berdaya saing dan dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan mendukung kemandirian dan kedaulatan pangan.

Pencapaian swasembada jagung, katanya, hanya dapat diraih dengan komitmen bersama melalui pelaksanaan kebijakan yang dirumuskan dengan komprehensif dan sinergis yang melibatkan berbagai pihak terkait di antaranya legislator, pemerintah, penegak hukum, akademisi dan masyarakat.

Sebagai gambaran, perkembangan budidaya jagung di Indonesia terus mengalami kenaikan. Pada tahun 2015 produksi jagung sebesar 19,6 juta ton dan pada tahun 2016 mencapai 23,1 juta ton atau naik 18,11 persen. Sementara target tahun 2017 sebesar 25,20 juta ton. Dengan volume kegiatan utama tahun 2017 adalah jagung hibrida seluas 3,0 juta ha dan produksi benih jagung 300 ton.

Sementara itu Ketua Pusat Kajian Pangan Strategis (PKPS) Siswono Yudo Husodo mengatakan, kondisi pasar komoditas jagung terasa kurang stabil dan mengundang silang pendapat berbagai pihak penyandang kepentingan. Berbagai faktor penyebabnya adalah perubahan kebijakan impor jagung guna meredam trend semakin meningkatnya impor jagung oleh Indonesia sebesar 1,92 juta ton pada 2012 dan menjadi 3,5 juta ton pada 2015 yang disebabkan menurunnya produksi dan meningkatnya permintaan terutama untuk pakan ternak.

Sebagaimana diketahui, jagung adalah komoditas pertanian penting bagi industri pangan dan pakan nasional. Jagung menjadi bahan baku utama untuk produksi pakan ternak terutama ayam pedaging dan petelur yang merupakan sumber protein termurah untuk rakyat, juga untuk pakan ternak sapi dan ikan budidaya.

“Seiring meningkatnya kebutuhan daging dan telur di Indoneisa, maka ke depan produksi jagung perlu ditingkatkan lagi untuk menjamin tersedianya pakan ternak yang cukup,” ujar Siswono.

Siswono juga menyinggung soal budidaya jagung yang belum memperlihatkan produktivitas yang baik yang dilihat dari pola penanamannya yang tersebar serta tidak efisien dan berbiaya tinggi. Hal ini tentunya mempengaruhi terjadinya kekurangan pasokan untuk industri pakan, ketidakpastian data produksi dan peningkatan penggunaan bahan substitusi yang berasal dari produk impor. [NSS]