PPI Gandeng UMKM, Petani dan Nelayan Mitra Percepatan Ekspor
Jakarta – PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) atau PPI
menggandeng pelaku usaha mikro, kecil, menengah ( UMKM), petani dan
nelayan sebagai mitra untuk percepatan ekspor.
“Program kemitraan dengan petani, nelayan, dan UMKM adalah strategi
PPI dalam menyerap produk UMKM, terutama untuk pasar ekspor,” kata
Direktur Utama PPI Fasika Khaerul Zaman dalam keterangan tertulis yang
diterima, di Jakarta, Senin (20/7).
Menurut Fasika, komoditas kopi dari para petani kopi di seluruh
Indonesia sudah beberapa kali diekspor, dan pada waktu mendatang akan
segera diekspor kembali atau re-ekspor.
“Begitu pun dengan komoditas UMKM arang batok atau coconut charcoal
yang saat ini dalam proses re-ekspor, setelah sempat vakum karena
pandemic COVID-19 ini,” katanya lagi.
PPI sebagai agen pembangunan dalam rangka mengejar target ekspor
nasional, melakukan upaya pembukaan pasar di luar negeri, dengan fokus
pada kegiatan ekspor dan perdagangan antarnegara, melaksanakan
pameran-pameran dagang skala internasional, membentuk “Representative
Office” di beberapa negara, dan bekerja sama secara aktif dengan
perwakilan Indonesia di luar negeri melalui Indonesia Trade Promotion
Center dan atau para diaspora.
PPI mendirikan Graha Ekspor di Jakarta yang difungsikan sebagai
showroom produk milik sendiri, juga produk-produk UMKM, dan
komoditas-komoditas Indonesia yang sudah siap menembus pasar dunia.
Graha Ekspor diharapkan sebagai rumah dan export solution bagi semua
mitra bisnis untuk melihat langsung produk atau komoditas yang dicari,
sesuai dengan harapan dan kualitas yang diharapkan.
Selain menjadikan UMKM sebagai salah satu sumber suplai, PPI juga
mendorong pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa dalam rangka
memajukan perekonomian masyarakat, agar dana desa tetap berputar di
desa, sehingga akan menambah pendapatan masyarakat desa, yaitu dengan
saluran distribusi BUMNShop yang tersebar di beberapa wilayah Jawa
Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Lebih lanjut, untuk program kemitraan dengan petani, nelayan, dan
UMKM, merupakan pola sumber suplai dalam percepatan ekspor PPI. PPI
telah beberapa kali melakukan ekspor kopi ke Mesir dan Taiwan.
PPI berupaya untuk menjaga kualitas ekspor terbaik, hasil dari biji
kopi pilihan dengan pengawasan ketat, dan telah memiliki beberapa
kantor perwakilan di dalam negeri dan mancanegara.
Selain kopi, mitra PPI lainnya adalah perajin arang batok. PPI
membidik peluang ekspor coconut charcoal, yang merupakan produk
turunan utama kelapa. Potensi kelapa Indonesia sebagai produsen nomeo
satu dunia perlu dimanfaatkan dengan memperkuat hilirisasi dalam
menghasilkan produk-produk turunan kelapa yang dapat memberikan nilai
tambah langsung ke petani serta memperluas akses pasarnya.
Kemudian untuk produk hortikultura, PPI saat ini dalam persiapan pola
tanam sebagai offtaker hasil petani Lembang dan Garut, untuk rencana
ekspor ke Singapura dan negara Asia lainnya. Sedangkan untuk ikan tuna
dan hasil ikan laut lainnya merupakan hasil nelayan yang komoditasnya
diekspor oleh PPI pada awal tahun 2020.