Potensi Ekspor Sarang Burung Walet Diperkirakan Meningkat

Jakarta (Indoagribiz).  Sarang burung walet hingga saat ini masih menjadi komoditas ekspor andalan yang mampu menyumbang devisa negara. Bahkan, pada 2021 ekspor sarang burung walet diperkirakan berpotensi meningkat. Salah satu negara tujuan ekspor adalah China, dengan volume 262 ton, atau senilai Rp 25 juta per ton.

Guna meningkatkan nilai ekspor, Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPSBI) berharap  pemerintah membuat regulasi eksportir yang terdaftar. Sebab, apabila komoditas bernilai ekonomi tinggi ini diekspor ke negara lain (selain China, red), nilainya hanya Rp 600 ribu per ton.

Menurut Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPSBI), Boedi Mranata, kalau tak melalui eksportir terdaftar harganya akan turun. Hingga saat ini, kalau ekspor ke China regulasi paling jelas dibanding negara lain.

” Apabila digali dengan aturan-aturan yang jelas kemungkinan harga sarang burung walet bisa meledak dan devisa kita bisa naik,” papar Boedi, di Jakarta, Senin (25/1).

Menurut Boedi, sejak dulu sarang burung walet Indonesia sudah menjadi incaran negara-negara lain khusunya China. Apalagi, dengan keterbukaan globalisasi saat ini, sarang burung walet  mampu  menjadi andalan bagi devisa.

“Saya kira dengan evaluasi mana yang mesti diperbaiki dalam ekspor sarang burung walet, nilai ekspor kita bisa mencapai nilai ratusan triliun,” paparnya.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menilai , potensi ekspor sarang burung walet masih akan terus menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hal ini dikarenakan sarang burung walet dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan.

“Dari data pada IQFAST Badan Karantina Pertanian (Barantan) tercatat bahwa selama masa pandemi COVID-19 saja, di tahun 2020 jumlah ekspor sarang burung walet tercatat sebanyak 1.155 ton dengan nilai Rp 28,9 triliun,” kata Syahrul.

Menurut Syahrul, dari data tersebut, ekspornya meningkat 2,13 persen dari pencapaian di tahun 2019 yang hanya sebanyak 1.131 ton atau senilai Rp 28,3 triliun. Selain terjadi peningkatan, sarang burung walet dapat hidup baik dengan ekosistem yang terjaga, mulai dari hutan, laut dan sungai sebagai penghasil pakan walet alami.

Sementara itu Kepala Badan Karantina Pertanian Kementan, Ali Jamil mengatakan,  pihaknya telah memiliki laboratorium pengujian yang telah diakui oleh negara mitra dagang. Selain percepatan layanan, pihaknya juga terus melakukan inovasi teknologi perkarantinaan untuk memfasilitasi pertanian diperdagangan internasional.

Ali Jamil mengatakan, partisipasi dan dukungan dinas pertanian, peternak dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan komoditas sarang burunf walet sangat diperlukan. Terlebih lagi setiap negara tujuan memiliki protokol ekspor yang harus dilewati.

“ Karena itu, kita harus bersama-sama menjaga serta laporkan jika melalulintaskan unggas khususnya kepada petugas karantina agar sarang burung walet etap dapat berkontribusi pada pemulihan ekonomi nasional,” pungkasnya. (ind)