Porang, Kaya Manfaat Jadi Primadona Ekspor

Jakarta (Indoagribiz).  Porang, begitulah nama tanaman yang  banyak ditemukan di hutan, namun kaya manfaat. Selain sudah dibudidaya masyarakat, porang punya peluang besar sebagai komoditas ekspor.

Sejak tahun 2019, porang yang tadinya tanaman liar mulai sukses jadi primadona petani. Mengingat, tanaman ini banyak dimanfaatkan sejumlah industri di manca negara.

Ketua Umum Petani Penggiat Porang Nusantara (P3N), Ngakib Al-Ghozali mengatakan, tanaman porang sudah jadi primadona dan InsyahAllah akan terus jadi primadona. Sebab, tanaman porang menjadi kebutuhan  pokok  sejumlah industri.

“ Di Jepang, porang digunakan untuk memberi makan ratusan ribu pasukan yang sedang berperang di hampir seluruh daratan Asia seperti Korea, Cina dan lain-lain,” ujar Ngakib, dalam siaran persnya, di Jakarta, Senin (1/3).

Nah, pada tahun 1943, Jepang datang menjajah negeri ini bukan untuk mencari rempah -rempah seperti orang Eropa. Jepang menjajang Indonesia, untuk mencari makanan utama mereka yakni konjak atau porang,  bukan beras atau gandum.

Menurutnya, porang adalah fenomena zaman. Beratus ratus  tahun porang ada di bumi pertiwi ini,di pinggir jurang dan di bawah rumpun bambo.

“ Porang juga biasa ditemukan, di bawah pohon duku dan pepohonan yang rindang,di semak belukar,di hutan lebat, tanpa ada orang kita sudi menengok atau bisa memanfaatkan nya,” katanya.

Ngakib mengatakan Jepang dan Cina merupakan negara sebagai pengkonsumsi porang belakangan ini. Namun, akhir-akhir ini  kedua negara tersebut mengalami kesulitan sehingga stok porang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan.

“Tahun 2014 kemarin datanglah mereka ke Indonesia untuk cari porang karena memang sumber  porang dunia ada di Indonesia,” katanya.

Menurut Ngakib, Badan Pangan Dunia (FAO) memperkirakan krisis pangan terjadi akibat pandemi covid-19 yang berkepanjangan sehingga saat ini berbagai negara berupaya memperkuat ketahanan pangan termasuk Indonesia.

Porang termasuk pangan favorit di Jepang.Hasil olahan porang biasanya jadi produk diet dan pangan sehat. Diantaranya, untuk diolah menjadi  mie dan beras shirataki.

“ Porang bahkan 5 kali lebih baik dari beras.Melihat potensi ini banyak petani saat ini beralih menanam potang,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi mengatakan, Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah komando Mentan Syahrul Yasin Limpo terus menggenjot pengembangan porang sebagai komoditas ekspor. Di pasar ekspor, porang banyak dicari sebagai bahan makanan dan industri obat juga kecantikan sehingga harga porang pun menjadi sangat menjanjikan bagi petani.

“Kami akan terus meningkatkan budidaya porang ini dalam berbagai aspek salah satunya dalam pengamanan produksi porang,” ungkap Suwandi.

Saat ini ada 20.000 hektare (ha) lahan di Indonesia yang ditanami porang dan terus bertambah. Porang ini sudah diekspor ke 16 negara dengan negara tujuan terbesar China, Thailand, dan Vietnam dalam bentuk chips, tepung dan lainnya.

“Pada tahun 2020, sebanyak 19.800 ton porang diekspor dengan nilai Rp880 miliar,” katanya.

Suwandi  mengatakan, pihaknya terus mengawal dan menuntaskan masalah-masalah pertanian seperti hama dan serangan penyakit dengan melakukan upaya-upaya maksimal. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga dan mengamankan produksi komoditas pertanian.

“Semua harus rajin turun ke lapangan, memantau dan mengamankan pertanaman.Lakukan sosialisasi cara yang benar pengendaliannya, supaya bisa memberikan faedah bagi petani sehingga kesejahteraan petani meningkat,”  pungkas  Suwandi. (ind)