INDOAGRIBIZ–Kebiasaan pola tanam masyarakat Indonesiabyang sudah puluhan tahun pada bulan Juli-September hanya pada luas area 500 ribu hektar, sehingga membuat menipisnya stok beras di akhir tahun kini tidak ada kagi. Saat ini pada bulan-bulan tersebut bisa menembus kuasan 1 juta hektar per bulan.

“Kementerian Pertanian merubah strategi. Sudah 2 tahun berturut-turut tidak ada gejolak harga khususnya beras, mengolah tiap hari, tanam tiap hari, panen tiap hari karena kita sudah memperbaiki irigasi untuk 3 juta hektare,” ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat melakukan kunjungan bersama Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaeful Hidayat dalam rangka Operasi Pasar di Pasar Induk Beras Cipinang, pada Rabu (11/10).

Merubah penanaman menjadi 1 juta hektar pada bulan Juli-Agustus-September yang diiringi dengan membangun embung sebanyak 30 ribu dan pompanisasi oada sungai-sungai seperti Cimanuk dan Bengawan Solo. “Alhamdulillah tanaman Juli Agustus September sudah 2 tahun berturut-turut rata-rata 1 juta hektare, di sini kita hapus paceklik dengan catatan tanam 2 kali lipat (dari kebiasaan tanam) pada saat musim kering,” tambah Amran.

Perlu diketahui, kebutuhan beras nasional sekitar 2,6 juta ton per bulan, dengan pola tanam yang hanya 500 ribu hektare dan rata-rata produktivitas 6 ton per hektar (GKG), maka Indonesia hanya mampu menghasilkan 1,5 juta ton beras (50% penyusutan gabah ke beras) sehingga defisit sekitar 1,1 juta ton. Nah, dengan skema pola tanam baru 1 juta hektare per bulan defisit ini mampu dihilangkan bahkan menurut kalkulasi mampu surplus.

Sebagai barometer ketersediaan stok beras nasional, lanjut Amran, stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang terus di monitor setiap harinya. Stok saat ini di cipinang 53 ribu ton dimana stok pada periode yang sama di tahun 2013 dan 2014 berkisar 20 – 25 ribu ton atau melonjak dua kali lipat.

Hal senada juga disampaikan Direktur Utama Food Station Tjipinang Arif Prasetyo. Menurutnya, kondisi stok beras di Cipinang jauh di atas aman. “Saat ini stok Pasar Induk Beras Cipinang dalam kondisi yang sangat baik, saat ini (stok) di atas 53 ribu ton. Ini artinya kita sama-sama sudah bisa menjaga stok minimum, stok minimum di Pasar Induk Cipinang itu batas aman 30 ribu ton,” jelas Arif.

Gubernur DKI Jakarta yang turut hadir memiliki persepsi dan komitmen yang sama dalam mengawal pengendalian stok pangan dan harga. Pemerintah DKI juga fokus untuk mengamankan stok pangan.

“Kita ingin meletakkan dasar-dasar pengendalian harga di Jakarta, dasar-dasar menjamin stok pangan. Makanya kita fokus untuk mengamankan stok pangan dan ada satgas pangan dan kemarin berkat bantuan semuanya kita dapat mengendalikan inflasi di Jakarta menjelang lebaran kemarin termasuk yang terendah di dalam sejarah menjelang lebaran,” ujar Djarot

Di tempat yang sama, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan akan terus melakukan pengawawaan terhadap kebijakan penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras. “Saya minta agar aparat satgas pangan memakai seragam saat mengawal penerapan HET beras ini,” ungkap Enggar. (MOH)