Anggota DPR Soroti Pola Ekspor-Impor Buah Sayur
Jakarta – Anggota Komisi IV DPR RI Akmal Pasluddin menyoroti pola
pemerintah yang berupaya mendorong ekspor sayur-sayuran ke Jepang,
namun masih terdapat berbagai buah dan sayur impor seperti dari China
di pasar dalam negeri.
“Laporan para petani yang saya terima, saat ini sayuran dari China
seperti brokoli dan sawi telah marak di supermarket-supermarket,” kata
Akmal Pasluddin dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (9/8).
Politisi PKS itu berpendapat, seharusnya, Indonesia tidak perlu
mengimpor lagi dari China karena Indonesia merupakan negara agraris.
Akmal juga mengingatkan bahwa saat ini pemerintah melalui Kementerian
Perdagangan telah mendorong peningkatan ekspor produk hortikultura,
khususnya sayur dan buah-buahan Indonesia ke Jepang.
“Dorongan ini memang memiliki alasan kuat karena sudah berdasarkan
riset dan observasi di negara tersebut akan potensi permintaan sayur
dan buah yang mampu disuplai dari Indonesia,” ucapnya.
Ia mengemukakan ironi bahwa Indonesia sangat berpotensi besar memenuhi
pasar buah dan sayuran Jepang, tapi untuk memenuhi kebutuhan dalam
negeri mengandalkan negara lain.
Akmal mengutarakan harapannya agar keluhan para petani dapat direspons
dengan baik dengan memperbaiki tata niaga pangan terutama sayur dan
buah di pasaran.
Sebelumnya, Konsul Jenderal KJRI di Osaka Mirza Nurhidayat mengatakan
Indonesia perlu menyasar peluang ekspor produk hortikultura, terutama
buah-buahan dan sayuran dalam bentuk beku (frozen) dan kering (dried)
ke Jepang.
Mirza menjelaskan tren permintaan sayuran dan buah masyarakat Jepang
terus mengalami peningkatan. Tercatat selama lima tahun terakhir,
pertumbuhan impor produk buah-sayur Jepang mengalami peningkatan
sebesar 4,8 persen dan sekitar 1,6 persen setiap tahunnya.
“Hal ini dikarenakan beberapa faktor, antara lain semakin langkanya
produk sayur dan buah-buahan di dalam negeri Jepang, karena semakin
sedikitnya petani di Jepang. Di satu sisi, ini akan menumbuhkan satu
peluang,” kata Mirza dalam webinar bertajuk “Japan-Indonesia Market
Access Horticulture”, Selasa (21/7/2020).
Mirza menjelaskan bahwa permintaan buah dan sayuran oleh masyarakat
Jepang semakin spesifik, yakni dalam bentuk beku.
Masyarakat Jepang saat ini lebih mengutamakan mengonsumsi makanan
praktis dan tidak membutuhkan waktu lama untuk penyiapannya, mengingat
umumnya mereka sangat disiplin dan menghargai waktu seefektif mungkin.
Jika dilihat dari potensinya, pada 2019 Jepang menduduki sebagai
negara importir sayuran ke-7 di dunia dan importir buah-buahan
peringkat ke-13 di dunia dengan pangsa pasar 3,4 persen untuk sayur,
dan 2,5 persen untuk buah-buahan.
Mirza menyebutkan bahwa China, Amerika Serikat, dan Korea Selatan pada
2019 menjadi pemasok utama sayur dan buah-buahan ke Jepang. China
memiliki kontribusi terbesar yakni 57,3 persen, AS sebesar 8 persen,
dan Korea Selatan 4,37 persen.
Sedang, Indonesia merupakan negara pemasok urutan ke-13 untuk produk
buah dan sayuran ke Jepang, dan pangsanya relatif masih kecil yaitu
0,9 persen.