PITAP Hidupkan Sikap Gotong Royong dan Serap Tenaga Kerja

Karawang (Indoagribiz)—– Pengelolaan Irigasi Tambak Partisipatif (PITAP) yang dilakukan Direktorat  Kawasan dan Kesehatan Ikan (KKI) Ditjen Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), tak hanya berdampak terhadap peningkatan produksi udang. PITAP yang sudah berjalan sejak tahun 2013 juga berimplikasi langsung terhadap penyerapan tenaga kerja dan menumbuhkan sikap gotong royong masyarakat.

PITAP, merupakan kegiatan rehabilitasi saluran irigasi tambak yang dilaksanakan oleh Kelompok Pengelola Irigasi Perikanan (Poklina). Keterlibatan masyarakat maupun pembudidaya secara langsung di dalam Poklina menjadi esensi dalam kegiatan ini.

Direktur Kawasan dan kesehatan Ikan (KKI) Ditjen Perikanan Budidaya KKP, Tinggal Hermawan mengatakan, keterlibatan masyarakat  dalam pengelolaan saluran irigasi tambak tersier akan menumbuhkan rasa memiliki dalam menggunakan dan merawat saluran irigasi yang dibangun secara gotong royong.

“ Kegiatan PITAP yang tersebar di 77 kabupaten/kota penerima dan 297 Poklina cukup berhasil. Rehabilitasi saluran irigasi tersier menghadirkan volume dan kualitas air yang baik ke tambak. Kegiatan ini juga menumbuhkan semangat masyarakat untuk berpartisipasi,  sehingga menyerap banyak tenaga kerja,” kata Tinggal.

Tinggal mengatakan,  kegiatan yang bersifat padat karya ini banyak  menyerap tenaga kerja masyarakat sekitarnya, sehingga perekonomian terus bergerak. Melalui kegiatan ini  mampu mengakselerasi pemulihan ekonomi.

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Karawang, H. Abuh Bukhori mengatakan,  di Karawang ada 18 ribu hektar (ha) tambak, dan dari luasan tambak tersebut 50 persen saluran irigasinya kurang baik. Namun, melalui kegiatan PITAP yang melibatkan Poklina, sejumlah saluran irigasi tambak tersier sudah dilakukan rehabilitasi.

“Hasilnya cukup menggembirakan, saluran irigasi tambaknya  dapat berfungsi dengan baik, sehingga kebutuhan air untuk budidaya tambak tak terkendala. Luasan tambak yang dapat irigasi pun bertambah,” kata Abuh Bukhori, di Karawang, Senin (22/11).

Menurut Abuh, dengan kehadiran PITAP yang dilaksanakan oleh Poklina juga berdampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja di tengah pandemi covid 19 ini. Bahkan, dengan adanya PITAP, sifat gotong royong yang sempat luntur, saat ini mulai terbangun kembali.

“ Kegiatan PITAP memberi andil terhadap penyerapan tenaga kerja. Karena kegiatannya bersifat partisipatif, maka sifat gotong royong masyarakat tumbuh kembali. Jika sebelumnya, petambak hanya mengurusi air yang masuk ke tambaknya sendiri , saat ini  saluran irigasi tambak mulai dirawat bersama-sama,” paparnya.

Abuh juga berharap, untuk ke depannya, kegiatan PITAP di Karawang bisa dikembangkan di 9 kecamatan. Artinya, Poklina-nya nanti juga bisa dikembangkan di 9 kecamatan, bahkan sampai ke tingkat desa.

“ Saat ini Poklina hanya ada di 6 kecamatan. Ke depannya, kami harap kegiatan PITAP di Karawang bisa dikembangkan di 9 kecamatan,” ujarnya.

Tim PITAP Direktorat KKI, Ditjen Perikanan Budidaya KKP, Abdul Wakhid mengatakan,  kegiatan PITAP yang  melibatkan Poklina ada di tingkat kecamatan. Diharapkan, setelah ada penguatan kelembagaan, cakupan Poklina ke depan bisa sampai ke tingkat desa.

Meski levelnya di tingkat kecamatan, lanjut Wakhid, kegiatan PITAP mampu memberi sentuhan terhadap pengelolaan saluran irigasi tersier secara gotong-royong. Kegiatan rehab PITAP telah berjalan dengan realisasi yang diharapkan. Bahkan, adanya partisipasi masyarakat dalam melakukan kegiatan secara gotong royong , realisasinya melebihi target yang ditentukan.

“Kegiatan PITAP melibatkan banyak pembudidaya dan diperkirakan setiap Poklina minimal mempunyai 20 anggota,” ujarnya.

PITAP yang dikembangkan sejak tahun 2013,  lanjut Wakhid, mampu menyerap banyak tenaga kerja. Setidaknya, setiap kegiatan mampu menyerap sekitar 50 orang / hari.  Sedangkan lama kegiatan rata-rata 90 hari, dengan ongkos tenaga kerja antara Rp 90 ribu-Rp 100 ribu/orang.

“ Semua kegiatan rehabilitasi saluran tambak tersier dilakukan secara manual dan sifatnya padat karya. Sehingga menyerap banyak tenaga kerja. Saluran tambak yang direhab nantinya juga dipelihara secara bersama-sama, dan kegiatan ini akan menumbuhkembangkan sifat gotong royong bagi masyarakat,” paparnya.

Ketua Poklina Anugrah Sejahtera, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kab. Karawang,  Ratim Sutarjo mengatakan,  panjang saluran di Kec. Cilamanya Wetan 29 Km. Dari panjang saluran irigasi tambak tersier tersebut yang sudah direhabilitasi melalui kegiatan PITAP sepanjang 9 Km.

“ Kegiatannya kami lakukan secara gotong royong dan melibatkan banyak tenaga kerja. Ada puluhan tenaga kerja yang kami libatkan. Umumnya, mereka dari sekitar Kecamatan Cilamaya Wetan,” kata Ratim.

Ratim juga mengaku,  kegiatan PITAP dilakukan pada tahun 2016, kemudian pada tahun 2020 dan 2021.  Hasilnya, cukup menggembirakan. Rehab saluran yang dilakukan mampu mengairi tambak seluas 800 ha.

“ Tadinya, saluran irigasi ini hanya mampu mengairi tambak seluas 100 ha.  Setelah kami lakukan rehabilitasi melalui kegiatan PITAP, bisa mengairi tambak seluas 800 ha. Masyarakat yang membudidaya bandeng dan udang pun maksimal,  sebanyak 3 kali setahun,” katanya.

Menurut Ratim, kegiatan PITAP sangat menguntungkan masyarakat, karena bisa menyerap tenaga kerja, dan membangkitkan ekonomi petambak. Karena air irigasi tambak ada setiap musim, produktivitas petambak udang dan bandeng di Kec. Cilamaya Wetan pun meningkat.

Hal hampir sama dikatakan, Ketua Poklina Mitra Mina Jaya, Kec. Cibuaya, Kab. Karawang, Anang. Menurut Anang,  kegiatan PITAP sudah dilakukan sejak tahun 2016 dengan panjang saluran irigasi tambak yang telah selesai direhab 16,5 Km.  Rehab saluran irigasi tersebut mampu mengairi sekitar 5.000 Ha tambak.

“ Panjang tambak yang kami rehab melalui kegitan PITAP melebihi target. Sebab, kegiatan ini banyak melibatkan anggota masyarakat. Selain gotong royong, kegiatan ini juga mendapat dukungan para pengelola tambak,” ujarnya.

Dikatakan, kegiatan PITAP banyak menyerap tenaga kerja dan sangat membantu masyarakat yang saat ini sedang kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. “ Ya, sangat membantu. Dalam satu kegiatan rata-rata menghabiskan wakty sekitar 90 hari. Karena kegiatan ini kami lakukan secara manual. Tidak menggunakan mesin, sehingga melibatkan banyak orang,” kata Anang.

Anang juga berharap, ke depannya rehabilitasi saluran irigasi tambak di Kec. Cibuaya terus dikembangkan. Karena , kegiatan ini dinanti masyarakat, khususnya para petambak udang dan bandeng.

“  Rehabilitasi tambak yang kami lakukan mampu menyerap tenaga kerja sekitar 50 orang/hari. Masyarakat yang kami libatkan untuk bekerja dalam kegiatan rehabilitasi tambak sekitar kawasan kec. Cibuaya,” pungkasnya. (ind)

Sumber Foto. Dok : Humas Direktorat  KKI, Ditjen Perikanan Budidaya, KKP