INDOAGRIBIZ. Akademikus dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Ali Agus menyatakan peternakan di negara-negara tropis secara signifikan mampu meningkatkan kedaulatan pangan.

“Peran peternakan di negara-negara tropis menjadi penting untuk membangkitkan kemandirian karena fungsi peternakan sebagai tabungan, akumulasi modal, serta untuk menyuplai input bagi tanaman pangan melalui produksi kotoran yang dapat diolah menjadi pupuk,” kata Prof Ali Agus dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Sabtu (16/9).

Selain itu, ujar dia, upaya mengukur kontribusi peternakan pada kedaulatan pangan di negara-negara tropis sangat penting untuk mengidentifikasi keunggulan dan daya saing komoditas dan produk turunannya.

Dekan Fakultas Peternakan UGM itu menunjukkan bahwa para petani di negara tropis kerap tidak memiliki kekuatan untuk mengontrol mekanisme produksi pangan dan kebijakannya karena seringkali dianggap skala usaha kecil. Hewan ternak, kata dia, telah melekat pada kehidupan petani kecil di negara-negara tropis sehingga melibatkan rumah tangga petani kecil dalam mekanisme produksi dan kebijakan berarti ikut mengamankan kedaulatan pangan sebuah negara.

Sementara itu, Rektor Universitas Gadjah Mada Prof Panut Mulyono mengungkapkan dalam pengertian yang lebih komprehensif, kedaulatan pangan tidak hanya diartikan sebagai ketersediaan pangan, tetapi juga akses terhadap pangan yang berbasis potensi lokal.

“Indonesia dan negara-negara tropis lain kaya akan sumber daya ternak lokal dan keanekaragaman ternak. Ini adalah aset potensial yang berguna dalam pasar domestik maupun internasional di masa mendatang,” kata Prof. Panut.

Menurut Rektor UGM, sejumlah permasalahan seperti tidak seimbangnya pasokan dan permintaan produk ternak tropis di pasar, kapasitas dan kapabilitas peternak yang masih rendah, dan kurangnya inovasi dan teknologi menjadi tantangan bagi tercapainya kedaulatan pangan. Untuk itu, guna memecahkan permasalahan tersebut, diperlukan sinergi di antara para pemangku kepentingan, yaitu pemerintah, peternak, masyarakat, peneliti, dan akademikus.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo mengatakan ke depan bukan politik dan hukum yang akan menjadi penglima, tapi justru urusan pangan. “Siapa yang punya pangan, dia yang mengendalikan,” kata Presiden Jokowi saat orasi pada sidang terbuka dalam rangka “dies natalis” Institut Pertanian Bogor (IPB) di Kampus Dramaga, Kabupaten Bogor, Rabu (6/9).

Menurut Presiden, ke depan seluruh negara diperkirakan bakal berebut pangan, energi, dan air sehingga perlu disiapkan logistik yang memadai agar negara tidak mudah ditundukkan. (MOH)

Foto : dodifaizal