INDOAGRIBIZ–Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian menilai pengetahuan petani atau pelaku usaha tani padi mengenai pengendalian penyakit padi akibat serangan wereng batang coklat masih minim.

Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Balitabangtan, Dr. Moh. Ismail Wahab mengatakan, minimnya pengetahuan tentang pengendalian penyakit tersebut mengakibatkan banyak tanaman padi terserang wereng batang coklat yang sengaja didiamkan tanpa ada tindakan pengendalian.

“Masih banyak petani yang belum memahami tentang cara pengendalian penyakit virus yang ditularkan oleh wereng batang coklat tersebut,” kata dia melalui keterangan tertulis di Jakarta, Senin (13/11).

Terkait hal itu Balitbangtan terus melakukan upaya untuk memberikan pemahaman kepada petani/pelaku usaha tani padi tentang aspek-aspek berkaitan dengan penyakit tersebut.

Terkait penyakit padi yang disebabkan oleh virus, menurut dia, penyakit kerdil yang ditularkan wereng batang coklat tersebut tidak dapat disembuhkan. Penyakit virus bersifat sistemik sehingga tanaman padi yang sudah terinfeksi selain tidak akan menghasilkan. Virus juga tidak akan hilang sampai tanaman tersebut dimusnahkan (mati).

Singgang yang tumbuh dari sisa tanaman yang telah dipotong akan menjadi sumber “inokulum” bagi pertanaman sehat di sekitarnya. Bahkan hasil penelitian menunjukkan bahwa secara fisiologi pada singgang tanaman sakit yang baru tumbuh, perkembangan virus akan kembali terjadi sehingga mempunyai tingkat efektivitas yang tinggi sebagai sumber “inokulum” setara dengan tanaman muda yang sakit.

Oleh karena itu, Kepala BB Padi, meminta kepada para peneliti hama penyakit terus memberikan pemahaman kepada petani bahwa tanaman sakit yang ditemukan di lapangan harus dimusnahkan secepat mungkin. “Sebaiknya tanaman sakit dimusnahkan dengan cara dibebeskan (dipendam) ke dalam tanah sehingga benar-benar mati dan tidak muncul di atas permukaan tanah kembali,” ujar dia.

Dr. Suprihanto, peneliti penyakit BB Padi menambahkan, perlu kewaspadaan terhadap akan datangnya penyakit virus tersebut, dan harus dimulai sejak ditemukannya wereng migran (generasi 0 atau G0). Munculnya Wereng G0 atau paling lambat pada generasi pertama (G1) harus segera dilakukan pengendalian apalagi jika diketahui atau ditemukan adanya sumber inokulum.

Menurut dia, pertanaman yang tidak serempak dalam satu areal hamparan yang sama akan menyebabkan wereng coklat maupun penyakit virus selalu ada. Penggunaan insektisida yang tidak tepat, lanjutnya, juga dapat mengakibatkan terjadinya resistensi ataupun resurjensi wereng coklat. [moh]