Para pembudidaya rumput laut di Desa Wanga, Umalulu, Sumba Timur

Indoagribiz.com. Mentari sudah tergelincir ke barat, tetapi teriknya masih menyengat terasa di ubun-ubun. Panas kemarau di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, telah membuat pepohonan meranggas kemerahan. Ladang dan savana pun tampak gersang. Diperkirakan puncak kemarau tahun ini akan terjadi pada Oktober mendatang. Namun dengan kemarau panjang di kabupaten paling timur Pulau Sumba itu, justru sangat menguntungkan bagi para pembudidaya rumput laut.

Di hadapan Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto dan Wakil Bupati Sumba Timur Umbu Lili Pekuwali, Luri Manlah Marinju, koordinator para pembudidaya rumput laut di Desa Wanga, Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur, dengan lantang ia bercerita kondisi, peluang, tantangan dan harapan para pembudidaya rumput laut di sana. Meskipun potensi rumput laut di Sumba Timur sangat besar, katanya, sayangnya masih terkendala dengan keterbatasan bibit rumput laut serta minimnya permodalan.

Menurut Luri, bibit merupakan hal yang sangat penting bagi usaha pembudidaya rumput laut. Saat ini, ia dan kelompok ibu-ibu para pembudidaya masih bermasalah dengan kurangnya stok bibit rumput laut. Selama ini ia mendapatkan bibit dari hasil pembibitan rakyat atau terkadang mendapatkan dari luar Sumba Timur dengan konsekuensi harga menjadi lebih mahal. Tidak saja mahal, kualitas bibit pun bukan tergolong bibit uggulan.

“Dengan rumput laut sebenarnya kami di sini para ibu-ibu dapat membantu meringankan beban suami mencari nafkah. Dalam sebulan sedikitnya antara Rp 400 ribu sampai Rp 600 ribu kami peroleh. Ke depan jika pasokan bibit lebih mudah, kami berharap bisa mendapat perolehan keuntungan di atas Rp 1 juta per orang,” ujar koordinator pembudidaya rumput laut dengan 15 anggota itu.

Tidak saja potensi berlimpah, pengembangan usaha budidaya rumput laut di Sumba Timur mulai dari hulu sampai hilir, memang telah terbangun. Di hulu, para pembudidaya tidak merasa khawatir dengan pasar, sebab semua produk rumput laut masyarakat di sana sudah ditampung PT. ASTIL (Algae Sumba Timur Lestari), sebuah pabrik pengolahan skala industri yang berada di Desa Tanamanang, Kecamatan Pahungalodu, Sumba Timur. Pabrik ini mengolah rumput laut menjadi ATC (Alkali Treated Cottonii) atau chips. Pabrik milik BUMD Pemkab Sumba Timur ini telah menghasilkan chips sebanyak 10 ton per hari.

Plt. Direktur Utama PT ASTIL yang juga Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sumba Timur Maxon M. Pekuwali mengatakan, pabrik yang memiliki karyawan 130 orang itu, menampung seluruh produk rumput laut kering masyarakat dengan harga Rp 12 ribu per kilogramnya. Ini terbilang mahal jika dibanding di luar Pulau Sumba, di wilayah Sulawesi misalnya, di mana rumput laut masih dihargai di bawah Rp 10 ribu per kilogramnya. Kata Maxon, semua rumput laut yang diolah PT ASTIL adalah hasil pasokan sekira 4.000 orang dari 260 kelompok pembudidaya di Sumba Timur dengan dominan jenis cottoni (eucheuma cottonii) yang dibudidayakan.

Menanggapi kelangkaan bibit rumput laut, Dirjen Perikanan Buddaya Slamet Soebijakto berjanji akan membantu mengatasi kesulitan tersebut. Memang kedatangan Slamet ke sana adalah dalam rangka menyukseskan program Sentra Kelautan dan Perikanan terpadu (SKPT) yang menjadi andalan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Ada tiga lokasi yang menjadi tanggung jawab Ditjen Perikanan Budidaya (DJPB) dari 20 lokasi yang telah ditetapkan KKP. Tiga lokasi itu yakni, di Sabang, Rote Ndau dan Sumba Timur. Khusus di Sumba Timur, selain rumput laut, juga ada potensi garam dan perikanan tangkap. Tetapi rumput laut memang menjadi skala prioritas karena menilik dari potensi yang berlimpah.

Berdasarkan data yang ada, budidaya rumput laut sudah berkembang di Kabupaten Sumba Timur dengan produksi mencapai sebesar 3.582 ton pada tahun 2016. Potensi lahan budidaya rumput laut di Sumba Timur seluas 15.069,4 ha, namun baru dimanfaatkan sebanyak 449 Ha atau 0,035%. Menurut Slamet, melalui PSKPT, pemanfaatan lahan akan ditingkatkan sehingga mampu memproduksi 44.490 ton rumput laut per tahun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 71.598 orang. Demikian dengan kapasitas gudang penyimpanan pun akan ditingkatkan menjadi 500 ton yang diharapkan dapat menghasilkan produk lanjutan berupa Semi Refined Carrageenan (SRC), tidak sebatas berbentuk chips. Tahun ini, kata Slamet, gudang sudah harus terealisasi karena memang sangat dibutuhkan keberadaannya.

Kelangkaan bibit pun, menurut Slamet, ke depan akan teratasi dengan pengembangan kultur jaringan rumput laut yang sedang dikembangkan DJPB dengan mengoptimalkan peran Unit Pelaksana Teknis (UPT) di 8 UPT. “Perekayasaan teknologi akan kita kembangkan untuk pembibitan dan benih rumput laut dalam upaya mendukung pengembangan industri rumput laut nasional maupun untuk PSKPT yang terkait dengan pengembangan rumput laut seperti di Sumba Timur ini,” ujar Slamet pada sosialisasi SKPT di Sumba Timur (22/8/17).

Dirjen PB KKP Slamet Soebijakto berama Wakil Bupati Sumba Timur Umbu Lili Pekuwali saat mengunjungi sentra budidaya rumput laut.

Sebagai gambaran, pada tahun 2017 KKP melalui DJPB menyalurkan bantuan stimulan PSKPT untuk Kabupaten Sumba Timur senilai total Rp 41,4 milyar. Antara lain berupa, 75 paket sarana pembangunan kebun bibit rumput laut, 100 paket sarana budidaya rumput laut, pembangunan gudang rumput laut dan lantai jemur, pembangunan prasarana budidaya rumput laut seperti para-para, rumah ikat, dan perahu fiber, 5 paket sarana budidaya air tawar, 30 paket bantuan kapal dengan ukuran 10 GT, 20 GT dan 30 GT beserta alat penangkap ikan, serta rehabilitasi BBI Lewa dan juga pembangunan sarana pendukung lainnya seperti pembangunan Unit Pelaksana Teknis (UPT) DJPB.

“Dengan meningkatnya produksi rumput laut maupun ikan hasil tangkapan, disertai membaiknya infrastruktur seperti pelabuhan dan bandar udara, maka KKP sangat optimis bahwa program PSKPT ini dapat membuat daerah-daerah di pulau-pulau kecil maupun perbatasan dapat berkembang ekonominya sehingga menjadi sentra ekonomi yang maju dan mandiri,” terang Slamet.

Untuk itu, Slamet meminta pemerintah daerah dapat memberikan dukungan dengan membenahi infrastruktur yang ada sehingga distribusi hasil kegiatan SKPT dapat berjalan lancar bahkan mampu diekspor dan memenuhi permintaan pasar luar negeri. Terang saja, minimnya sarana seperti akses jalan menuju lokasi akan mempengaruhi kualitas produk dan cost operasional. Seperti yang terjadi di Desa Kaliuda, Kecamatan Pahungalodu, Sumba Timur, di mana akses jalan menuju sentra rumput laut yang harus melewati padang-padang savana, membuat satu masalah tersendiri yang harus segera diatasi.

Menanggapi harapan KKP ini, pemerintah Kabupaten Sumba Timur berjanji akan segera membangun infrastruktur yang dibutuhkan seperti jalan dan meningkatkan kapasitas pabrik pengolahan rumput laut yang dikelola oleh BUMD Kabupaten Sumba Timur.

Menurut Wakil Bupati Sumba Timur Umbu Lili Pekuwali, pemerintah daerah sedang membangun infrastruktur seperti pembukaan dan peningkatan akses jalan ke lokasi sentra budidaya rumput laut, pemasangan jaringan listrik baru menuju lokasi Balai Benih Ikan (BBI) dan gudang rumput laut. Umbu Lili Pekuwali juga mengatakan, Pemkab Sumba Timur telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 5 milyar untuk pengerasan jalan sebagai akses ke sentra budidaya rumput laut sepanjang 5 kilometer.

“Diharapkan dengan langkah awal ini akan membuka akses sehingga lebih lancar bagi para pembudidaya rumput laut dalam usahanya. Anggaran sebesar ini kita harapkan juga dapat menyediakan sarana air bersih di lokasi PSKPT,” ujar Umbu Lili.

Sistem permodalan

Lebih jauh Slamet mengungkapkan, selain di bidang perikanan budidaya, SKPT di Sumba Timur juga menyentuh pada kegiatan usaha di bidang perikanan tangkap. Saat ini jumlah nelayan di Kabupaten Sumba Timur sebanyak 3.092 orang dan kedepan diharapkan jumlah nelayan akan menjadi 6.983 atau bertambah 3.891 orang. Armada kapal penangkapan ikan juga diharapkan dapat berkembang dari 3.068 unit menjadi 3.652 unit atau bertambah 584 unit.

Dengan bertambahnya jumlah nelayan, armada kapal penangkapan ikan, modernisasi alat penangkapan ikan dan ukuran kapal maka diharapkan produksi perikanan tangkap dapat meningkat dari 11.967 ton atau rata–rata 6 ton per hari pada tahun 2016 meningkat menjadi 37.173 ton atau lebih dari 18,5 ton per hari setelah beroperasi dan berkembangnya SKPT.

Slamet juga menyatakan, selain stimulasi dari berbagai bantuan pemerintah, SKPT juga bisa didorong oleh sistem permodalan dari lembaga keuangan mikro. Saat ini di sektor kelautan dan perikanan, keberadaan Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP), sebagai penyangga permodalan bagi dunia usaha kelautan dan perikanan telah terbentuk. Diharapkan dengan sistem permodalan dengan bunga rendah akan dapat membantu mengembangkan suatu kawasan PSKPT.

Direktur LPMUKP Syarif Syahrial menegaskan, pihaknya siap membantu para pelaku usaha kelautan dan perikanan untuk permodalan yang dibutuhkan. Namun demikian, bagi koperasi yang akan melakukan pinjaman, LPMUP terlebih dahulu akan melakukan pembinaan dan pendampingan. Untuk hal ini, menurut Syarif, pihaknya akan merekrut para penyuluh perikanan di tiap daerah untuk menjaring koperasi atau individu yang akan meminjam permodalan melalui lembaga keuangan ini.

“Kami menunggu proposal pengajuan, baik dari koperasi maupun individu. Hingga saat ini memang sudah ada 10 lokasi yang sedang kita teliti dan seleksi. Jika memenuhi persyaratan maka bisa kita tingkatkan ke upaya pembinaan dan pendampingan tadi,” ujar Syarif Syahrial di sela pelaksanaan program PSKPT di Sumba Timur, beberapa waktu lalu.

Ia juga menambahkan, maksimal pinjaman untuk satu koperasi bisa mencapai Rp 400 juta dan akan dipertimbangkan kembali untuk meminjam modal berikutnya jika berkomitmen dalam pengembaliannya. Sementara bunga yang ditetapkan untuk pinjaman tersebut besarannya tidak lebih dari 4 persen per tahun, jauh lebih kecil bila dibanding dengan bunga perbankan yang mencapai 17 persen per tahun. [NSS]