Oleh: Muhibbuddin Koto*

Sejak diterbitkannya Permen KP No. 1/2015 (awal tahun 2015), kemudian direvisi dengan Permen KP No. 56/2016, pro – kontra regulasi ini masih terjadi sampai hari ini. Mengemuka disetiap Seminar, FGD dan Workshop nasional dalam bidang lobster tiga tahun terakhir : bahwa regulasi ini _aneh_ dan tidak akademik.

Tercatat bahwa Indonesia memiliki potensi lobster tropis terbesar dunia. Setidaknya ada 6 jenis lobster ekonomis
yang dihasilkan laut Indonesia:
1. _P. pennicillatus_
2. _P. homarus_
3. _P. versicolor_
4. _P. longipes_
5. _P. ornatus_
6. _P. pakistany_

Berdasarkan data dari KKP volume ekspor lobster tahun 2009? (6 rb ton), 2013 (5,15 rb ton) 2014 (4,34 rb ton) dan Susi Pujiastuti (2015) menyatakan bahwa ekspor lobster Indonesia merosot tinggal 300 an ton. Penurunan ini disinyalir disebabkan karena terjadinya pembiaran ekspor lobster bertelur dan benih secara besar besaran. Sehingga terbitlah Permen KP No. 1/2015 dan direvisi melalui Permen KP No. 56/2016.

Akhirnya, 6 ribuan nelayan dan pembudidaya lobster di Lombok dan lebih 10 ribu nelayan di pulau Jawa kehilangan sumber mata pencarian. Sangat mengangetkan bagi nelayan dan pembudidaya lobster, karena profesi yang sudah mereka lakoni sejak tahun 2000 an, seketika harus dihentikan dengan terbitnya Permen tersebut.

Saat ini, setelah 3 tahun pemberlakuan pelarangan penangkapan bibit lobster, semestinya lobster sudah melimpah di laut Indonesia. Tiga tahun adalah waktu yang cukup bagi lobster dari ukuran larva untuk mencapai ukuran konsumsi (200 gr up).
Sejauh ini belum ada informasi, seberapa besar dampak larangan penangkapan bibit lobster terhadap peningkatan stock lobster di alam.

Gurihnya bisnis bibit lobster ekspor

Tahun 2014 setidaknya 50 juta ekor bibit lobster diekspor ke Vietnam, bahkan ada yang mengatakan lebih dari itu. Berdasarkan Sensus Benih ACIAR priode 2013 – 2014 , tertangkap 3.5 – 4 juta ekor per tahun di Lombok. Sedangkan berdasarkan jumlah nelayan lobster dan sarana yang mereka miliki, diperkirakan di perairan Jawa jumlah hasil tangkapanya sekitar 15 kali Lombok (52.5 juta ekor/tahun)
Dengan teknologi penangkapan yang semakin berkembang, jumlah hasil tangkap bibit ini bisa ditingkatkan sampai belasan kali, mengadopsi teknologi dari negara yang lebih maju.

Kebutuhan bibit lobster negara Vietnam sangat besar, ada yang mengatakan _unlimited_, Vietnam butuh suplay bibit lobster dari Indonesia, karena produksi dalam negeri mereka hanya mencukupi 25% dari bibit yang dibutuhkan. Bibit lobster alam di Vietnam hanya bisa ditemukan pada bulan Desember sd Maret setiap tahunnya, sementara di Indonesia bibit lobster bisa didapatkan sepanjang tahun (melimpah dari bulan Maret sd September setiap tahunnya)

Kekuatiran habisnya bibit lobster di alam akibat dari penangkapan perlu dicermati lagi. Perairan Indonesia mendapat berkah kekayaan atas produksi bibit lobster sangat besar sekali. Dengan asumsi produksi lobster 6000 ton per tahun, setidaknya ada 6 juta kg ukuran konsumsi di alam (populasi tentu puluhan kali dari jumlah tersebut). Jika ukuran matang reproduksi rata 0.5 kg, maka ada 12 juta ekor di alam. Secara biologi akan ada 6 juta ekor betina. Vijayakumaran _et al_(2012) melaporkan bahwa fekunditas dari lobster sekitar 700 rb dan bisa bertelur 1 – 2 kali per tahun. Setidaknya 4.2 T telur lobster dihasilkan, jika diasumsikan 1% yang berhasil mencapai ukuran 0.1 – 0.5 gr (bibit transparan, ekspor), maka alam setidaknya telah menyediakan sebanyak 42 milyard bibit per tahun.
*Jadi penangkapan 200 juta bibit per tahun (100 juta untuk ekspor dan 100 juta untuk budidaya di dalam negeri tidak berpengaruh signifikan terhadap tujuan _sustainability_ )*

Ekspor 100 juta ekor bibit lobster berpeluang mendatangkan devisa 7.5 T per tahun.
Budidaya dengan basis 100 juta ekor bibit lobster berpeluang menghasilkan devisa minimal 15 T per tahun (teknologi budidaya setara Vietnam)
Gabungan punya potensi menghasilkan devisa 22.5 T per tahun.

Semestinya Pemerintah mengambil peluang ini: *mengatur quota ekspor benih dan mengembangkan teknologi budidaya untuk masyarakat pembudidaya*.

Menjadi aneh jika justru ribuan eks nelayan dan pembudidaya lobster dialihkn jadi Pembudidaya Lele, Bawal Bintang, Kerapu, dll yang dilakukan tahun 2017 kemarin di Lombok. Sekitar 50 M telah digelontorkan untuk program ini. Info terakhir, program ini sebahagian besar gagal. Misalnya, terjadi gagal produksi Pembudidaya Kerapu penerima bantuan, bibit banyak mati sehingga sebahagian besar pakan bantuan akhirnya dijual murah ke pihak lain. Dikuatirkan juga terjadi terhadap pembudidaya komoditi lain, karena bukanlah hal yang mudah merubah nelayan dan atau pembudidaya lobster beralih ke komoditi lain.

Seharusnya Pemerintah meninjau ulang Permen KP No. 56/2016, bahkan tidak perlu malu untuk mencabut Permen yang fenomenal dan kontoversial ini. Lakukan kajian yang menyeluruh dan libatkan stakeholder. Indonesia sudah banyak memiliki pakar tentang perlobsteran, bahkan ahlinya sebahagian ada diinternal KKP (BRSDM dan DJPB)

Harapannya agar Lobster dapat berkontribusi menggesa Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia