Peneliti: Pemerintah Perlu Waspadai Dampak Iklim Terhadap Stok Beras
Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh
Octania mengatakan pemerintah perlu mengantisipasi dampak perubahan
iklim pada ketersediaan stok beras dan komoditas pangan lainnya di
berbagai daerah.
Galuh dalam siaran pers di Jakarta, Kamis (16/7), mengingatkan bahwa
pada kemarau ekstrim tahun 2019 bahkan berdampak pada menurunnya
produksi beras sebesar 7,76 persen.
“Kondisi iklim yang tak menentu harus diwaspadai karena dapat
berpengaruh pada penyerapan beras pada musim panen kedua tahun 2020,
yang diprediksi oleh Bulog akan berlangsung sekitar September-November
nanti. Jika melihat dari harga beras melalui Pusat Informasi Harga
Pangan Strategis nasional, harga beras cenderung berada di kisaran Rp
11,900 per kilogram atau stabil tinggi sejak April 2020,” paparnya.
Menurut dia, untuk menjaga kestabilan harga beras di semua wilayah di
Indonesia, pendistribusian beras oleh Bulog harus dikelola dengan baik
agar mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
Ia berpendapat bahwa pendistribusian yang merata bertujuan untuk
menghindari terjadinya ketimpangan harga antara harga beras di wilayah
yang surplus produksi berasnya dan wilayah yang produksinya mengalami
defisit.
“Perhitungan pun harus dilakukan secara berkala, dengan
mempertimbangkan kejadian-kejadian yang tidak dapat diprediksi, jangan
sampai harga beras nanti terus berada dalam level tinggi atau perlahan
naik. Karena jika perhitungan menunjukkan perlunya pengadaan beras
dalam jumlah yang lebih banyak, mau tidak mau perhitungan untuk impor
juga harus dilakukan jauh-jauh hari untuk menghindari keterlambatan
akibat proses panjang impor yang harus dilalui,” jelas Galuh.
Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menegaskan bahwa
Indonesia tidak memerlukan opsi impor mengingat stok beras yang
diperkirakan mencukupi untuk kebutuhan nasional hingga akhir Desember
2020.
Budi Waseso menyebutkan bahwa stok beras yang dikelola Bulog saat ini
mencapai 1,4 juta ton. Volume tersebut dinilai masih terjaga dengan
stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang harus dikelola Bulog di
kisaran 1-1,5 juta ton.
“Sampai hari ini kita masih punya (stok beras) 1,4 juta ton, ini juga
masih berlangsung penyerapan, jadi ini yang meyakinkan saya bahwa
beras kita ini cukup untuk kegiatan sampai bulan Desember,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa saat ini Bulog masih memaksimalkan penyerapan
produksi gabah petani dari panen musim pertama yang berlangsung April
sampai Juni.