Jaga Ketahanan Pangan, Kantor Staf Presiden Dukung Pengembangan P2L Kementan
Cirebon – Memanfaatkan lahan pekarangan menjadi salah satu upaya
strategis Kementan dalam penyediaan pangan di era new normal. Hal ini
seringkali diutarakan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam
berbagai kesempatan. Melalui kegiatan Pekarangan Pangan Lestari (P2L),
diharapkan ketahanan pangan tetap terjaga di tengah kondisi pandemi
yang berdampak pada perekonomian.
Hal ini didukung oleh Deputi III Kantor Staf Presiden (KSP), Panutan
Sulendrakusuma saat berkunjung ke Kelompok Wanita Tani (KWT) Sumber
Rejeki di Desa Budur Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon pada
Selasa (8/9).
“Setelah melihat pekarangan pangan di sini, sayuran dan sumber
proteinnya juga bagus, saya optimis ke depan kalau kita kelola dengan
baik kita tidak akan kekurangan pangan,” ujar Panutan dikutip dari
laman resmi Kementerian Pertanian, Sabtu (12/9).
Panutan juga mengatakan, pihaknya mendorong pemanfaatan pekarangan
sebagai upaya menjaga ketahanan pangan.”Kami di KSP, mempunyai tugas
mengendalikan program prioritas nasional salah satunya ketahanan
pangan. Jadi kami ikut memantau, dan kalau misalnya ada kendala kami
turut membantu,” ungkap Panutan.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Ketahanan Pangan Agung
Hendriadi mengatakan, pekarangan sangat potensial untuk dimanfaatkan
sebagai sumber pangan bagi keluarga dan juga sebagai sumber
pendapatan.”Pemerintah menyadari betul P2L sangat membantu di saat
kondisi sekarang ini dimana kondisi perekonomian menurun, sementara
kita perlu makan yang sehat, beragam, berkualitas, yang dapat dipenuhi
dari pekarangan,” ujar Agung.
Sementara itu, Ketua KWT Sumber Rejeki, Ernawati, mengungkapkan bahwa
bantuan pemanfaatan pekarangan sangat berarti bagi kelompok untuk
berkembang. Dia menggunakan irigasi kapiler, yaitu model budidaya
tanaman dalam polybag atau wadah yang diberi akses air terus menerus
melalui kapiler berbahan kain flanel.”Dengan kapiler ini menghemat
biaya, kami tidak perlu lagi membayar biaya listrik seperti pada
sistem hidroponik,” jelas Ernawati.
Sistem kapiler ini juga diintegrasikan dengan budidaya ikan sehingga
selain memproduksi sayuran, pada saat yang sama juga kebutuhan protein
hewani terpenuhi.
Di demplot KWT ini aneka sayuran ditanam seperti kangkung, pokcay,
seledri, terong, dan cabai. Erniwati mengakui dia dan kelompoknya
dapat menghemat pengeluaran hingga 30 ribu rupiah per hari.”Dari
pekarangan ini kebutuhan sayuran kami bisa terpenuhi dan tidak lagi
harus belanja ke pasar,” bebernya.
Bahkan produk sayuran dari kelompok ini juga sudah dijual ke para
pedagang sayur, juga masyarakat yang membeli langsung ke kelompok.
Agung meminta agar dinas pangan setempat mengembangkan pemasaran
produk hasil P2L.”Dua hal yang harus diperhatikan, yaitu kualitas
produk dan kontinuitasnya. Karena itu, saya minta Pak Kadis untuk
mengembangkan pemasaran dari produk P2L ini,” tegas Agung.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Cirebon, Muhidin, yang hadir
dalam kesempatan tersebut mengatakan kesiapannya untuk mendorong
pengembangan P2L.”Kita dorong pengembangan P2L ini agar masyarakat
mendapat tambahan penghasilan dari pekarangan, sehingga meningkatkan
kesejahteraan,” ujar Muhidin.