Beras dari Banyuasin

INDOAGRIBIZ–Sejak awal Januari tahun ini, panen padi di Banyuasin, Sumatera Selatan, tidak pernah hentinya dan terus meningkat luas panennya mencapai 780 ha. Umumnya merupakan lahan sawah pasang surut.

“Sekitar 90 persen panen setiap harinya di Banyuadin berasal dari sawah pasang surut Air Salek dan Muara Telang. Sudah lebih satu minggu ini panen padi di atas 500 ha setiap hari dan terus meningkat setiap harinya. Hari-hari berikutnya luas panen semakin meningkat, dan diperkirakan berakhir di bulan Pebruari,” ungkap Didik dari Dinas Pertanian Kab. Banyuasin sebagaimana dikutip laman resmi Kementerian Pertanian, Sabtu (20/1).

Panen padi di bulan Januari ini disambut suka cita oleh petani karena harga gabah cukup bagus dibandingkan bulan Desember kemarin. Provitas yang dicapai 5-7 ton GKP per hektar, cukup tinggi untuk ukuran sawah pasang surut.

“Apalagi tidak ada serangan OPT yang serius terhadap tanaman padi. Ini merupakan berkah bagi petani yang melakukan percepatan tanam dan peningkatan luas tanam, sehingga bisa panen di bulan Januari ini,” ujar Priatna Sasmita Kepala BPTP Balitbangtan Kementan Sumsel.

Menurut Zainudin Arifin, Korlap Upsus kec. Air Salek, panen padi di Air Salek mencapai 300 ha dan makin meluas setiap harinya. Combine harvester yang tersedia harus bisa dimobilisasi dan diorganisir dengan baik agar semua sawah yang siap panen terlayani semua.

Hal senada juga disampaikan Edi Sarwono Korlap Upsus Kec. Muara Telang, yang luas panennya pada Rabu ini (17/1) mencapai 314 ha, dan akan terus meningkat setiap harinya.

Saat panen padi di pasang surut Banyuasin, jalur sungai menuju sungai musi diramaikan oleh tongkang-tongkang yang mengangkut gabah keluar. Hampir keseluruhan hasil panen padi di pasang surut Banyuasin diangkut keluar, baik untuk penggilingan padi di wilayah Sumsel maupun provinsi sekitarnya. Mestinya yang diangkut keluar adalah beras bukan gabahnya.

“Kita harus dorong tumbuhnya industri penggiling padi skala kecil menengah disini, sehingga hasil sampingnya dapat dimanfaatkan, seperti bekatul, dedak dan sekam untuk pakan dan bahan bakar, maupun untuk pengembangan produk lain yang lebih bernilai. Berkembangnya industri penggilingan padi di sentera produksi akan memacu pertumbuhan ekonomi di wilayah pasang surut,” ungkap dia. [moh]

Foto : laman resmi Kementerian Pertanian