Pasar Luas, Agribisnis Kakao Masih Menjanjikan

Jakarta (Indoagribiz).  Agribisnis kakao di tanah air pada tahun 2021 masih menjanjikan. Selain memiliki pasar dalam negeri yang cukup luas, olahan kakao juga sudah tembus pasar ekspor. Bahkan, dari sisi industri olahan kakao, Indonesia saat ini menempati urutan ketiga dunia (500.000 ton/tahun), setelah Pantai Gading dan Belanda.

Ketua Umum Dewan Kakao Indonesia, Dwiatmoko Setiono mengatakan, bisnis kakao masih menarik, karena ada pasar, lahan budidaya luas, dan tersedianya infrastruktur berupa mesin pengolah kakao yang modern. Kakao juga menjadi sumber kehidupan 1,7 juta petani Indonesia (5 persen penduduk).

“ Karena sudah masuk pasar ekspor, agribisnis kakao pun menjadi sumber devisa negara. Pemasukannya sebagai devisa negara sekitar  1 miliar dollar AS/tahun,” kata Dwiatmoko, dalam sebuah webinar, di Jakarta, Kamis (21/1).

Menurut Dwiatmoko, agribisnis dan agroindustri kakao bisa didorong dengan sinergi antar stakeholder. Artinya, untuk memenuhi kebutuhan industri kakao, dan mengurangi impor bahan baku kakao, petani bisa didorong untuk meningkatkan produktivitas kakaonya.

“ Tentunya bisa dilakukan dengan bertahap. Tak harus 1 ton per tahun. Bisa mulai dari 400 kg, 500-700 kg/ha per tahun,” ujarnya.

Dwiatmoko juga mengatakan, tanaman kakao bisa dimanfaatkan petani untuk melestarikan lingkungan. Sehingga, petani yang tanam kakao bisa melakukan tumpang sari dengan tanaman pangan lainnya seperti pinang. Tercatat, luas perkebunan kakao 1,6 juta ha. Dari luasan kebun kakao tersebut, 97 persen diusahakan oleh rakyat.

“ Dulu, tanaman kakao hanya dikenal di Sulawesi. Saat ini tanaman kakao sudah menyebar dari Sabang-Merauke. Dari kakao yang ditanam  petani ini hasilnya berbeda-beda, tergantung cara merawat dan kesuburan lahannya,” paparnya.

Lantaran banyak diusahakan petani kecil, lanjut Dwiatmoko, agar produktivitasnya tinggi, tanaman kakao harus dikelola dengan baik. Diantarnya dengan penyiangan, pemupukan dan pemangkasan. Petani pun harus menerapkan teknologi sesuai dengan GAP dan pemerintah harus melakukan pendampingan manajemen keuangannya.

Menurut Dwiatmoko,  industri olahan kakao  seperti cocoa butter, cake, powder, maupun liquor sangat potensial dikembangkan industri besar hingga industri kecil menengah (IKM).  Bahan baku olahan tersebut sangat diperlukan untuk industri makanan dan minuman, yang menghasilan produk berbasis cokelat.

“ Industri olahan kakao terus berkembang pesat. Sehingga, produk kakao bisa masuk kemana-mana Termasuk ke IKM yang cukup kreatif dalam menghasilkan produk makanan berbasis cokelat,” pungkasnya. (ind)