IndoAgribiz(Jakarta). Upaya pengembangan teknologi dalam budidaya perikanan terus dilakukan, dan terbukti berhasil, salah satunya yaitu inovasi teknologi budidaya lele sistem bioflok. Teknologi sistem bioflok menjadi sangat popular saat ini, karena mampu mengenjot produktivitas lele yang tinggi, penggunaan lahan yang tidak terlalu luas dan hemat sumber air.

Sebagai gambaran, teknologi ini merupakan bentuk rekayasa lingkungan yang mengandalkan suplai oksigen dan pemanfaatan mikroorganisme, yang secara langsung dapat meningkatkan nilai kecernaan pakan. “Bioflok ini menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, apalagi saat ini produk lele sangat memasyarakat sebagai sumber gizi yang digemari”, imbuh Slamet Soebjakto Direktur Jenderal Perikanan Budidaya.

Sebagai perbandingan, untuk budidaya dengan sistem konvensional dengan padat tebar 100 ekor/m3 memerlukan 120-130 hari untuk panen, sedangkan untuk sistem bioflok dengan padat tebar 500-1000 ekor/m3 hanya membutuhkan 100-110 hari saja. Disamping itu penggunaan pakan lebih efisien, jika pada teknlogi konvensional FCR rata-rata 1,2, maka dengan teknologi bioflok FCR dapat mencapai 0,8.

Dibanyak daerah teknologi lele bioflok terbukti sangat efisien, sebagai ilustrasi dengan rata-rata padat tebar 1.000 ekor/m3, maka dalam satu kolam bulat ukuran diameter 3 m, dapat ditebar benih lele sebanyak min. 3.000 ekor, dan mampu  menghasilkan  lele konsumsi mencapai > 300 kg per siklus (100-110 hari). Artinya jika dibanding dengan teknologi konvensional, budidaya sistem bioflok ini mampu menaikan produktivitas > 3 kali lipat.

Begitupun secara itung-itungan bisnis, usaha ini juga sangat profitable. Sebagai gambaran dalam 1 (satu) unit usaha (25 lubang kolam diameter 3 m), akan menghasilkan produksi sebanyak 7,5 ton per siklus, dengan kata lain pembudidaya dapat meraup pendapatan sekitar 420 juta per tahun atau sekitar 35  juta per bulan. Salah satu kelebihan lain, bahwa pengembangan lele bioflok juga dapat diintegrasikan dengan system hidroponik, secara teknis air buangan limbah budidaya yang mengandung mikroba dapat dimanfaatkan sebagai pupuk  yang baik bagi sayuran.