Peneliti: Pandemi Berdampak Kepada Disrupsi Sektor Pertanian
Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh
Octania mengingatkan pandemi COVID-19 dapat berdampak kepada
peningkatan sejumlah tantangan yang harus betul-betul diantisipasi dan
dihadapi terkait kinerja sektor pertanian Nusantara.
“Dengan adanya pandemi ini, petani kita semakin kesulitan untuk
menanam dan memasarkan hasil panennya,” katanya dalam rilis di
Jakarta, Minggu (5/7).
Galuh menyatakan pandemi COVID-19 sudah turut menciptakan disrupsi di
sektor pertanian, sebagaimana yang terjadi di sektor lainnya seperti
kurang terserapnya hasil panen petani karena menurunnya daya beli
masyarakat, adanya kebijakan pembatasan aktivitas warga (PSBB), dan
berkurangnya tenaga kerja di sektor ini yang menyebabkan turunnya
produksi.
Melihat potensi tidak menentunya cuaca, lanjutnya, maka percepatan
tanam padi harus dilakukan dengan semaksimal dan seefektif mungkin.
“Memasuki masa new normal, petani diharapkan bisa kembali menanam.
Namun, pemerintah hendaknya bisa memastikan bahwa mereka harus tetap
menerapkan protokol kesehatan standar demi menjaga kelancaran proses
bertani,” katanya.
Selain itu, ujar dia, pemerintah juga diharapkan dapat tetap menjamin
kesejahteraan petani jika ternyata kemarau dan gagal panen kembali
terjadi.
Skema pendampingan dan pemberdayaan bagi petani lewat
stimulus-stimulus yang ada harus ditingkatkan agar nilai tukar petani
pun dapat mengalami perbaikan.
“Sistem produksi pangan dapat terus ditingkatkan dengan korporasi
antara petani. Begitupun dengan sistem distribusi pangan tersebut
nantinya. Selain tentunya penyerapan domestik tetap harus dilakukan,
diversifikasi pasar perlu dijadikan strategi agar produk-produk
pertanian, utamanya beras, tetap dapat memperoleh pasar penjualan di
masyarakat,” paparnya.
BMKG memperkirakan bahwa kemarau sudah mulai masuk wilayah Indonesia
awal Mei 2020. Musim hujan yang tersisa kemudian diprediksi hanya
terjadi akhir Mei dan berakhir Juli.
Hal inilah yang kemudian membuat Kementerian Pertanian berusaha
mengejar percepatan tanam padi pada musim hujan yang tersisa pada Juni
hingga Juli.
Sebesar 5,6 juta hektare percepatan tanam padi ditargetkan oleh
Kementerian Pertanian pada musim tanam kedua tahun ini.