Antisipasi Stunting, Balitbangtan Masyarakatkan Padi Inpari Nutri Zinc
Jakarta – Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan)
melalui BPTP Jawa Barat bekerjasama dengan penyuluh Balai Besar
Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) dan penyuluh
Kota Bogor melakukan penanaman padi varietas Inpari Nutri Zinc untuk
mengantisipasi stunting atau kekerdilan.
Pada Februari 2020 lalu, penyuluh Kota Bogor, penyuluh Balai Besar
Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) dan BPTP
Balitbangtan Jawa Barat melakukan kerjasama penanaman padi varietas
Inpari Nutri Zinc di lahan seluas 1 hektare milik Kelompok Tani Fajar
Gumbira.
Kepala BBP2TP, Muhammad Taufiq Ratule menyatakan mengapresiasi upaya
inisiasi para penyuluh BBP2TP yang memasyarakatkan varietas ini di
petani Kota Bogor.”Dalam rangka dukungan pengentasan angka stunting di
Indonesia, varietas ini juga mulai dikembangkan di berbagai daerah
melalui sinergi Pemda setempat dan BPTP Balitbangtan,” katanya melalui
keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (2/7).
Setelah berumur 110 hari, pada 4 Juni 2020 mulai dilakukan panen
dengan produktivitas padi Inpari Nutri Zinc hasil inovasi Balitbangtan
yang di tanam di areal persawahan di Kota Bogor, Jawa Barat itu
mencapai 7,9 ton/hektar (ha) gabah kering panen (GKP).
Berdasarkan data deskripsi yang dikeluarkan melalui Surat Keputusan
Menteri Pertanian tahun 2019, kandungan Zn yang terdapat pada varietas
Inpari nutri zinc adalah sebesar 34,51 ppm, sementara varietas lain
seperti Ciherang memeiliki kandungan 24.06 ppm.
Biofortifikasi pada Inpari IR Nutri Zinc diharapkan dapat membantu
peningkatan nilai gizi sekaligus mengatasi kekurangan gizi. Dari
literatur diketahui, kekurangan Zn dalam tubuh selain berakibat pada
menurunnya daya tahan tubuh, produktifitas, dan kualitas hidup
manusia, kekurangan gizi Zn juga menjadi salah satu faktor kekerdilan
atau stunting masyarakat.
Camat Bogor Barat RR Juniarti Estiningsih yang ikut hadir dalam
kegiatan panen padi Inpari Nutri Zinc mengatakan pihaknya akan terus
mendorong pengembangan varietas ini di lahan sawah yang berada di
Bogor Barat.
“Bersama Dinas Kesehatan kami berencana menyolialisasikan jenis beras
ini ke masyarakat terutama di wilayah rawan stunting,” katanya