Kementan Pacu Inovasi Tanaman Hias Untuk Ekspor
Cianjur – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penelitian
dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) terus memacu inovasi
teknologi tanaman hias guna mendongkrok kualitas dan volume ekspor
sekaligus menambah devisa negara. Selain itu, berbagai varietas unggul
tanaman hias yang dihasilkan melalui penelitian juga akan memberi
dampak luas serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan pihaknya
terus melakukan terobosan salah satunya dengan ekspose inovasi tanaman
hias yang memiliki potensi tinggi dapat tumbuh di alam Indonesia, baik
dataran tinggi maupun rendah. Saat ini, Indonesia memiliki berbagai
varietas khas tanaman hias yang sangat dibutuhkan bahkan diminati
hampir seluruh negara di dunia seperti Jepang, Asia , Saudi Arabia,
Arab, Inggris, Eropa maupun di Negara Amerika.
“Pengembangan ekspor sementara kita tata makin kuat dan makin
produktif. Seperti bunga krisan kita sudah menghasilkan devisa besar.
Kementan juga meakukan inovasi bunga krisan yang tadinya hanya bisa
ditanam di dataran tinggi kini sudah bisa ditanam di dataran rendah,”
demikian ujar Mentan Syahrul pada acara ekspose inovasi tanaman hias
di Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi), Balitbangtan, Cipanas,
dikutip dari laman resmi Kementerian Pertanian, Jumat (13/11).
Syahrul mengatakan pengembangan tanaman hias ini sejalan dengan upaya
pemerintah dalam mendorong ekspor komoditas unggulan sebagai sumber
devisa. Di antara tanaman hortikultura yang dikembangkan secara
komersial di Indonesia, tanaman florikultura memiliki potensi ekspor
yang sangat tinggi. Pada saat ini preferensi pasar internasional mulai
berubah ke arah tanaman hias tropis.
“Hal ini memberi peluang bagi para pengusaha di dalam negeri,
mengingat potensi pengembangan tanaman hias tropis di Indonesia sangat
tinggi karena Indonesia memiliki kekayaan genetik florikultura yang
terbesar di dunia,” jelasnya.
“Pengembangan industri florikultura memerlukan dukungan inovasi secara
berkelanjutan yang berupa Varietas Unggul Baru dan teknologi
pendukungnya. Ketersediaan inovasi unggul merupakan faktor kunci dalam
pengembangan subsektor florikultura,” jelas Syahrul.
Lebih lanjut, Syahrul menyebutkan kedepan Kementan akan melakukan
sebuah langkah yang lebih besar dalam menghadirkan berbagai aktivitas
komoditi pertanian yang makin terarah, makin maju dengan berbagai
hasil riset, kemudian makin modern. Langkah ini tentunya merupakan
bagian-bagian dari upaya-upaya untuk memandirikan masyarakat sehingga
bisa bertumbuh dengan baik di seluruh Indonesia.
“Litbangtan menjadi penting untuk saya. Negara yang tertinggal itu
karena Litbangnya yang tertinggal. Kenapa Jepang bisa lebih baik,
kenapa Taiwan risetnya lebih baik, karena memiliki penelitian lebih
berkualitas karena negara memfasilitasi sehingga riset itu makin
berkembang dan itu menjadi ukuran,” tuturnya.
Selain itu, tegas Syahrul, ditengah Pandemi Covid 19, pertumbuhan
ekspor komoditas pertanian dan pertanian menjadi penyumbang
pertumbuhan tertinggi untuk perekonomian Indonesia. Oleh karena itu,
sektor pertanian memiliki kekuatan yang sangat besar dan sektor yang
paling siap untuk menunjang pertumbuhan ekonomi makro.
“Jika mau buat pesawat atau mau buat mobil atau kalau mau buat
televisi masih panjang (lama) itu sehingga yang paling siap itu adalah
pertanian saat ini. Karena itu, riset menjadi sesuatu yang utama
memajukan pertanian yang berdaya saing,” bebernya.
“Melalui ekspose inovasi tanaman hias ini para stakeholder dapat
berkomunikasi yang ditindaklanjuti dengan inisiasi kerjasama di bidang
pengembangan inovasi, termasuk komersialisasi teknologi,” tegas
Syahrul.
Kepala Balitbangtan, Fadjry Djufry menambahkan kegiatan Ekspose
Inovasi Tanaman Hias bisa menjadi wahana pertemuan antar stakeholder
tanaman hias dalam rangka akselerasi inovasi florikultura untuk
kesejahteraan dan urban farming yang modern, mandiri, dan berdaya
saing. Dalam lima tahun terakhir, lanjutnya, kegiatan riset
florikultura telah menghasilkan inovasi unggulan yang dapat
dikembangkan para pengguna untuk mendukung pembangunan agribisnis
florikultura.
“Hingga saat ini telah dihasilkan sekitar 268 varietas unggul baru
tanaman hias, yang terdiri atas varietas krisan, anggrek, lili,
anthurium, mawar, gladiol, gerbera, tapeinochilus, zingiber, alpinia,
anyelir, sedap malam, dan impatiens. Bahkan, pada 2010, Balithi
berhasil meraih rekor MURI sebagai institusi pelepas varietas
terbanyak dalam kurun satu tahun sebanyak 25 varietas,” katanya.
Fadjry menjelaskan inovasi teknologi lainnya adalah teknologi
perbanyakan benih tanaman hias secara in vitro, massalisasi benih
anggrek melalui teknologi embriogenesis somatik berbasis bioreaktor,
teknologi night break, pemupukan, dan pengendalian hama/penyakit
secara terpadu. Produk unggulan Gliokompos dan Bio Nutri saat ini
telah dipatenkan dan dilisensikan, bahkan varietas Puspita Nusantara
telah diekspor ke luar negeri seperti Jepang, Jeddah, dan Kuwait.
“Produk unggulan Balithi ini mampu memberikan economic benefit dan
social impact yang cukup besar. Varietas unggul krisan Balithi,
misalnya, mampu menggantikan sekitar 35 persen dari total varietas
yang beredar di pasar dalam negeri. Disamping itu, Balithi melalui
UPBS sudah mengedarkan benih sumber krisan sebanyak 7 jutaan benih
yakni 30 persen dari jumlah benih yang beredar,” ungkapnya.
Perlu diketahui, inovasi teknologi pendukung pengembangan krisan
Balithi memberikan dampak kenaikan produksi 18 hingga 20% dari
produksi krisan nasional. Apabila dirupiahkan, secara keseluruhan
inovasi teknologi Balithi (varietas, benih, teknologi produksi), maka
dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, Balithi telah memberikan
kontribusi pada industri florikultura Indonesia sebesar Rp 311,6
miliar, dengan nilai RoI (Return of Investment) 2,30.
Dikesempatan yang sama, Anggota Komisi IV DPR RI, Endang Setyawati
Thohari mengatakan sangat bangga melihat hasil hasil penelitian dari
Balitbang Kementan dan mendukung penuh program Mentan Syahrul Yasin
Limpo dalam mendorong inovasi teknologi pertanian untuk peningkatan
produksi yang berdaya saing. Oleh karena itu, Komisi IV DPR RI
mendorong penuh penambahan anggaran untuk Kementan di bidang rekayasa
genetika atau Litbang.
“DPR akan memberikan dukungan perlunya penambahan anggaran karena
sementara ini anggaran di Badan Litbang pertanian sangat rendah hanya
5 persen dari seluruh anggaran kementerian pertanian,” ucapnya.
“Saya mewakili anggota komisi IV DPR RI ingin mendorong rekayasa
genetika bunga ini untuk lebih populer lagi dan bisa dikembang untuk
ekspor kedepan ke negara negara lain,” tambah Endang.
Sumber foto : laman resmi Kementerian Pertanian