Pacu Produksi Ikan Bubara untuk Penuhi Pasar Ekspor

Jakarta (Indoagribiz)— Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) mendorong peningkatan produktivitas budidaya ikan bubara (Caranx sp.) untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan pasar ekspor. Dikarenakan rasanya yang lezat, ikan laut yang dikenal dengan sebutan ikan kuwe ini, memiliki pangsa pasar cukup tinggi.

 “Melalui kegiatan perekayasaan yang cukup panjang, ikan bubara telah berhasil dibenihkan secara massal oleh tim teknis BPBL Ambon sejak tahun 2018, setelah sebelumnya kebutuhan akan ikan bubara di pasar hanya dipenuhi oleh hasil tangkapan dari alam,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Tb Haeru Rahayu dalam keterangan persnya, di Jakarta, Jumat (17/9).

Tb Haeru Rahayu mengatakan, pada tahun 2020 BPBL Ambon berhasil memproduksi calon induk ikan bubara sebanyak 149 ekor. Kemudian menyebarkan calon induk tersebut dalam bentuk  bantuan sebanyak 23 ribu ekor benih ikan bubara kepada pembudidaya di wilayah kerjanya.

Ikan bubara merupakan komoditas perikanan laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi karena sangat digemari oleh masyarakat Indonesia Timur khususnya. Hampir semua restoran yang ada di wilayah timur menyajikan ikan bubara sebagai menu khas sebab rasanya yang dikenal lezat.

Tebe sapaan Tb Haeru  menjelaskan, selain mengembangkan teknik pembenihan untuk menghasilkan benih berkualitas tinggi, BPBL Ambon juga menyempurnakan teknologi pembesaran ikan bubara di Karamba Jaring Apung (KJA).

“Dukungan dalam bentuk bantuan benih maupun pendampingan teknologi kepada pembudidaya akan terus kami dorong agar lebih banyak pembudidaya yang merasakan manfaat ekonomi dari ikan bubara,” kata Tebe.

Perekayasa Ahli Madya BPBL Ambon, Hariyano yang telah berkecimpung dalam kegiatan budidaya ikan bubara sejak tahun 2008 menjelaskan,  ikan bubara menjadi salah satu komoditas favorit pembudidaya KJA di Maluku karena laju pertumbuhannya yang cepat yakni hanya membutuhkan waktu 5-6 bulan untuk mencapai ukuran konsumsi. Selain itu, ikan ini juga tahan akan penyakit, mudah diberi pakan dan tingkat kelangsungan hidupnya tinggi hingga mencapai 90%.

“Ikan bubara ini juga memiliki harga jual yang cukup tinggi. Seperti di Kota Ambon yang mencapai Rp 65 ribu – Rp 80 ribu per kg untuk size ikan 2-3 ekor per kg. Harga jual ini juga cukup stabil bahkan tidak terpengaruh oleh pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak tahun lalu sehingga semakin banyak pembudidaya yang melirik peluang usaha pembesaran ikan bubara di KJA ini,” kata Hariyano.

Menurut Hariyano, kualitas perairan yang baik menjadi salah satu kunci dalam usaha pembesaran ikan bubara dan Provinsi Maluku dianugerahi kondisi perairan yang cocok untuk memaksimalkan pertumbuhan ikan bubara. Hal ini menyebabkan kegiatan pembesaran ikan bubara di KJA berkembang dengan cepat di Kota Ambon, Kabupaten Seram Bagian Barat, Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara.

“Apalagi dengan daya serap pasar yang tinggi, masyarakat menilai pembesaran ikan Bubara ini cukup menjanjikan sebagai diversifikasi komoditas selain kerapu yang juga mereka budidayakan di KJA walaupun saat ini pemasaran ikan bubara masih  berfokus pada pasar lokal karena sifat ikan bubara yang merupakan ikan pelagis sehingga cukup sulit untuk dapat dikirimkan dalam jumlah yang besar,” katanya.

Hariyano menjelaskan salah satu tantangan yang dihadapi dalam pembesaran ikan bubara ialah harus ekstra hati-hati saat bersentuhan langsung dengan ikan tersebut. Jika tidak dilakukan dengan ekstra hati-hati, dapat melukai ikan yang bisa mengakibatkan kematian. Untuk mengatasi hal tersebut, Hariyano menganjurkan kepada pembudidaya untuk dapat menggunakan jaring khusus yang terbuat dari kain untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan.

“Kami mengupayakan agar teknologi terkait budidaya ikan bubara dapat makin dikuasai sehingga produksinya semakin meningkat dan semakin banyak pembudidaya yang menguasai teknik budidaya ikan ini,” paparnya.

Atas jasanya dalam mengembangkan teknologi pembesaran ikan bubara di KJA sebagai model usaha berbasis teknologi sederhana di kawasan Maluku, Hariyano dianugerahi Tanda Kehormatan Satyalancana Wira Karya dari Presiden Joko Widodo. Ia dinilai aktif dalam berbagai uji coba untuk memperoleh teknologi budidaya yang baik dari segi penggunaan wadah, jumlah padat tebar, jenis pakan yang digunakan, frekuensi pemberian pakan, dosis pakan yang ideal, teknik transportasi, teknik grading, teknik pergantian jaring dan lain sebagainya.

Potensi Pasar Masih Terbuka

Sementara itu Ketua Kelompok Waiheru Sejahtera, Mansir, yang merupakan salah seorang pembudidaya ikan di Teluk Ambon mengatakan, ikan bubara menjadi salah satu komoditas yang disukai oleh pembudidaya KJA di Teluk Ambon karena permintaan pasar yang tinggi terutama di Kota Ambon. Ikan ini  juga mudah dibudidaya, karena tingkat kelulushidupan yang tinggi mencapai hingga 90%.

“Tingginya permintaan pasar masih belum dapat dipenuhi oleh kami pembudidaya di Teluk Ambon, sehingga area pengembangan masih terbuka sangat luas, apalagi ikan bubara juga memiliki harga jual yang cukup bagus,” jelas Mansir.

Dari usaha budidaya ikan bubara yang digeluti, kelompok yang beranggotakan 10 orang dan telah melakukan usaha budidaya sejak tahun 2010 ini bisa menghasilkan omzet hingga Rp 100 juta per siklus dengan melakukan penebaran benih sebanyak 15 – 17 ribu ekor dan masa pemeliharaan selama 7-8 bulan. Dari omzet tersebut, masing masing anggota dapat mengantongi keuntungan bersih sebesar Rp 3-4 juta per bulan.

“Beberapa kendala yang kami hadapi dalam budidaya ikan bubara adalah kenaikan harga pakan di musim tertentu dan perubahan cuaca ekstrim yang terlalu panas atau hujan yang terlalu sering. Selain itu proses penyortiran juga memiliki peran penting agar tidak menghambat pertumbuhan ikan yang lebih kecil,” kata Mansir.

Mansir juga menyampaikan terima kasih atas perhatian yang diberikan oleh KKP maupun Dinas Perikanan setempat kepada para kelompok pembudidaya di Teluk Ambon dengan menyalurkan bantuan berupa sarana dan prasarana budidaya, benih maupun pakan ikan.

“Kami juga berharap BPBL Ambon dapat memproduksi benih secara kontinu agar kegiatan budidaya ikan bubara yang kami lakukan dapat berkelanjutan,” kata Mansir.

Sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan perikanan budidaya merupakan subsektor perikanan yang terus digenjot produktivitasnya. Untuk mencapai peningkatan produksi dan kualitas komoditas yang dihasilkan, Menteri Trenggono menjalankan tiga program terobosan KKP 2021-2024 di mana dua di antaranya berkaitan dengan perikanan budidaya.

Program terobosan tersebut meliputi pengembangan perikanan budidaya untuk peningkatan ekspor yang didukung riset kelautan dan perikanan, serta pembangunan kampung-kampung perikanan budidaya di wilayah pedalaman, pesisir dan laut berbasis kearifan lokal serta terintegrasi dari hulu sampai hilir guna menumbuhkan perekonomian masyarakat. (ind)

Sumber Foto. Dok: Humas Ditjen Perikanan Budidaya