INDOAGRIBIZ–Kementerian Pertanian terus berupaya untuk mendorong peningkatan ekspor obat hewan ke negara-negara mitra. Upaya tersebut dilakukan dengan  cara mendorong para pelaku usaha untuk menerapkan Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik (CPOHB) dan perbaikan regulasi.

Upaya ini ternyata membuahkan hasil dengan meningkatnya nilai ekspor obat hewan Indonesia  tiap tahun. I Ketut Diarmita selaku Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian mengatakan, Ditjen PKH telah mengeluarkan Surat Persetujuan Pengeluaran – Keluar (SPP-K) ekspor obat hewan senilai Rp 27,674 triliun.

“Tahun 2017, angka ekspor obat hewan meningkat sebesar Rp 1,3 triliun atau 5 persen dari ekspor pada tahun 2016,” tandas dia sebagaimana dikutip laman resmi Kementerian Pertanian, Senin (12/2).

Jenis obat hewan yang diekspor adalah sediaan biologik, farmasetik dan premiks. Jenis sediaan biologik yang diekspor antara lain vaksin AI, ND, IB, IBD, ILT, Coryza, EDS dan Fowl Fox. Jenis sediaan farmasetik yang diekspor adalah obat antelmentika, antidefisiensi, antibakteria, antiprotozoa, antiseptika dan desinfektansia. Jenis sediaan premiks yang diekspor antara lain asam amino (L-Threonine, Lysine Monohydrochloride, Lysine Sulphate, L- Tryptophan, L-Arginine).

Volume ekspor obat hewan tahun 2017 adalah sebesar 482.897 ton, sedangkan volume ekspor tahun 2016 adalah sebesar 459.902 ton. Angka ini menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam mendukung ekspor obat hewan dengan kenaikkan yang cukup signifikan yaitu sebesar 22.995 ton (5%) dibandingkan dengan jumlah ekspor obat hewan tahun 2016 adalah sebesar 459.902 ton. Volume impor tahun 2017 adalah sebesar 113.493,84 ton, sedangkan volume impor tahun 2016 adalah sebesar 194.168 ton, artinya terjadi penurunan impor sebesar 80.674.16 ton (41,5 %).

I Ketut menuturkan, dengan diterapkannya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) pada tahun 2016 dan seiring pesatnya perkembangan teknologi obat hewan, menyebabkan Indonesia menghadapi tantangan untuk meningkatkan produksi dan ekspor obat hewan.

Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Direktur Kesehatan Hewan menambahkan, ekspor obat hewan sampai dengan tahun 2017 telah berhasil menembus 57 negara, yang tersebar di 4 benua yaitu Eropa, Amerika, Asia dan Afrika. “Dalam kurun waktu satu tahun ini Pemerintah telah berhasil meningkatkan jumlah Produsen obat hewan sebanyak 3 produsen,” kata Fadjar Sumping.

Ia mengungkapkan, pada tahun 2016 Indonesia mempunyai 90 produsen dan di Tahun 2017 ini naik menjadi 93 produsen obat hewan. Dari 93 perusahaan tersebut sebanyak 51 perusahaan sudah mendapatkan sertifikat CPOHB, 42 perusahaan belum mengajukan CPOHB dan 21 perusahaan dalam proses CPOHB.

“Ditjen PKH selaku regulator terus berupaya untuk meningkatkan standar penerapan Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik (CPOHB) kepada para produsen, sehingga kualitas mutu obat hewan yang dihasilkan sesuai dengan standar Good Manufacturing Practices (GMP) Internasional, dan mampu berdaya saing dalam perdagangan internasional,” pungkas dia. [moh]

Foto : laman resmi Kementan