Nilai Ekspor Komoditas Perkebunan Meningkat 44,8 Persen

 Jakarta (Indoagribiz) — Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks) yang diinisiasi Kementerian Pertanian (Kementan) hingga 2024 , terus digaungkan. Guna merealisasikan program tersebut, Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementan sudah melakukan pemetaan dan mengembangkan komoditas perkebunan potensial untuk ekspor. Bahkan, ekspor sejumlah komoditas  perkebunan di tengah pandemi covid 19 tumbuh positif. Tercatat, pertumbuhan ekspor dari 2020 dan 2021 (Januari-Juni), volumenya naik 3,4 persen. Sedangkan nilanya naik sebesar 44,8 persen.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2HP), Ditjen Perkebunan, Dedi Junaedi mengatakan, diantara komoditas penyumbang ekspor terbesar dari 2020 dan 2021 (Januari-Juni) adalah kelapa sawit. Pada 2020 volumenya mencapai 16,15 juta ton, dan pada 2021 sebanyak 16,66 juta ton, atau naik 13,2 persen.  Sedangkan nilainya, pada tahun 2020 sebesar US$ 8,49 dan pada 2021 sebesar US$ 13,0 miliar, atau meningkat  53,2 persen.

Kemudian disusul ekspor komoditas karet pada tahun 2020 volumenya sebesar 1,13 juta ton, dan pada 2021 sebesar 1,25 juta ton, atau naik 11,1 persen. Sedangkan nilainya pada tahun 2020 sebesar US$ 1, 52 miliar dan pada tahun 2021 sebesar US$ 2,12 miliar, atau  meningkat 38,9 persen.

Begitu juga untuk ekspor kelapa pada tahun 2020 volumenya tercatat sebanyak 988,3 ribu ton, dan pada 2021 sebanyak  993,7 ribu ton, atau meningkat sebanyak 0,5 persen. Sedangkan nilainya pada tahun 2020 sebesar US$ 519,2 juta dan pada 2021 sebesar US$ 794,3 juta, atau meningkat sebesar 53 persen.

Komoditas ekspor perkebunan lainnya yang juga menjadi penyumbang devisa negara diantaranya  mete, sagu, kakao, kopi, teh dan kayu manis. Komoditas perkebunan prioritas ekspor ini akan terus dikembangkan dari hulu-hilir.

Dedi Junaedi mengungkapkan, ekspor komditas perkebunan di tengah pandemi covid 19 cukup menjanjikan dan berpeluang untuk terus meningkat. Ditjenbun Kementan juga mencanangkan Gerakan Peningkatan Produksi, Nilai Tambah dan Daya Saing (Grasida) untuk mendukung Gratieks.

“ Implementasi program tersebut diantaranya dengan  pengembangan logistik perbenihan, peningkatan produkitivitas, peningakatan nilai tambah, daya saing dan ekspor, modernisasi perkebunan, pembiayaan melalui KUR, meningkatan  kapasitas SDM dan optimalisasi jejaring stakeholder,” kata Dedi Junaedi, dalam webinar, di Jakarta, Senin (8/11).

Dedi mengatakan,  untuk meningkatkan ekspor hingga tiga kali lipat kurun lima tahun ke depan diperlukan peningkatan produksi yang signifikan dan bernilai tambah. Selain peningkatan produksi, diperlukan juga penguatan hilirisasinya. Misalnya, untuk kopi yang produktivitasnya hanya 0,7 ton/ha, nantinya bisa didorong sampai 2 ton/ha.

Selain menguatkan daya ungkit di hilir, Ditjenbun Kementan telah melakukan pemetaan dan mengembangkan sejumlah komoditas perkebunan yang potensial untuk ekspor di sejumlah sentra perkebunan. Pertama, mengembangkan komoditas utama yakni kopi, kakao, kelapa, jambu mete, lada, pala, vanili, kayu manis, cengkeh dan teh. Kedua komoditas andalan yaitu, sawit dan karet. Ketiga komoditas pengembangan seperti nilam, sagu, stevia, pinang, lontar, sereh wangi dan beberapa komoditas lainnya.

Sejumlah komoditas perkebunan yang sudah dipetakan tadi akan didorong pengembangannya dari hulu-hilir. Melalui strategi pengembangan tersebut, sejumlah komoditas perkebunan tadi diharapkan mampu menopang devisa negara kurun lima tahun ke depan.

“ Ditjenbun juga mendorong pertumbuhan ekspor sejumlah komoditas dengan memperbaiki sistem budidayanya sesuai good agriculture practices (GAP), hingga pengolahannya. Dengan begitu, produktivitasnya meningkat dan petani punya nilai tambah,” jelasnya.

Dedi mencontohkan, untuk petani kopi diharapkan tak sekadar menjual hasil panennya berupa kopi chery. Kendati dengan menjual kopi chery saja petani sudah untung, namun untuk mendapatkan nilai tambah, petani kopi didorong mengembangkan produk kopi yang sudah diolah, seperti green bean. Begitu juga untuk petani yang membudidaya rempah,  seperti pala dan cengkeh tak sekedar ekspor dalam bentuk raw material. Paling tidak, mereka sudah mengolah hasil tanamannya menjadi olahan setengah jadi, sehingga ada nilai tambahnya.

“ Untuk tanaman rempah, di hulunya juga kita dorong produktivitasnya. Jika sebelumnya produktivitansya berkisar 0,6-0.8 ton/ha, melalui peremajaan dan pola tanam yang baik sesuai GAP,  diharapkan produksinya bisa meningkat 2-3 ton/ha,” kata Dedi.

Menurut Dedi,  hingga saat ini 60 persen ekspor komoditas perkebunan berupa fresh product atau raw material. Ditjenbun Kementan ke depannya mendorong petani (pekebun) untuk memgembangkan ekspor produk turunannya dan menggali potensi ekspor komoditas perkebunan lainnya.

Dedi memberi contoh, untuk komoditas kelapa, petani diharapkan jangan hanya menjual kelapa dalam bentuk butiran. Kelapa bisa diolah menjadi kopra putih dan diversifikasi usaha lainnya, petani akan mendapat nilai jual yang tinggi. Bahkan, petani bisa mengolah air kelapa menjadi bahan untuk olahan nata, tempurungnya untuk bahan baku arang. Begitu juga sabut kelapanya bisa diolah menjadi bahan baku ekspor bernilai ekonomi tinggi. (ind/Humas Ditjenbun)

Sumber Foto. Dok: indarto