Mesin Penyimpan Inovasi Balitbangtan Jadikan Cabai Tahan 30 Hari
Jakarta – Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan)
Kementerian Pertanian melakukan inovasi teknologi dengan mengembangkan
mesin yang mampu menyimpan cabai hingga tahan selama 30 hari.
Teknologi terbaru yang diberi nama CAS Mini otomatis tersebut memiliki
kapasitas simpan cabai hingga mencapai 2-3 ton serta mampu menekan
tingkat kerusakan hanya 10 persen
Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen (BB
Pascapanen) Balitbangtan Prayudi Syamsuri mengatakan, cabai merupakan
salah satu komoditas penyebab inflasi nasional, terlebih di masa
pandemi COVID-19 karena kontrol yang tidak terus menerus sehingga
memperburuk kondisi komoditas sayur tersebut.
“Rantai pemasaran yang cukup panjang sedikitnya melibatkan lima
stakeholder, mulai dari petani hingga ke tangan konsumen menjadikan
tingginya risiko kerusakan cabai,” katanya melalui keterangan tertulis
di Jakarta, Kamis (6/8).
Oleh karena itu, lanjutnya, diperlukan sistem penyimpanan skala kecil
hingga skala menengah yang bisa digunakan oleh petani sebelum produk
cabai mereka diangkut ke pasar induk.
Menjawab persoalan klasik tersebut, sejak 2017, BB Pascapanen,
tambahnya, telah mengembangkan teknologi proses penyimpanan berbiaya
operasional rendah di tingkat primer (petani).
Mesin penyimpan yang diberi nama sistem CAS atau Controlled Atmosphere
Storage karya peneliti BB Pascapanen tersebut bisa menyimpan cabai 2 –
3 ton dengan umur simpan 3 – 4 minggu.
Selain kapasitas menengah, pihaknya juga menyediakan sistem CAS-Mini
berkapasitas 20 kg.”Mesin ini mengontrol suhu di dalam kabin
penyimpanan pada suhu 7 derajat Celsius sehingga mampu memperlambat
proses pembusukan,” katanya.
Generasi pertama mesin penyimpan tersebut, kata Prayudi, masih
menggunakan aliran gas manual yang diatur setiap hari dengan kapasitas
20 kg, hasilnya, umur simpan cabai keriting bisa tahan 4 – 5 minggu
dengan kerusakan cukup minimal.
Sayangnya, lanjut Prayudi, selain kapasitasnya yang kecil, pengaturan
gasnya masih manual dan tingkat pemakaiannya masih boros.
Tahun berikutnya BB Pascapanen mengembangkan teknologi mesin penyimpan
dengan sistem CAS otomatis. Selain pengaturan gas otomatis,
menggunakan aliran gas tabung, kapasitasnya pun sudah meningkat hingga
40 kg dan dikombinasikan dengan teknologi MAS (Modified Atmosphere
Storage).
“Pengaturan gas, monitoring karbon dioksida dan oksigen pada CAS
otomatis dilakukan oleh sistem. Konsumsi gas pun lebih irit dan
tingkat presisi karbon dioksida dan oksigen termonitor pun sudah jauh
lebih baik dari generasi sebelumnya,” ujarnya.
Kepala Balitbangtan, Fadjry Djufry mengatakan, pihaknya sudah
menyiapkan mesin penyimpan generasi ketiga yang berkapasitas 2-3 ton,
sehingga bisa menampung cabai petani namun pengumpul sekaligus di
sentra produksi.
Mesin penyimpan generasi ketiga ini dinamain CAS midi system, selain
kapasitasnya lebih besar, juga tidak lagi menggunakan gas tabung atau
elpiji (liquefied petroleum gas), namun menggunakan gas generator
sehingga biayanya lebih hemat.
“Dari hasil uji komisioning yang telah kita lakukan, cabai keriting
yang diaplikasikan denga teknologi CAS dapat bertahan selama 30 hari
dengan tingkat kerusakan dibawah 10 persen,” ujar Fadjry.
Mesin penyimpan CAS midi system, lanjutnya, diharapkan bisa memenuhi
kebutuhan penyimpanan di tingkat sentra produksi saat harga cabai
jatuh. Selain itu juga dapat menjadi penyangga stok saat pasokan cabai
bergejolak.
“Kementan siap menyediakan mesin penyimpan dalam jumlah memadai di
tingkat sentra produksi cabai (STD),” katanya.