IndoAgribiz(Bandung). Mengutip laman Trobos.com, Belum banyak orang yang meilirik bisnis budidaya ikan sapu-sapu maupun lobster hias air tawar. Adalah Ari Solahudin pembudidaya ikan hias di Kampung Inunuk Tanjung wangi, Pacet Bandung yang mengembangkan budidaya keduanya sejak 2011 lalu.

Ia menginformasikan, saat ini permintaan untuk ikan sapu-sapu jenis pleco L144 yang datang padanya mencapai 5.000 ekor per hari. Padahal ia baru mampu memproduksi sekitar 1.000 ekor per minggu. ”Permintaan sangat tinggi cuma barangnya susah, akhirnya saya coba mengajak pembudidaya di sekitar untuk produksi ikan ikan sapu – sapu juga,” tutur Ari.

Saat ini lelaki asli Bandung ini baru memiliki 20 orang plasma yang juga membudidayakan ikan sapu-sapu, namun tetap saja belum mampu memenuhi permintaan yang datang. Ari bersama plasmanya baru mampu memproduksi 3.000 ekor ikan sapu–sapu per minggu yang permintaannya mencapai 35 ribu ekor per minggu atau 5 ribu ekor per hari. Permintaan ikan sapu-sapu yang sangat besar ini menurut Ari sebagian besar untuk diekspor ke Singapura dan Eropa.

Guna menangkap peluang besar ini, ia menambah akuarium dan memperbanyak jumlah plasmanya melalui forum ikan hias Kabupaten Bandung. ”Saya siap untuk membantu memberikan pelatihan memelihara ikan sapu-sapu nya sekaligus memfasilitasi akses pasarnya, jadi kalau ada yang tertarik mau jadi plasma intinya harus serius dan mau belajar,” tutur Ari.

Dari hitung-hitungannya, untuk biaya pakan satu akuarium yang berisi 200 ekor ikan sapu-sapu hanya memerlukan biaya pakan sekitar Rp 40 ribu. Padahal harga ikan sapu-sapu jenis pleco L144 yang ia pelihara dihargai Rp 3.000 per ekor. Artinya dalam satu akuarium bisa didapat Rp 600 ribu, padahal untuk biaya pakan dan listrik serta tenaga kerja tidak sampai Rp 200 ribu per akuarium satu siklus.

”Kalau kita hitung biaya produksinya tidak sampai Rp 1.000 per ekor, untuk pakan hanya butuh Rp 200 per ekor, listrik untuk 50 akuarium paling cuma Rp 300 ribu, tenaga kerja satu untuk 50 akuarium,” tutur Ari merinci. Jika satu akuarium bisa memperoleh margin Rp 400 ribu, maka kalau ada 50 akuarium, satu siklus bisa diperoleh margin keuntungan sekitar Rp 20 juta.

Ia mengajak para pembudidaya ikan hias lain untuk ikut membudidayakan ikan sapu-sapu karena pangsa pasarnya yang luas serta margin yang relatif besar. Saat ditanya biaya investasi yang perlu dikeluarkan, menurut Ari investasinya relatif murah cukup akuarium, pompa aerator, dan indukan yang dijual Rp 500 ribu satu paket. ”Kalau mau mulai kecil-kecilan 3 – 4 akuarium modal awal satu dua juta juga cukup, hasilnya lumayan perputarannya cepat hanya 50 hari tapi memang harus telaten tidak bisa asal-asalan,” terang Ari.