Mentan SYL Panen Padi di Indramayu, Stok Beras Melimpah
Indramayu – Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL)
melakukan panen padi sekaligus menjamin ketersediaan pupuk untuk
petani di Kabupaten Indramayu. Dalam kunjungan ini pun, Mentan SYL
menyalurkan bantuan untuk Kabupaten Indramayu senilai Rp 19,2 miliar.
“Indramayu adalah pertanian percontohan yang ada dan terbaik di
seluruh Indonesia. Kehadiran saya ini sesuai dengan perintah Bapak
Presiden Jokowi, agar selalu turun ke petani dan menyelesaikan cepat
masalah. Produksi pangan harus tetap terjaga walau dihadapkan pada
tantangan apapun,” ucap Mentan SYL dalam acara panen padi di Desa
Karang Tumaritis, Kecamatan Hautgeulis, Kabupaten Indramayu, dikutip
dari laman resmi Kementerian Pertanian, Rabu (9/9).
Ia menegaskan sektor pertanian saat ini menjadi penopang perekonomian
Indonesia. Sesuai data BPS pada kuartal II PDB sektor pertanian
mencapai 16,4 persen sehingga menjadi sektor yang mampu menyerap
tenaga kerja khususnya dimasa pandemi Covid-19.
“Besok perdagangan yang terbuka adalah pertanian artinya sektor
pertanian juga membuka lapangan kerja sehingga siapa saja yang mau
berkeringat, siapa saja yang mau dapat uang maka turun ke lapangan.
Kerja di pertanian sangat terbuka,” ujar SYL.
SYL menjelaskan ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan dalam
sektor pertanian diantaranya sistem irigasi, varietas bibit unggul
yang digunakan, kecukupan pupuk serta SDM petani yang mau bekerja di
sawah. Untuk membangun pertanian yang maju, mandiri dan modern,
Kementerian Pertanian (Kementan) membentuk korporasi pertanian yang
ditunjang oleh fasilitas permodalan atau dana Kredit Usaha Rakyat
(KUR) dari perbankan dan off-taker yang menjamin harga panen yang
menguntungkan petani.
“Jaga yang ada disini. Menghadapi situasi ekonomi dunia yang melemah
mudah-mudahan Indonesia tetap bangkit makin membaik karena ada
pertanian yang menopangnya dan Indramayu termasuk yang cukup bagus
ini. Kepada para perbankan saya harap support KUR untuk petani. Jangan
ragu,” cetusnya.
Plt. Bupati Indramayu, Taufik Hidayat mengapresiasi kehadiran Menteri
Pertanian Syahrul Yasin Limpo di Indramayu sebab secara langsung dan
cepat menyelesaikan kebutuhan pupuk untuk petani sehingga pada musim
tanam gadu (musim tanam II) ini tidak terjadi kelangkaan pupuk dan
produksi padi dipastikan aman. Upaya nyata Kementan sangat berdampak
terhadap peningkatan produksi dan mempertahankan Indramayu sebagai
kabupaten tertinggi produksi besar.
“Saat ini, sebahagian lahan sawah di Kabupaten Indramayu sedang
menghadapi pertanaman musim tanam kedua dan sebagian wilayah sudah
panen. Pak Menteri datang kesini, Alhamdulilah ketersediaan pupuk bagi
petani Indramayu aman,” ujarnya.
“Dengan perhatian khusus yang diberikan Pak Mentan SYL, saat ini
Kabupaten Indramayu sedang melakukan penyesuaian e-RDKK sehingga
kebutuhan petani untuk musim tanam kedua ini terselesaikan,” pinta
Taufik.
Taufik menyebutkan lahan sawah di Indramayu seluas 117.686 hektar.
Lahan pertanian padi merupakan komoditi unggulan di Kabupaten
Indramayu dan juga merupakan komoditas unggulan nasional tingkat
produksi padi Kabupaten Indramayu rata-rata dalam 5 tahun terakhir
yaitu 1,5 juta ton gabah kering.
“Alhamdulillah Kabupaten Indramayu mendapat peringkat pertama nasional
sebagai produsen beras tahun 2019. Ini berkat dukungan dari
Kementerian Pertanian yang selalu bantu petani,” cetusnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi mengatakan
Kementan di bawah Mentan SYL tidak hanya menyalurkan bantuan fisik
untuk Indramayu. Namun untuk lebih meningkatkan produksi dan
kesejahteraan petani kini sedang diperkuat kelembagaan petani, para
kelompok tani dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) bersatu membentuk
korporasi.
“Petani padi di Indramayu sudah tanam IP200 bahkan ada yang IP300,
sebagai sentra utama padi bersama 88 kabupaten lainnya. Ini sudah
terbentuk satu korporasi petani padi sebagai kesatuan klaster skala
ini luas 10.000 hektar pada 150 kelompok tani di 5 kecamatan,”
terangnyam
Menurut Suwandi, manfaat korporasi ini yakni guna melindungi dan
memberdayakan petani karena ada kepastian pasokan sarana produksi
(saprodi), mekanisasi, modal dari KUR klaster dengan korporasi sebagai
off-taker, ada asuransi, maupan kepastian pasar dan harganya, sehingga
petani tidak lagi menjual gabah, tetapi beras satu pintu korporasi.
“Sesuai dengan kebijakan Mentan SYL, kami berharap model korporasi ini
direplikasi di daerah daerah lain. Kedepan kita tak hanya swasembada
tapi juga perlebar ekspor pangan,” tandas Suwandi.