INDOAGRIBIZĀ (Barito Kuala) – Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, optimis, kebijakan optimasi lahan rawa lebak serta pasang-surut akan mensejahterakan masyarakat Kalimantan. Permasalahannya adalah selama ini tak maksimal diberdayakan sebagai lahan produktif dan sumber pendapatan.

“Enggak ada alasan orang Kalimantan miskin dan menganggur. Kami datang untuk membunuh kemiskinan dan pengangguran itu,” ujar dia di sela-sela meninjau lokasi optimasi lahan rawa lebak di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Mandas Tana, Barito Kuala, Kalimantan Selatan, dikutip dari laman resmi Kementerian Pertanian, Jumat (13/4).

Kementerian Pertanian (Kementan) mencanangkan optimasi satu juta hektar lahan rawa lebak dan pasang-surut di sembilan provinsi. Di antaranya, Riau, Kalimantan Tenggara, Sumatera Selatan, Kalsel, Jambi, Papua, serta Kalimantan Tengah.Diperkirakan untuk Kalimantan Selatan saja, optimasi lahan rawa seluas 67 ribu hektar.

Amran menaksir, optimasi rawa bakal menghasilkan Rp 60 triliun. Perhitungannya, indeks pertanaman mencapai tiga kali dalam setahun (IP-3) pada satu juta hektare lahan tersebut.

Produktivitas Lahan Rawa

Menteri Amran optimis, produktivitasnya mencapai 6-7 ton per hektar. Ini, merujuk proyek percontohan di Ogan Ilir, Sumsel, di mana produktivitas mula-mula 2-3 ton per hektar menjadi 7 ton per hektar saat musim tanam ketiga.

Di sisi lain, optimasi lahan rawa ini juga bertujuan menjaga kedaulatan pangan hingga 100 tahun ke depan.”Kita harus siapkan makanannya dari sekarang. Kita enggak boleh main-main di sektor pangan,” tegas dia.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Barito Kuala, Noormiliyani AS, berharap, program-program agraria pemerintah pusat tak sekadar di Desa Jejangkit Muara.”Karena Barito Kuala daerah pertanian,” kata dia.

Apalagi, ungkap mantan Ketua DPRD Kalsel ini, antusias masyarakat cukup tinggi. Tak heran optimasi lahan rawa di Desa Jejangkit Muara mencapai 750 hektar.”Tadinya 400 hektare,” ungkap dia.

Sedangkan Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor, menilai, butuh sinergisitas segenap elemen untuk mengoptimasi lahan rawa.”Kalau Pak Menteri sudah alatnya, berarti solarnya dari Ibu Bupati,” ucap dia.

Mengingat Indonesia merupakan negara agraris, menurut dia, semua pihak harus serius mengerjakannya, sehingga, kedaulatan pangan terjaga.”Kita negeri agraris, tapi beli beras di luar negeri. Ini momok dalam rangka menuju masyarakat sejahtera,” ujarnya geram.

“Kita akan menyatu dengan alam. Kita ubah dan hasilkan sesuai (harapan) rakyat Jejangkit. Kita ingin menjadi negeri berdikari, khususnya persoalan pertanian,” tutup Sahbirin. (ms)