INDOAGRIBIZ–Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa tahun ini tidak ada masa pakceklik karena jauh hari Kementerian Pertanian sudah mengantisipasinya dengan melakukan berbagai upaya melalui program jangka panjang dan jangka pendek.

“Insya Allah tidak ada paceklik,” kata Menteri Amran usai melantik 5 pejabat eseon II di lingkup Kementerian Pertanian, sebagaimana dikutip dari laman resmi Kementerian Pertanian, Rabu (20/9).

Menurut Amran, untuk jangka pendek dengan membuat sumur pantek dan pompanisasi air sungai di wilayah potensial, penyediaan benih unggul tahan kekeringan, pengaturan pola tanam, minimalisir risiko kekeringan, penyediaan asuransi usaha tani dan menggenjot pertanaman di lahan rawa, lebak, pasang surut,

Sedangkan jangka panjang melalui program perbaikan irigasi, bantuan alsintan, pembangunan embung, pengembangan tata air mikro di lahan rawa dan pasang-surut, dan bantuan benih tahan kekeringan untuk mengantisipasi potensi kekeringan dan menghindari penurunan hasil produksi petani,” jelas dia.

Untuk menjamin ketersediaan air irigasi, Kementan bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat terkait pembangunan bendungan, DAM, jaringan irigasi primer dan sekunder serta melakukan normalisasi sungai, serta pembangunan irigasi tersier 3,0 juta hektar.

Sedangkan untuk penyediaan air irigasi secara berkelanjutan Kementan juga turut bekerja sama dengan Kementerian Desa dan PDT dalam pembangunan embung di seluruh Indonesia. Di tahun 2017 pemerintah menargetkan akan membangun minimal 11.000 embung dari total 30.000 embung dengan jangkauan 1,5 juta ha hingga 2 juta ha, bahkan untuk mendukung ketersediaan air pada lahan pertanian, Amran telah menyiapkan puluhan ribu pompa air untuk pengairan sawah seluruh Indonesia

Mentan menambahkan, memasuki masa tanam yang tinggal 2 minggu lagi ini harus dikawal dan jaga ketat agar berjalan dengan baik. “Masa kritis itu Juni sampai Desember dan ini harus diamankan,” kata Mentan.

Sampai saat ini walau ada beberapa wilayah mengalami kekeringan, stok beras aman. “Saya sudah minta agar BPTP mengawal serangan hama dan tidak lengah karena tiga bulan ini sangat genting,” tegas Amran

Ke depan petani akan semakin maju dengan pola pertanian modern, di mana petani tidak menjual gabahnya lagi tapi nantinya jadi beras. Polanya saham petani 49 persen, benih dia buat sendiri dan ini diasuransikan sendiri dan BUMN sebagai pembina 51 %. Petani semua akan gunakan alsintan, sehingga yang tadinya biaya  Rp 2 juta bisa jadi  Rp 1 juta, ada penghematan pengeluaran. Semua bisa akses bank karena yang ambil berupa korporasi, berupa sekelompok petani dikorporasikan/kelompok tani besar sehingga patahan semakin kecil.

Menurut data Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Pangan, Kementan, tercatat luas kekeringan pada pertanaman padi Musim Kemarau 2017 (periode April – Agustus) hanya 5.379 ha. “Jumlah ini hanya 0,11% dari total keseluruhan areal tanam pada periode yang sama 4.869.051 ha,” papar Mentan. [MOH]

Foto : actual.com